Senin, Mei 17, 2021

Muslim Kiri, Adakah?

Istri Gus Dur dan Gerakan Multikultural di Bulan Ramadhan

Selama bulan ramadhan ini, istrinya Alm. Gus Dur, yaitu ibu Sinta Nuriyah Wahid mengadakan buka sahur di berbagai daerah di Indonesia. Tema yang diusung...

Cebong Versus Kampret

Siapa yang tidak tahu cebong, hewan yang disematkan pada anak kodok yang masih kecil, berwujud tidak jauh beda dengan ikan yang masih kecil, hidupnya...

Perempuan Penghayat Kepercayaan, Diskriminasi Hingga Aksi

Indonesia lahir dan tumbuh dalam ribuan nafas kehidupan budaya. Keberadaan budaya sudah selayaknya karakter bangsa yang bahkan kehadirannya di Indonesia mendahului agama. Namun, apa...

Ejekan Evolusi Bukan Soal Personal Lagi

Saya kerap menemukan tulisan-tulisan unik di tiap lembar uang yang saya terima. Sering saya temukan nomor hp atau kontak aplikasi chatting disertai guyonan-guyonan mesum...
Aditya Budi
Peminat isu-isu pemberdayaan sosial

Sejak sosialisme didaulat sebagai “ideologi kiri” maka segala gerakan yang bercorak sosialistik hampir selalu diafiliasikan dengan Marxisme-Leninisme. Meski sebenarnya tidak selalu demikian, dalam beberapa aspek, “kiri” diposisikan sebagai oposan status quo (sayap kanan).

Kiri juga tak melulu tentang sejarah kekejaman nan berdarah anarkisme seorang Lenin-Stalin, Mao Zedhong atau bahkan di Indonesia sendiri dengan gerakan G30S/PKI. Kaum Republik yang menentang Ancien Regime di Perancis yang fodalistik – sebelum akhirnya terjadi Revolusi Perancis –  pun disebut sebagai kelompok kiri.

Dialektika Karl Marx melalui pemikiran Hegel dan berlanjut ke Feurbach menghasilkan sebuah gagasan genuine yang khas Sosialisme-Marxisme. Tak salah jika para idelolog Marxisme seolah menjadikan Karl Marx sebagai “nabi” dengan magnum opus-nya Das Kapital yang sekaligus dijadikan sebagai kitab suci para pengikutnya.

Dunia Islam agaknya pernah juga mencatat tokoh-tokoh muslim yang didaku sebagai tokoh berpaham kiri (sosialisme). Mulai dari yang kelas lokal sampai yang internasional. Yang paling populer mungkin adalah Hasan Hanafi dan Ali Syari’ati.

Yang pertama adalah cendikiawan asal Mesir sedangkan yang kedua seorang syi’ah yang berasal dari Iran. Pergolakan pemikiran tokoh Islam kiri sejatinya merupakan bagian dari pencarian sebuah formula pemecahan krisis yang dialami umat muslim – terutama di negeri tempat tokoh tersebut hidup – atas bercokolnya hegemoni imperialisme Barat. Sayid Quthb pun pada awalnya begitu terpesona dengan Sosialisme-Marxisme sebelum akhirnya berbelok arah dan memutuskan menjadi bagian dari Ikhwanul Muslimin.

Hasan Hanafi

Hasan Hanafi muda begitu mengagumi pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Iqbal, Hasan al-Banna hingga Sayid Quthb. Lantas Hasan Hanafi sempat bergabung dengan Ikhwanul Muslimin saat terjadi pergolakan revolusi di Mesir tahun 1952. Hasan Hanafi begitu terpesona dengan sosok Sayid Quthb hingga pernah berucap “Jikalau Sayid Quthb masih hidup di kala itu maka saya pasti akan menjadi murid terbaiknya, dan jika dakwah Ikhwanul Muslimin masih hidup maka saya akan menjadi pemikir dan konseptornya”.

Salah satu karya populer Hanafi yang berjudul “al-Yassar al-Islami” (Kiri Islam) mungkin yang menjadikan dirinya diidentifikasi sebagai seorang muslim kiri. Dalam karyanya yang lain – dalam terjemahan Indonesia – “Aku Bagian dari Fundamentalisme Islam” agaknya Hanafi mencoba memberitahu serta memposisikan dirinya di tengah-tengah yaitu antara Islam fundamental dan sosialisme-radikal. Seakan menimbulkan pertanyaan, apakah seorang Hasan Hanafi hendak menegaskan bahwa ia seorang Ikhwanis-Komunis. Agak sulit mengkonfirmasi itu semua jika tidak dilakukan pembacaan yang mendalam melalui karya-karyanya.

Hasan Hanafi juga menyuarakan pentingnya kajian disiplin ilmu Oksidentalisme (al-Istighrab) sebagai tandingan dari Oreintalisme. Infiltrasi filsafat Barat membuat teologi Hasan Hanafi lebih bercorak teologi antroposentris, tercermin melalui karyanya Dirasah Islamiyah – diterjemahkan ke Indonesia “Islamologi”.

Ali Syari’ati

Beda halnya dengan Hasan Hanafi, Ali Syari’ati yang merupakan cendikiawan asal Iran ini lahir dari sebuah tempaan rezim otoriter yang cenderung monarki-absolut (Syah Pahlevi). Terlepas dari kontroversi epistemik apakah syiah bagian Islam atau bukan, yang jelas pemikiran Ali Syari’ati begitu digrandrungi dan populer serta didaku sebagai tokoh revolusioner. Dibesarkan dengan tradisi khas syi’ah membuat Ali Syari’ati memiliki nalar kritis dan rasional. Melahirkan konsep Rausyan Fikr yang begitu populer, membuat dunia menyandangkannya sebagai seorang sosialis (sosialisme-marxisme). Sama halnya dengan Hasan Hanafi, Syari’ati sempat memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studinya di Universitas Sorbonne Prancis.

Beberapa kalangan menuduh Syari’ati sebagai pengikut rahasia Marxisme. Pada satu sisi Syari’ati berada dalam tradisi Marxisme, khususnya tentang konsepsi masyarakat kelas (proletar-borjuis), aksi politik, sejarah sebagai proses dialektis, serta dalam strategi propaganda revolusi (Hamid Dabashi: 1993). Mencoba menggunakan paradigma Marxisme bukan berarti ia seorang Sosialisme-Marxisme tulen, namun agaknya Syari’ati menemukan referensi yang seakan mampu merepresentasikan situasi sosial-politik Iran saat itu.

Di sisi lain Syari’ati juga mengecam Marxisme yang mewujud sebagai Partai Sosial-Komunis di Soviet. Syari’ati mengecam keras para ulama syi’ah di Iran yang cenderung lembek bahkan menjilat terhadap penguasa Syah Pahlevi. Sikap tersebut menjadikan Syari’ati dikucilkan bahkan karya-karyanya difatwa boikot oleh ulama syi’ah dan penguasa setempat, segala bentuk penjualan dan pembelian buku atau tulisan Syari’ati dilarang (Ali Rahemna: 1996).

Di Indonessia sendiri telah mencatat perjalanan panjang tentang pergolakan paham kiri. Serikat Islam (SI) yang dipimpin sang guru bangsa HOS Cokroaminoto pun sempat terpecah menjadi dua kubu, SI Merah dan SI Putih. SI Putih dihuni oleh kalangan seperti Haji Agus Salim dan SM Kartosoewiryo sementara SI Merah diisi oleh Semaun, Alimin, dan Darsono. Situasi tersebut menunjukan bahwa para founding fathers negeri ini pun mencoba menjadikan Marxisme sebagai basis gerakan pemikiran yang aktual untuk melawan kolonialisme.

Di antara sekian banyak tokoh Islam nasional yang kekirian, salah satunya yang paling fenomenal adalah Haji Misbach (1876-1926). Seorang tokoh masyarakat sekaligus kyai – yang namanya sering disandingkan dengan Semaun atau Tan Malaka – begitu kagum terhadap ajaran sosialisme-komunisme hingga ia dikenal juga sebagai Haji Merah. Hingga timbul kesangsian, bagaimana  mungkin seorang Haji Misbach yang besar dalam tradisi pesantren Kauman Surakarta sangat setia mengamini paham komunisme sebagai doktrin melawan imperialisme Hindia-Belanda. Tentu dia mengamini komunisme sebelum terjadi pemberontakan G30S/PKI

Islamisme-Komunisme begitulah nampaknya yang oleh banyak kalangan tergambar dalam sosok Haji Misbach. “Komunisme mengajarkan untuk menentang kapitalisme, itu tercakup di dalam Islam. Saya menjelaskan hal tersebut sebagai muslim dan komunis” begitulah sepenggal kalimat yang pernah ia tulis.

Lantang mengecam kolonialisme namun juga sempat mengkritik SI Putih sebagai golongan munafik yang berselimut Islam. HOS Cokroaminoto memilih jalur Islam moderat dengan SI Putihnya, sementara Haji Misbach secara radikal bergerak bersama PKI. Namun demikian Haji Misbach tokoh yang membela Islam dengan gigih terhadap marginalisasi umat Islam oleh pemerintah Hindia-Belanda.

Agaknya para tokoh Islam di Indonesai ada kecenderungan usaha mengawinkan antara Islam dan Sosialisme-Marxisme dengan caranya masing-masing. Sejatinya dalam tubuh Islam sendiri telah mewariskan ajaran dan tradisi kiri – jika kiri dimaknai sebagai gerakan sosialistik. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut dalam gelanggang keislaman yang bercorak kiri setidaknya semakin menambah pergulatan dan dinamika pemikiran Islam.

 

Aditya Budi
Peminat isu-isu pemberdayaan sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.