Senin, Juni 17, 2024

Mewujudkan Pendidikan Berkarakter Mahasiswa

Yamema Lovela
Yamema Lovela
Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya Fakultas Adab dan Humaniora prodi Sastra Indonesia

Sebagai generasi milenial, sudah tak asing lagi dengan barang-barang yang berasal dari luar negeri. Tidak seperti dulu yang jarang menemui barang impor beredar di kalangan masyarakat luas. Dunia ini seakan-akan sudah tidak ada sekat pembatas sehingga bukan hanya barang saja melainkan budaya luar negeri juga masuk ke Indonesia. Nyatanya, budaya-budaya barat kini telah membaur dengan budaya asli Indonesia bahkan perlahan budaya barat merajai wilayah Nusantara ini.

Kondisi ini cukup memprihatinkan. Remaja zaman sekarang sudah tak mengenal lagi dengan budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun). Mereka berperilaku seenaknya tanpa menghormati orang-orang yang lebih tua. Mereka melupakan budaya gotong royong, hidup rukun, serta membungkukkan badan ketika lewat di depan orang yang lebih tua. Mirisnya lagi, mereka cenderung melakukan tindakan kriminal di depan umum demi meniru budaya-budaya barat dengan tujuan mendapatkan kesenangannya diri sendiri atau kelompok mereka tanpa memikirkan dampak yang akan diterima oleh masyarakat sekitar.

Tak bisa dipungkiri, globalisasi berjalan dengan cepat dan tidak dihentikan begitu saja. Sementara itu, Bangsa Indonesia harus mempertahankan budaya aslinya yang identik dengan sopan santun serta persatuan dan kesatuan. Tanpa kita sadari, sudah banyak budaya barat yang membaur menjadi satu dengan kehidupan kita. Dengan begitu, mungkin saja budaya asli Indonesia akan luntur begitu saja tanpa kita lestarikan dan mewarisi untuk anak cucu kita di masa depan.

Apa jadinya Bangsa Indonesia jika budayanya hilang begitu saja? Bukankah wilayah Nusantara ini sudah sangat identik dengan budaya timur yang menitikberatkan pada nilai kesopanan? Bagaimanakah nasib anak cucu kita yang sama sekali tidak mengenal budaya asli Indonesia? Mungkin saja, Indonesia akan semakin hancur!

Akhir-akhir ini, telah beredar kabar tentang Citayam Fashion Week yang diikuti oleh para remaja dan diantaranya adalah remaja di bawah umur. Mereka melakukan fashion show di trotoar tanpa memikirkan pengguna jalan lainnya. Mereka berjalan berlenggak-lenggok penuh percaya diri dengan mengenakan pakaian yang tidak mencerminkan pakaian Indonesia yang terkenal pakaian tertutup. Hal ini telah membuat kemacetan lalu lintas di sekitarnya serta wawasan Nusantara juga akan menipis di dalam benak remaja-remaja yang mengikuti trend tersebut.

Bukan hanya itu saja. Telah banyak terjadi tawuran antar pelajar disertai dengan tindakan kekerasan yang nantinya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Hal ini juga akan membuat suasana menjadi mencekam dan tidak harmonis lagi. Padahal Indonesia menjunjung tinggi hidup rukun dan damai. Walaupun dalam hidup ini pasti ada masalah, namun masalah tersebut harus diselesaikan dengan baik tanpa harus ada perbuatan yang membuat suasana menjadi mencekam.

Mengenai hal tersebut, sudah cukup memprihatinkan bagi masa depan Indonesia karena mereka juga lah yang menjadi generasi penerus bangsa. Sudah saatnya kita membekali mereka dengan wawasan tentang budaya Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan. Kita sebagai mahasiswa di era milenial ini sudah saatnya menjadi contoh bagi adik-adik kita agar mereka tetap mencintai bangsa Indonesia.

Salah satu cara untuk kita sebagai mahasiswa Indonesia dalam memberikan wawasan Nusantara kepada adik-adik kita adalah mengabdi pada masyarakat dan menanamkan nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila yang terdiri dari nilai religius, nilai kemanusiaan, nilai persatuan dan kesatuan, nilai musyawarah untuk mencapai mufakat, dan nilai keadilan.

Kelima nilai tersebut harus kita tanamkan di hati kita dan hati adik-adik kita demi masa depan Indonesia yang cerah. Satu lagi, mengenalkan budaya-budaya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke pada mereka untuk memberikan pengetahuan tentang “Bhineka Tunggal Ika” dan mewujudkan pendidikan karakter yang mengutamakan adab dan etika antar sesama manusia.

“Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kayu bakar. Adapun adab tanpa ilmu itu ibarat ruh tanpa jasad.” Sepenggal kata mutiara dari Syaikh Abu Zakaria Yahya ini semestinya kita jadikan pedoman hidup yang dimana dalam kehidupan ini antara ilmu dan adab harus seimbang, tidak berat sebelah. Namun ketika kita sudah mempunyai ilmu, kita harus down to earth (tawadhu’) terhadap sesama. Kenyataannya di luar sana banyak orang yang saat mereka telah mempunyai ilmu, mereka malah melupakan

adab yang semestinya kita lakukan dan bersikap sombong seperti telah mempunyai segalanya padahal kembali ke kata mutiara di atas, ilmu tanpa adab hanyalah sesuatu yang sia-sia.

Yamema Lovela
Yamema Lovela
Mahasiswi UIN Sunan Ampel Surabaya Fakultas Adab dan Humaniora prodi Sastra Indonesia
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.