OUR NETWORK
Senin, Oktober 3, 2022

Mewujudkan Indonesia Tanpa Kelaparan

Poppi Marini
Seorang Ibu Pekerja (ASN) yang masih terus belajar dan belajar

Topik mengenai kemiskinan selalu menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan, walaupun masih sulit untuk dikendalikan. Angka indikator Kemiskinan yang dirilis dapat membuat kepala daerah “kepanasan” jika daerahnya menjadi tiga besar daerah termiskin di Indonesia.

Mengacu ke data Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dihasilkan BPS per september 2021 , penduduk miskin di Indonesia sebanyak 26,50 juta jiwa dan sebanyak 14,64 juta jiwa adalah penduduk yang hidup di pedesaan. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan september 2020 di mana jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 27,55 persen.

Hal itu terjadi karena pada tahun 2020, saat pandemi Covid-19 menyebar dengan cepat di Indonesia sehingga pemerintah pusat dan daerah mengambil kebijakan untuk melakukan pembatasan Sosial berskala besar (PSBB). Sejumlah besar usaha mengalami penurunan pendapatan dan berimbas pada pemutusan hubungan kerja (PHK). Tentu saja hal ini membuat hidup masyarakat makin sulit, dan hidup berada di bawah garis kemiskinan.

Kemiskinan tentu saja berdampak pada hampir seluruh aspek kehidupan dan salah satu dampak yang ditimbulkan adalah sulitnya memenuhi kebutuhan pangan. Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan atau Prevalence of Undernourishment (PoU) adalah salah satu indikator yang digunakan dalam penghitungan SDGs (Sustainable Development Goals) untuk target hidup tanpa kelaparan.

Indonesia memiliki target untuk mewujudkan SDGs tersebut pada tahun 2030. Dengan menggunakan konsep BPS, Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan adalah estimasi proporsi dari suatu populasi penduduk yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan atau asupan kalori sehari-hari untuk memenuhi energi dalam menjalani aktivitas dengan sehat dan aktif yang dinyatakan dalam satuan persentase. Ketidakcukupan atau kekurangan konsumsi kalori yang dimaksud sesuai dengan batasan MDER (Minimum Dietary Energy Requirements).

Pada tahun 2021, sebanyak 8,49 persen dari total penduduk Indonesia hidup dalam kekurangan pangan. Jumlah ini terus meningkat dalam 3 tahun belakang ini. Tahun 2020 nilai ini melonjak tinggi dibandingkan 2019, dari 7,63 persen menjadi 8,34 persen. Selain dampak pandemi pada meningkatnya angka pengangguran juga karena pembatasan impor beberapa jenis bahan baku industri atau bahan pokok mengakibatkan meningkatnya harga barang di Indonesia.

Makin tinggi angka PoU, maka makin tinggi juga jumlah penduduk yang bisa mengonsumsi makanan namun tidak mencukupi kebutuhan energinya. Jika kebutuhan akan membentuk energinya saja kurang, bagaimana dengan gizinya? Tentu saja nilai gizi yang dikonsumsi menjadi jauh lebih rendah. Pola konsumsi seperti ini bisa jadi salah satu penyebab persoalan stunting di Indonesia belum bisa terselesaikan. Selain penyebab stunting, gizi juga memengaruhi kecerdasan sehingga pada masa yang akan datang akan lahirlah generasi-generasi yang sulit bersaing untuk memperoleh kesempatan kerja yang layak. Dengan kata lain mengabaikan kualitas gizi sama dengan mengabaikan kualitas generasi pada masa yang akan datang.

Masyarakat dengan pendapatan rendah cenderung memilih mencukupi kebutuhan karbohidrat dibandingkan kecukupan protein, vitamin dan mineral. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat tentang kebutuhan gizi lainnya atau kesulitan mengakses makanan pelengkap lainnya karena kurangnya ketersediaan bahan makanan dan harga yang tinggi. Namun, perlu kita ketahui juga bahwa selain dua alasan di atas, tetapi juga dipengaruhi oleh budaya dan adat istiadat yang berlaku disuatu daerah serta keadaan anggota rumah tangga itu sendiri.

Adalah suatu hal yang menyedihkan, Indonesia yang dikenal Negara Agraris dengan hasil bumi berlimpah namun masih ada masyarakat yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan atau mengakses produk pertanian khususnya bahan makanan.

Benar bahwa tidak semua daerah dapat menghasilkan bahan makanan untuk kebutuhan daerahnya sendiri, sehingga yang menjadi perhatian adalah bagaimana caranya agar masyarakat bisa mendapatkan produk pertanian yang berasal dari daerah lain lebih mudah dan harga yang terjangkau. Memperpendek rantai distribusi penjualan menjadi salah satu cara untuk memangkas margin transportasi dan perdagangan sehingga harga jual ke masyarakat bisa lebih murah.

Harga bahan makanan juga terus meningkat. selama tahun 2021, sub kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi di setiap bulannya. kenaikan tersebut berada di antara 0,52 persen sampai 3,09 persen. Secara angka mungkin tidak terlalu tinggi tetapi yang terjadi di masyarakat adalah masyarakat yang memiliki kemampuan atau daya beli yang rendah makin sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini, peran TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) harus bekerja lebih keras, sehingga kenaikan harga yang terjadi tidak terlalu tinggi dan menyusahkan masyarakat.

Berbicara masalah pangan, yang sering terpikirkan adalah makanan pokok seperti beras, gandum atau sumber karbohidrat lainnya. Kita cenderung melupakan keragaman pangan atau makanan pendamping lainnya. Lebih giat menggalakkan diversifikasi pertanian sangat dibutuhkan untuk meningkatkan ragam komoditas. Mengingat kepemilikan lahan pertanian khususnya tanaman pangan makin berkurang.

Memang, sampai saat ini Pemerintah sudah berusaha memperbaiki nasib petani dan produksi pangan namun alih fungsi lahan menjadi perkebunan makin meningkat. Harga komoditas perkebunan yang lebih tinggi serta biaya produksi serta minimnya gagal panen menjadi alasan mengapa petani lebih memilih perkebunan dibandingkan tanaman pangan.

Mengentaskan kemiskinan tidak selalu bisa diselesaikan dengan cara memberi bantuan. Memberikan pengetahuan serta pendampingan tentang bagaimana cara mengolah lahan pertanian dari hulu ke hilir oleh pihak terkait secara kontinu sehingga masyarakat Indonesia bisa berusaha lebih mandiri merupakan hal yang lebih penting.

Poppi Marini
Seorang Ibu Pekerja (ASN) yang masih terus belajar dan belajar
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.