Selasa, Juni 15, 2021

Arah Gerakan Perempuan

Menalar Logika Pembangunan Papua (2)

Sudah begitu banyak para sarjana menguraikan akar persoalan pembangunan di tanah Papua. Setidaknya, dari sekian banyak para sarjana terdapat lima basis tesis utama tentang...

Independensi Jurnalisme dalam Tahun Politik

Belum lama ini, Edy Rahmayadi, Ketua Umum PSSI menyinggung wartawan sebagai akibat buruknya penampilan Tim Nasional (Timnas) Indonesia di ajang Piala AFF 2018. Dia...

Bang Nusron yang Sedang Gaduh

Sebagai Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah I (Pulau Sumatera dan Jawa) Nusron Wahid seharusnya tidak terlalu ikut campur di satu tempat atau...

Pers dan Capres

Pak Prabowo terekam video sedang terlihat kesal dengan wartawan. "Dari tivi mana loe?" kata Pak Prabowo. Hal itu disebabkan kekesalannya kepada media yang tidak...
Oman Baiturrahman
Penulis di PeaceLink (Peace Literacy Network) Malang

Belum lama ini kita merayakan Hari Kartini. Simbol adannya pergerakan kaum perempuan di Indonesia. Raden Adjeng Kartini merupakan salah satu tokoh Pahlawan Nasional yang berpengaruh di Indonesia. Berpengaruh, karena mampu merubah paradigma kaum wanita yang dianggap hanya berkutat pada kasur, dapur dan sumur. Perjuangannya dalam membela hak-hak kaum wanita tidak bisa diremehkan.

Kartini merupakan seorang bangsawan yang berpendidikan, kebangsawanannya tersebut tak menjadikannya orang yang angkuh sebagaimana bangsawan pada umumnnya. Ia mampu menggunakannya untuk membela hak-hak kaum wanita pribumi. Walaupun ia tinggal di rumah, namun ia aktif membaca dan menulis surat-surat untuk memberikan virus-virus kebebasan kaum wanita kala itu.

Ketertarikannya pada pergerakan wanita Eropa ketika itu, memberikan dorongan untuk membuka ruang pergerakan kaum wanita di Indonesia. Menurutnnya, seorang wanita perlu memperoleh kesamaan, kebebasaan, otonomi, serta kesetaraan hukum. Buah pemikiran Kartini memberikan inspirasi besar bagi pergerakan kaum wanita saat ini. Sebut saja salah satunya di tubuh Muhammadiyah ada Aisyiah, Organisasi Putri Merdika di Jakarta yang berdiri pada tahun 1912, dan organisasi kewanitaan lainnya.

Selain Kartini, sebetulnya kita masih punya sesosok wanita yang juga tertarik dengan emansipasi wanita. Namannya Rohana Kudus, seorang wanita cerdas berkebudayaan Minangkabau. Ia masih memilki darah persaudaraan dengan Sultan Syahrir yang merupakan pimpinan PSI (Partai Sosialis Indonesia).

Masa kecilnnya dihabiskan di Alahan Panjang. Ia mendapatkan pendidikan dari seorang Istri Jaksa Alahan Panjang. Kala itu, Rohana mendapatkan pendidikan keagamaan dan keterampilan oleh seorang istri Jaksa. Sehingga ia mampu membaca dan menulis.

Pada tahun 1892 ia berpindah dari Alahan Panjang ke Talu Pasaman. Mengikuti ayahnnya yang bekerja di sana. Kegemarannya dalam membaca dan menulis, akhirnnya ia menjadi guru bagi teman-temannya. Kala itu orang yang mampu membaca dan menulis sangat jarang. Ditambah lagi, akses pendidikan hanya berlaku untuk para bangsawan, serta ruang gerak wanita yang sangat sempit.

Namun demikian, sprit untuk mengajar dan memberikan semangat belajar pada teman-temannya tak bisa diremehkan. Keinginannya untuk memberikan pendidikan bagi kaum perempuan sangat kuat.  Pada umur 17 tahun ia kembali ke kampung kelahiranya di koto Gadang Sumatra Barat, dari sinilah ia mendirikan sekolah KAS (Kerajinan Amai Setia). Sebuah pendidikan untuk perempuan Koto Gadang.

Spirit mendidik dan mengajar yang terus dilakukan oleh Rohana, akhirnnya membuahkan hasil. KAS menjadi lembaga usaha dagang sebagai hasil keterampilan kaum perempuan. Hasil keterampilan tersebut dipasarkan KAS untuk kesejahteraan para perempuan yang berada di KAS. Hingga akhirnnya KAS berkembang menjadi penjual hasil kerajinan kampung Koto Gadang Sumatra Barat. Jadi, KAS tidak hanya mendidik perempuan membaca dan menulis, KAS juga  mengajarkan perempuan untuk berwirausaha.

Sekiranya, itulah dua tokoh perempuan yang dimiliki  Indonesia dan sangat  menginspirasi. Perjuangannya dalam memberikan ruang gerak dan hak-hak kesetaraan tak dapat diremehkan. Hal tersebut, mampu mendobrak paradigma masyarakat tentang wanita. Sehingga wanita tidak diberlakukan secara diskriminatif, tak mendapatkan pendidikan seperti laki-laki kala itu. Melainkan mampu memberikan ruang gerak dalam mengeksplor dirinya sebagai manusia pada umumnya.

Kartini dan Emansipasi Perempuan 

Arus moderenitas yang berkembang di dunia Barat pada abad ke-18, telah banyak mempengaruhi berbagai negara. Termasuk Indonesia. Salah satu pengarunnya adalah tentang paham emansipasi perempuan. Suatu paham yang menginginkan adannya kesamaan antara laki-laki dan perempuan dalam kapasitasnnya sebagai manusia.

Kini hal tersebut sudah mainstream terjadi. Bagaimana tidak, sosok perempuan, sudah banyak terjun dan memiliki andil dalam berbagai bidang. Politik, perusahaan, lembaga pendidikan, pemerintahan, bahakan kuli bangunan sekalipun.

Salah atau benar, baik atau buruk, emansipasi perempuan tergantung bagaimana orang memandang. Bagi penulis, persepsi tersebut tentu harus dengan mengukur kondisi sosiologis di suatu tempat. Dalam konteks Indonesia, pada masa pra kemerdekaan, wanita dipandang rendah.

Bagaimana tidak, eksisitensi perempuan dibatasi dengan adat istiadat. Sesosok Kartini menjadi hal yang sangat penting dimiliki oleh bangsa Indonesia. Pertanyaannya emansipasi apa yang di maksud RA Kartini?

Dalam beberapa literatur yang penulis temukan, menurut Citra Mustikawati dalam penelitiannya tentang pemahaman emansipasi wanita prespektif RA Kartini, melalui pendekatan hermeneutika Jurgen Hebermas, emansipasi dalam pengertian Kartini adalah kesetaraan untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan kaum laki-laki.

Jadi, berbeda dengan emansipasi yang digemborkan di Barat. Dimana, perempuan sebebas-bebasnnya memilki kehendak untuk mengekpresikan dirinnya sama dengan laki-laki.

Perempuan “Zaman Now”

Perkembangan teknologi dan informasi memberikan dampak sangat signifikan bagi kehidupan bangsa.  Dahulu, kehidupan perempuan sangat dikekang oleh adat istiadat. Namun hari ini, kebebasan itu sudah ada. Bebas berekspresi, bebas berprofesi, bebas menjadi sesuatu. Pertanyaannya? Apakah kebebasannya itu dimanfaatkan dengan baik oleh perempuan? Kenyataanya tidak. Kebebasan hari ini lebih menonjolkan budaya hedonis perempuan.

Fashion sudah menjadi makanan sehari-hari untuk perempuan masa kini. Tak melihat batas umur. Anak-anak, muda-mudi bahakan orang tua sekalipun. Berbeda dengan masa pra kemerdekaan. Mereka harus berjuang mengambil hak-hak kebebasannya sebagai perempuan.

Perlawanan secara fisikpun mereka lakukan. Setidaknnya hari ini, harus menjadi renungan untuk perempuan. seberapa besar emansipasi itu dimaknai dan mampu membawa pada tatanan produktifitas yang lebih baik. Bukan hanya produktifitas secara biologis.

Oman Baiturrahman
Penulis di PeaceLink (Peace Literacy Network) Malang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

McDonalds dan “The BTS Meal”

Belum lama ini, perusahaan ternama di dunia yaitu McDonalds (Mcd) mengeluarkan menu terbarunya, yakni “The BTS Meal” yang terdiri dari Mc Chicken Nugget, French...

Kenapa Kuliah Gratis?

Buku dan pena adalah senjata terbaik melawan kemiskinan ~ Malala Yousafzai Memberi bekal dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan adalah cara terbaik menolong orang untuk keluar...

Buya Syafii Maarif, Harapan Terus Ada

Siapa yang tidak tahu Buya Ahmad Syafii Maarif ini. Tokoh Muhammadiyah dan tokoh nasional penting yang masih tersisa pada zaman ini. Mestinya, orang seperti...

Menakar Komunikasi Persuasi Pemerintah dalam Menghadapi Pandemi

Pada awal tahun 2020, pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa virus baru yaitu coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dan penyakitnya disebut coronavirus disease 2019 (Covid-19) masuk...

BTS Meals dan Cerita Kuatnya Soft Power

BTS Meal merupakan sebuah menu paket makanan hasil kolaborasi antara salah satu franchise makanan cepat saji besar di dunia yakni McDonald's atau biasa dikenal...

ARTIKEL TERPOPULER