Setiap datangnya sepuluh malam terakhir Ramadan, umat Islam di berbagai penjuru dunia meningkatkan ibadah dengan harapan dapat meraih Lailatulqadar. Malam yang dimuliakan ini disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang “lebih baik dari seribu bulan”.
Keutamaannya begitu besar sehingga umat Islam dianjurkan untuk bersungguh-sungguh mencarinya melalui berbagai bentuk ibadah. Namun, pertanyaan tentang kapan tepatnya Lailatulqadar terjadi dan bagaimana tanda-tandanya sering kali menjadi bahan diskusi di kalangan masyarakat.
Waktu Lailatul Qadar dalam Pandangan Ulama
Para ulama sejak masa klasik telah membahas secara panjang lebar mengenai waktu terjadinya Lailatul Qadar. Pendapat yang paling kuat dan paling banyak dipegang oleh para ulama fikih; khususnya dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, menyatakan bahwa Lailatulqadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Hal ini didasarkan pada sejumlah hadis Nabi Muhammad yang memerintahkan umat Islam untuk mencarinya pada periode tersebut.
Dalam rentang sepuluh malam terakhir itu, sebagian ulama menekankan bahwa kemungkinan terbesar berada pada malam-malam ganjil, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan. Di antara malam-malam tersebut, malam ke-27 sering disebut sebagai kemungkinan yang paling kuat. Pendapat ini dinukil dari sejumlah sahabat, di antaranya Ubay bin Ka‘b.
Meski demikian, ada pula ulama yang berpendapat bahwa Lailatulqadar tidak menetap pada satu malam tertentu, melainkan berpindah-pindah dari satu malam ke malam lain dalam sepuluh malam terakhir. Pendapat ini berupaya mengompromikan berbagai riwayat hadis yang menyebutkan waktu yang berbeda-beda. Dengan demikian, hikmahnya adalah agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu, melainkan bersungguh-sungguh sepanjang sepuluh malam terakhir.
Selain itu, terdapat pula beberapa pendapat lain yang lebih minor, seperti yang menyatakan bahwa Lailatulqadar terjadi pada malam pertama Ramadan, malam ke-17, atau malam ke-19. Namun, pendapat-pendapat ini tidak menjadi pandangan utama di kalangan mayoritas ulama.
Tanda-Tanda Lailatul Qadar
Sejumlah hadis sahih menyebutkan beberapa tanda yang berkaitan dengan Lailatulqadar. Salah satu yang paling dikenal adalah keterangan bahwa matahari pada pagi harinya terbit tanpa sinar yang menyilaukan. Riwayat lain menyebutkan bahwa malam tersebut terasa sejuk, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, serta suasananya tenang.
Namun, para ulama mengingatkan bahwa tanda-tanda tersebut tidak selalu muncul setiap tahun secara pasti. Ada kemungkinan bahwa tanda tersebut hanya terjadi pada peristiwa tertentu di masa Nabi Muhammad, atau dipengaruhi oleh kondisi alam seperti cuaca dan awan tipis yang menghalangi sinar matahari.
Karena itu, sebagian cerita populer yang beredar di masyarakat—misalnya pohon-pohon yang bersujud, air laut berubah menjadi tawar, atau hewan-hewan berhenti bersuara—tidak memiliki dasar hadis yang sahih. Cerita-cerita tersebut lebih banyak berasal dari kisah-kisah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun secara riwayat.
Para ulama menegaskan bahwa Lailatulqadar tidak memiliki tanda pasti yang dapat dijadikan patokan mutlak. Jika tanda tersebut selalu muncul secara jelas setiap tahun, tentu semua manusia—baik Muslim maupun non-Muslim—akan mengetahuinya dengan mudah. Kenyataannya, sejak masa sahabat hingga sekarang, umat Islam tetap berbeda pendapat dalam menentukan malam tersebut.
Apakah Lailatul Qadar Berbeda di Setiap Negara?
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah apakah Lailatulqadar terjadi secara serentak di seluruh dunia atau berbeda-beda sesuai wilayah.
Sebagian ulama berpendapat bahwa setiap wilayah memiliki malam Lailatulqadar sesuai waktu malam di daerahnya. Sementara itu, ulama lain menyatakan bahwa Lailatulqadar hanya satu malam untuk seluruh bumi, tetapi waktu masuknya mengikuti perbedaan terbenamnya matahari di masing-masing wilayah.
Pendapat kedua ini dinilai lebih mendekati logika waktu di bumi. Artinya, malam tersebut tetap satu, tetapi dialami oleh manusia sesuai waktu malam di tempat masing-masing.
Cara Menghidupkan Lailatul Qadar
Para ulama menjelaskan bahwa menghidupkan Lailatulqadar memiliki beberapa tingkatan.
Tingkatan tertinggi adalah menghidupkan seluruh malam dengan berbagai bentuk ibadah, seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Tingkatan berikutnya adalah menghidupkan sebagian besar malam dengan ibadah.
Adapun tingkatan minimal adalah menunaikan salat Isya secara berjamaah dan bertekad melaksanakan salat Subuh berjamaah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa orang yang melaksanakan dua salat tersebut secara berjamaah seakan-akan telah menghidupkan sebagian besar malam.
Keutamaan Lailatul Qadar
Keutamaan Lailatulqadar sangat besar. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan, yang berarti nilainya melebihi lebih dari delapan puluh tahun ibadah.
Rasulullah saw. juga bersabda bahwa siapa saja yang menghidupkan Lailatulqadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Selain itu, malam tersebut juga dikenal sebagai malam turunnya malaikat dengan membawa rahmat, ketenangan, dan keberkahan bagi manusia.
Doa yang Dianjurkan
Salah satu doa yang paling dianjurkan untuk dibaca pada malam-malam terakhir Ramadan adalah doa yang diajarkan Nabi Muhammad saw. kepada Aisyah ra.:
“Allahumma innaka ‘afuwwun karim, tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.”“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Doa ini menjadi pengingat bahwa inti dari pencarian Lailatulqadar bukan sekadar mengetahui waktunya, melainkan memohon ampunan dan rahmat Allah.
Pada akhirnya, rahasia waktu Lailatul qadar justru mengandung hikmah yang mendalam. Dengan tidak ditentukannya secara pasti malam tersebut, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan. Sikap ini sejalan dengan teladan Nabi Muhammad saw., yang memperbanyak ibadah pada masa tersebut.
Dengan demikian, yang terpenting bukanlah memastikan malamnya, melainkan kesungguhan dalam beribadah. Sebab, siapa pun yang bersungguh-sungguh menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan iman dan harapan kepada Allah, pada hakikatnya telah menempuh jalan untuk meraih keberkahan Lailatulqadar
