Jumat, April 23, 2021

Menyelamatkan Nalar Kritis di Era Digital

Maraknya Kekerasan Seksual dan Desakan Pengesahan RUU PKS

Menurut Data yang dihimpun oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa bidang kependudukan (UNFPA), Satu dari tiga perempuan Indonesia berumur 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual....

Bibit dan Ladang Rasisme Kita

“Cari suami orang Jawa ya, nduk. Agar hidupmu mudah,” kata Bapak kepada saya. “Lho kenapa begitu, pak?” Tanya saya gak mudeng. “Hampir semua orang Jawa itu...

Sejarah Paskibraka dan Nasionalisme Kita

Pasukan khusus yang bertugas di bulan Agustus berlatih untuk menunaikan tugas mulia, yaitu untuk mengibarkan bendera pusaka merah putih. Baik level Kabupaten/Kota, Provinsi, maupun...

Puasa dan Titik Temu Antar Agama

Puasa adalah salah satu dari ibadah pokok (mahdhah) yang diwajibkan dalam Islam. Kewajiban ini tertera dengan jelas dalam al-Qur’an melalui firman-Nya: “Hai orang-orang yang...
Agus Salim Irsyadullah
Pemuda kelahiran Batang

Dunia di abad 21 telah melahirkan rekayasa dan perkembangan teknologi secara spekulatif dalam kehidupan manusia. Digitalisasi dan otomatisasi adalah produk nyata dari apa yang kita sebut sebagai revolusi industri 4.0 yang juga, telah merubah tatanan masyarakat secara fundamental.

Dari dampak revolusi itu pula, tercipta kegaduhan dan kegamangan luar biasa bagi masyarakat dalam dunia internet. Seperti kita tahu, era yang dihadapi masyarakat hari ini adalah era dimana semua ‘dipaksakan’ untuk serba digital dan terhubung satu sama lain melalui sebuah jaringan-internet.

Ya, internet memang sudah begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai, John Connor dalam film Terminator Genisya (2015) mengatakan bahwa “inilah dunia masa kini.

Dunia yang terus terhubung ke jejaring sosial dan menjadi candu bagi penggunanya”. Hal itu kiranya memang cukup beralasan untuk menjadi perhatian masyarakat Indonesia pasalnya, mereka sendiri menjadi pengguna internet tertinggi kelima pada 2017 lalu. Bahkan, mimpi buruk itu pun terus berlanjut menghantui ibu pertiwi. Bayangkan, memasuki bulan keenam di tahun 2019 saja, konsumsi masyarakat Indonesia terhadap internet merangsek naik menuju tiga besar konsumen teratas.

Berdasarkan data internetworldstarts penetrasi internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa atau sekitar 53 persen dari total populasi yang diperkirakan mencapai 296,54 juta jiwa. Jumlah pengguna internet di tanah air ini setara dengan 6,5 persen pengguna internet di Asia. Bahkan, jumlahnya pun berada di rangking ketiga se-Asia.

Sementara, untuk negara dengan penetrasi internet tertinggi di Asia adalah Korea Selatan yang mencapai 95,1 persen dari total populasi mereka. Artinya, hampir seluruh penduduk negeri Ginseng ini telah menggunakan internet. Negara dengan penetrasi internet terbesar kedua di Asia adalah Jepang, yakni sebesar 93,51 persen dari populasi yang ada.

Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap internet dan menjamurnya perangkat mobile disinyalir menjadi penyebab tingginya aktivitas masyarakat dalam menggunakan internet. Selain itu, dengan keadaan semacam ini menandakan bahwa masyarakat kita masih cenderung diperbudak dan terperangkap oleh teknologi yang diciptakan mereka sendiri.

Yang menyedihkan lagi, nalar berpikir masyarakat kita juga ikut terjebak dalam realisme semu benar-salah, bahkan seringkali mengklaim apa yang dibaca menjadi sebuah kebenaran mutlak dan menolak keras informasi yang tidak sesuai ideologi mereka. Alhasil, keyakinan itu pun tetap dipelihara dan terus berkembang hingga melahirkan nalar-nalar lain yang menyesatkan.

Padahal, di era tsunami informasi sekarang ini, pertaruhan nalar menjadi semakin sengit dan beringas. Internet yang notabene diciptakan manusia untuk mempermudah komunikasi justru, dijadikan sebagai medan pertempuran yang membuat kewarasan nalar semakin sulit diselamatkan. Misalnya saja dalam hal pencarian kebenaran suatu informasi dimana, masyarakat masih ‘malu-malu’ untuk melakukan check and recheck.

Hari ini, nalar kritis masyarakat berada pada titik sekarat dan membutuhkan pertolongan dewa. Ditambah lagi, nalar tersebut dimanipulasi sedemikian rupa sehingga, mengakibatkan kebingungan luar biasa.

Memang, bagi masyarakat yang bernalar, kebenaran merupakan sesuatu yang sangat berharga sehingga patut diperjuangkan dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Tapi bagi masyarakat yang acuh tak acuh, kebenaran akan berharga jika mendukung kebenaran subjektif yang diyakininya.

Teknofobia atau teknofilia?

Sejak kelahiran internet, telah terjadi duel sengit antara teknofobia dan teknofilia. Tentang teknofobia-kelompok masyarakat terdampak teknologi, telah diramalkan oleh Neil Postman sebagai bentuk dari pesimisme technology dalam sebuah karya besar Technopoly: The Surrender of Culture to Technology.

Sementara, Nicholas Negroponte berhasil meyakinkan masyarakat bahwa teknologi menciptakan dampak positif yang kemudian dituangkan oleh Nicholas Negroponte dalam karyanya Being Digital. Ya, masing-masing memiliki opini dan pembelaan untuk mengutkan posisi mereka bahwa internet berdampak positif ataupun negatif.

Di satu sisi, pengikut kaum teknofobia percaya bahwa suatu saat teknologi internet akan menghancurkan nalar manusia. Hal itu tak lepas dari banyaknya isu dan penggiringan opini publik yang berujung pada hate speech, penipuan, propaganda dan bentuk kejahatan cybercrime lain.

Lebih jauh, ‘ramalan’ kaum teknofobia tersebut perlahan namun pasti, menggerogoti dan membunuh masyarakat. Mereka tidak sadar bahwa hari ini, teknologi internet telah merampas hubungan bersosial mereka.

Namun, seakan tak mau menutup sebelah mata terhadap sisi negatif penggunaan internet, kaum teknofilia-ketertarikan berlebih pada teknologi- juga tak mau kalah dan melakukan pembelaan dengan dalih, manusia tak akan mampu hidup dengan internet. Mereka berkehendak jika internet mampu menyediakan apa yang diinginkan manusia.

Dengan menyajikan kenyataan yang terjadi hari ini, kaum teknofilia percaya bahwa kelak dunia akan semakin ditentukan dan diatur oleh inovasi-inovasi teknologi. Siapa yang menguasai teknologi termuktahir dialah yang akan memiliki keunggulan.

Kaum teknofilia juga berasumsi bahwa teknologi itu hadir sebagai pelayan untuk tuannya. Dengan kata lain, sejauh mana bermanfaat atau tidaknya sebuah inovasi teknologi ditentukan oleh penggunanya sendiri.

Terkadang, kita juga masih melihat internet dalam berbagai sudut pandang. Satu waktu bisa diibaratkan sebagai sang penyelamat, kadang-kadang sebagai ancaman, ada juga yang menganggap bahwa intenet sebagai kekuatan yang menguntungkan di masyarakat, membawa demokrasi dan peluang baru, dan bahkan sebagai kutukan modern yang, memungkinkan konten terlarang dalam jangkauan anak-anak.

Menggunakan secara bijak

Kemudahan memperoleh akses internet, membuat masyarakat dengan leluasa berselancar menyelami dalamnya lautan informasi. Akan tetapi, kemudahan tersebut seringkali membuat mereka lupa akan bahaya yang mengintai. Mereka lupa bahwa, ada hiu yang siap menerkam kapan saja dan dimana saja mereka berselancar.

Meski internet menyajikan apa pun yang kita inginkan, perlu diingat kembali bahwa internet bukanlah sesuatu yang patut untuk ‘dituhankan’. Harus dicatat pula, tidak semua informasi yang ada di internet bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Sebagai masyarakat yang cerdas, tentu kita bijak dalam memilah dan memilih informasi yang akan kita konsumsi. Menggunakan nalar berpikir skeptis dan kritis, seperti yang diajarkan oleh Socrates adalah salah satu cara yang bisa digunakan sebagai senjata melawan ganasnya lautan informasi.

Faktanya, masih banyak masyarakat yang belum menerapkan apa yang diajarkan oleh filsuf kelahiran Yunani tersebut. Jika hal ini masih lazim terjadi lalu, apakah nalar kritis masyarakat kita masih bisa diselamatkan di era digital ini?

(Sumber foto: qureta.com)

Agus Salim Irsyadullah
Pemuda kelahiran Batang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.