Sabtu, Februari 7, 2026

Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan. Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS).
- Advertisement -

Kenaikan harga tiket pesawat di Indonesia kerap dipahami sebagai konsekuensi alami dynamic pricing. Namun, dalam konteks negara kepulauan dengan ketergantungan tinggi pada transportasi udara, persoalan utamanya bukan semata tingkat harga, melainkan volatilitas harga yang tinggi dan ketidakpastian bagi publik. Artikel ini berargumen bahwa dynamic pricing adalah mekanisme ekonomi yang rasional secara matematis, tetapi berpotensi merusak psikologi pasar apabila dilepaskan dari kerangka kebijakan publik. Melalui pendekatan ekonomi politik, tulisan ini menunjukkan bahwa ketiadaan batas sosial, transparansi biaya, dan intervensi struktural membuat volatilitas harga ditanggung sepenuhnya oleh konsumen. Oleh karena itu, negara perlu berperan aktif dalam menjaga stabilitas psikologis pasar dengan menata relasi antara efisiensi industri dan keadilan akses, sehingga harga tiket tetap efisien tanpa menggerus kepercayaan publik.

 Pendahuluan

Setiap kali Indonesia memasuki masa libur panjang, hari besar keagamaan, atau periode puncak mobilitas nasional, satu isu hampir selalu muncul ke ruang publik dengan intensitas yang sama: melonjaknya harga tiket pesawat. Fenomena ini telah menjadi siklus tahunan yang berulang, nyaris dapat diprediksi, namun tetap menimbulkan kegelisahan sosial yang besar. Keluhan publik menguat, perbincangan di media sosial memanas, dan tekanan politik terhadap pemerintah kembali meningkat.

Menariknya, meskipun pola ini telah berlangsung lebih dari satu dekade, respons kebijakan yang muncul cenderung bersifat jangka pendek dan reaktif. Pemerintah menambah penerbangan sementara, mengeluarkan imbauan kepada maskapai, atau melakukan penyesuaian teknis pada batas tarif. Setelah tekanan publik kembali mereda, struktur harga kembali bekerja dengan pola yang sama. Siklus ini berulang tanpa perubahan mendasar. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan harga tiket pesawat bukanlah masalah insidental, melainkan persoalan struktural dalam desain kebijakan transportasi udara nasional.

Dalam banyak pernyataan resmi, lonjakan harga kerap dijelaskan melalui mekanisme dynamic pricing. Istilah ini kemudian menjadi kata kunci yang berulang, sekaligus sasaran kemarahan publik. Di mata masyarakat, dynamic pricing sering dipersepsikan sebagai praktik yang tidak beretika, oportunistik, dan mengabaikan kepentingan publik. Sebaliknya, dari sudut pandang industri penerbangan, mekanisme ini dipahami sebagai praktik rasional, sah, dan lazim secara global.

Ketegangan inilah yang perlu dibaca secara lebih jernih. Persoalannya bukan sekadar apakah dynamic pricing benar atau salah, melainkan bagaimana mekanisme tersebut bekerja dalam konteks sosial, geografis, dan politik Indonesia. Lebih jauh, isu utama bukan hanya terletak pada harga, tetapi pada psikologi pasar—yakni persepsi, ekspektasi, rasa keadilan, dan kepercayaan publik terhadap sistem penetapan harga serta peran negara di dalamnya.

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Apa Itu Dynamic Pricing: Mekanisme Ekonomi yang Sering Disalahpahami

Secara konseptual, dynamic pricing adalah mekanisme penetapan harga yang membuat harga suatu produk atau jasa berubah secara dinamis mengikuti perubahan permintaan, waktu, dan ketersediaan kapasitas. Dalam industri penerbangan, harga tiket tidak ditentukan secara statis, melainkan melalui sistem revenue management dan yield management yang kompleks. Sistem ini bekerja dengan memproses berbagai variabel sekaligus: waktu pemesanan, tingkat keterisian kursi, musim perjalanan, pola historis permintaan, hingga segmentasi perilaku penumpang.

Secara kuantitatif sederhana, harga tiket pesawat dapat dipahami sebagai fungsi dari beberapa variabel utama:

- Advertisement -

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang 3

di mana P adalah harga tiket, D permintaan penumpang, S kapasitas kursi tersedia, t jarak waktu menuju keberangkatan, L target load factor, C struktur biaya, dan R aturan optimasi pendapatan. Harga tiket bukanlah satu angka tunggal, melainkan sebuah vektor harga yang berubah sepanjang waktu.

Dalam kerangka yield management, maskapai tidak mengejar harga terendah, melainkan pendapatan total maksimum:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Artinya, maskapai bersedia menjual sebagian kursi dengan harga murah di awal penjualan untuk memastikan tingkat keterisian, dengan tujuan menjual kursi yang tersisa pada harga lebih tinggi kepada penumpang yang memiliki willingness to pay lebih besar. Dari sudut pandang teori ekonomi mikro, mekanisme ini dipandang efisien dan rasional.

Namun, persoalan muncul ketika mekanisme yang secara teori netral ini diterapkan dalam konteks yang tidak netral. Indonesia bukan sekadar pasar penerbangan biasa. Ia adalah negara kepulauan dengan ketergantungan tinggi pada transportasi udara, ketimpangan daya beli masyarakat, serta kesenjangan infrastruktur antarwilayah yang lebar. Dalam konteks seperti ini, dynamic pricing tidak lagi berdiri sebagai instrumen ekonomi murni, melainkan bersinggungan langsung dengan keadilan sosial.

Mengapa Dynamic Pricing Muncul: Logika Ekonomi Kuantitatif

Biaya Tetap Tinggi dan Biaya Marginal Rendah

Industri penerbangan memiliki karakteristik struktur biaya yang khas. Sebagian besar biaya bersifat tetap (fixed cost): sewa atau pembelian pesawat, gaji awak, perawatan, asuransi, serta biaya kepatuhan keselamatan dan regulasi internasional. Sebaliknya, biaya marginal untuk mengangkut satu penumpang tambahan relatif rendah.

Secara matematis, kondisi ini dapat diringkas sebagai:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

di mana marginal cost jauh lebih kecil daripada average cost. Konsekuensinya, kursi kosong pada satu penerbangan berarti kerugian total karena nilai kursi tersebut menjadi nol setelah pesawat lepas landas. Dalam kondisi ini, menjual kursi dengan harga rendah sering kali lebih rasional daripada membiarkannya kosong.

Logika inilah yang melahirkan prinsip dasar dynamic pricing: better to sell cheap early than fly empty. Prinsip ini sepenuhnya rasional dari sudut pandang manajemen risiko bisnis.

Permintaan yang Tidak Elastis pada Waktu Tertentu

Masalah muncul ketika mekanisme ini bertemu dengan permintaan yang bersifat tidak elastis. Elastisitas permintaan dapat dirumuskan sebagai:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Pada periode tertentu—seperti mudik Lebaran, libur panjang nasional, perjalanan dinas pemerintahan, atau keperluan medis—nilai elastisitas permintaan sering kali lebih kecil dari satu (inelastic demand). Dalam kondisi ini, kenaikan harga yang signifikan hanya diikuti oleh penurunan jumlah penumpang yang kecil.

Secara algoritmik, kondisi ini diterjemahkan sebagai sinyal untuk menaikkan harga:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Masalahnya, algoritma tidak mengenal konteks sosial. Ia tidak membedakan antara permintaan rekreasi dan permintaan yang bersifat keterpaksaan sosial. Ketika mekanisme ini bekerja tanpa koreksi kebijakan, kenaikan harga yang terjadi bisa terasa tidak adil dari sudut pandang publik.

Risiko Kursi Kosong sebagai Perishable Goods

Tiket pesawat adalah contoh klasik dari perishable goods. Nilainya hilang sepenuhnya jika tidak terjual sebelum waktu keberangkatan. Risiko ekonomi dari kursi kosong dapat dirumuskan sebagai:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Dynamic pricing berusaha meminimalkan risiko ini dengan menyesuaikan harga secara dinamis: rendah di awal, meningkat mendekati waktu keberangkatan. Dari sisi efisiensi ekonomi, mekanisme ini bekerja dengan baik. Namun, dari sisi persepsi publik, lonjakan harga mendekati hari keberangkatan sering kali dibaca sebagai eksploitasi situasi, bukan sebagai manajemen risiko.

Bagaimana Dynamic Pricing Bekerja: Mekanisme Bertahap

Segmentasi Harga melalui Fare Buckets

Dalam praktiknya, maskapai membagi kursi ke dalam beberapa kelas harga atau fare buckets. Setiap kelas memiliki harga dan kuota tertentu. Ketika satu kelas habis, sistem secara otomatis membuka kelas berikutnya dengan harga lebih tinggi. Mekanisme ini bukan bentuk kecurangan, melainkan aturan optimasi yang telah diprogram.

Namun, bagi penumpang awam, perpindahan antar fare bucket sering kali tampak seperti lonjakan harga yang tiba-tiba dan tidak rasional. Di sinilah jurang persepsi mulai terbentuk antara logika sistem dan psikologi pasar.

Harga Berbasis Waktu

Selain segmentasi, harga tiket juga dipengaruhi oleh waktu pemesanan. Secara sederhana, hubungan ini dapat dimodelkan sebagai:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Semakin dekat ke waktu keberangkatan, harga cenderung meningkat secara non-linear. Dalam kondisi permintaan tinggi, nilai parameter sensitivitas waktu (α) menjadi lebih besar, sehingga lonjakan harga terasa semakin tajam.

Pemicu Load Factor

Sistem juga memantau tingkat keterisian aktual dibandingkan target. Jika keterisian lebih cepat dari target, harga dinaikkan. Jika keterisian lambat, harga dapat diturunkan. Masalah kebijakan muncul ketika target load factor maskapai tidak sejalan dengan target kepentingan publik.

Psikologi Pasar: Di Mana Masalah Sebenarnya Muncul

Reaksi publik terhadap harga tiket pesawat tidak semata-mata ditentukan oleh level harga, melainkan oleh volatilitas dan ketidakpastian harga. Secara statistik, peningkatan varians harga berbanding terbalik dengan tingkat kepercayaan:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Ketika harga tiket pada rute yang sama dapat melonjak dua atau tiga kali lipat dalam waktu singkat, publik tidak membacanya sebagai hasil algoritma, melainkan sebagai ketidakadilan struktural. Ketimpangan informasi antara penjual dan pembeli memperparah situasi. Maskapai memiliki informasi lengkap tentang kapasitas, tren permintaan, dan algoritma harga, sementara penumpang hanya melihat harga akhir tanpa konteks.

Dalam kondisi seperti ini, meskipun sistem bekerja efisien secara matematis, ia gagal secara sosial. Psikologi pasar terganggu, dan kepercayaan terhadap negara sebagai pengelola sistem ikut tergerus.

Negara, Kepentingan Publik, dan Batas Sosial Dynamic Pricing

Jika ditarik lebih jauh, persoalan dynamic pricing harga tiket pesawat tidak dapat dipisahkan dari relasi antara negara, pasar, dan kepentingan publik. Dalam teori ekonomi, harga dipandang sebagai sinyal efisiensi. Namun dalam praktik kebijakan, harga juga berfungsi sebagai sinyal kehadiran negara. Ketika harga bergerak liar tanpa kerangka kebijakan yang jelas, yang terganggu bukan hanya daya beli, tetapi juga kepercayaan publik terhadap kemampuan negara mengelola sektor strategis.

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki ketergantungan struktural pada transportasi udara. Bagi banyak wilayah, pesawat terbang bukanlah pilihan gaya hidup, melainkan kebutuhan dasar untuk mobilitas manusia, barang, dan layanan publik. Dalam konteks ini, membiarkan dynamic pricing bekerja sepenuhnya sebagai mekanisme pasar bebas berarti mengabaikan dimensi pelayanan publik yang melekat pada transportasi udara.

Persoalannya bukan pada keberadaan dynamic pricing, melainkan pada ketiadaan batas sosial yang jelas. Tanpa batas ini, mekanisme yang secara teknis rasional dapat menghasilkan dampak sosial yang destruktif. Negara tidak perlu—dan tidak seharusnya—mengatur harga harian. Namun negara wajib menetapkan kerangka yang menentukan di mana pasar boleh bekerja bebas dan di mana kepentingan publik harus dilindungi.

Volatilitas Harga sebagai Masalah Kebijakan, Bukan Sekadar Masalah Pasar

Kesalahan umum dalam perdebatan publik adalah menyederhanakan masalah harga tiket sebagai persoalan “mahal atau murah”. Padahal, dari sudut pandang psikologi pasar, masalah utamanya justru terletak pada volatilitas harga. Publik lebih toleran terhadap harga yang relatif tinggi tetapi stabil, dibandingkan harga yang berfluktuasi tajam dan sulit diprediksi.

Dalam kerangka statistik, volatilitas harga dapat diukur melalui varians:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Ketika varians harga meningkat tajam, ketidakpastian meningkat, dan kepercayaan publik menurun. Dalam konteks kebijakan, ini berarti bahwa stabilitas psikologis pasar tidak ditentukan oleh rata-rata harga, melainkan oleh seberapa liar harga bergerak dalam rentang waktu singkat.

Di sinilah negara memiliki ruang intervensi yang sah dan efektif. Alih-alih menetapkan price cap yang kaku dan sering kali kontraproduktif, negara dapat menetapkan volatility cap—batas maksimum fluktuasi harga dalam periode tertentu:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Pendekatan ini menjaga fleksibilitas algoritma dynamic pricing sekaligus melindungi publik dari lonjakan ekstrem yang merusak rasa keadilan. Harga tetap boleh naik dan turun, tetapi dalam koridor yang dapat diterima secara sosial.

Elastisitas Sosial dan Koreksi Algoritmik Kebijakan

Algoritma dynamic pricing membaca pasar melalui data historis dan perilaku aktual. Namun algoritma tidak memahami konteks sosial. Ia tidak membedakan antara perjalanan wisata dan perjalanan karena kebutuhan mendesak. Di sinilah negara perlu melakukan koreksi kebijakan melalui konsep elastisitas bayangan (shadow elasticity).

Untuk rute atau periode tertentu yang memiliki kepentingan sosial tinggi, negara dapat menetapkan nilai elastisitas kebijakan yang berbeda dari elastisitas pasar murni:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Dengan cara ini, sistem dipaksa “membaca” permintaan sebagai lebih elastis daripada kenyataannya, sehingga kenaikan harga dibatasi secara algoritmik. Intervensi ini tidak menghapus dynamic pricing, tetapi menginternalisasi kepentingan publik ke dalam fungsi harga.

Pendekatan semacam ini jauh lebih elegan dan berkelanjutan dibandingkan intervensi ad hoc. Ia bekerja di tingkat desain sistem, bukan sekadar reaksi terhadap gejolak sesaat.

Menata Struktur Biaya: Jalan yang Lebih Stabil daripada Menekan Harga

Harga tiket pada akhirnya dapat dirumuskan secara sederhana sebagai:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

Dalam persamaan ini, menekan harga tanpa menyentuh struktur biaya (average cost) hanya akan memindahkan tekanan ke maskapai dan berpotensi mengganggu keselamatan serta keberlanjutan industri. Sebaliknya, intervensi pada komponen biaya memiliki dampak yang lebih stabil dan sistemik.

Penurunan harga avtur, penataan tarif bandara, efisiensi ground handling, serta harmonisasi kebijakan fiskal dapat menurunkan kurva biaya secara keseluruhan. Jika C menurun, maka seluruh spektrum harga dalam sistem dynamic pricing ikut bergeser ke bawah tanpa perlu intervensi langsung pada algoritma.

Pendekatan ini menegaskan bahwa kebijakan harga tiket tidak bisa dilepaskan dari kebijakan energi, kebijakan BUMN, dan kebijakan fiskal. Harga tiket adalah hasil akhir dari rantai kebijakan yang panjang, bukan sekadar keputusan maskapai di hilir.

Kesalahan Narasi: Menyalahkan Maskapai sebagai Aktor Tunggal

Dalam tekanan publik, maskapai sering kali menjadi sasaran utama kemarahan. Maskapai dipersepsikan sebagai aktor yang dengan sengaja “memainkan harga” demi keuntungan. Narasi ini memang mudah dipahami, tetapi berisiko menyesatkan.

Industri penerbangan beroperasi dalam rezim kepatuhan global yang ketat. Standar keselamatan, audit internasional, sertifikasi, dan perawatan pesawat bukan pilihan, melainkan kewajiban. Biaya kepatuhan ini bersifat non-negotiable. Ketika negara tidak secara aktif menata biaya kebijakan nasional yang berada di luar kendali maskapai, tekanan tersebut akan selalu diteruskan ke harga tiket.

Dalam kondisi seperti ini, dynamic pricing sering kali menjadi satu-satunya variabel penyesuaian yang tersisa. Menyalahkan maskapai tanpa membenahi arsitektur kebijakan sama dengan menyalahkan gejala tanpa mengobati penyebab.

Arsitektur Kebijakan: Dari Firefighting ke Policy Design

Selama ini, ada kecenderungan respons terhadap lonjakan harga tiket cenderung bersifat firefighting. Pemerintah turun tangan ketika krisis muncul, lalu menjadi biasa saja ketika tekanan mereda. Pola ini tidak cukup untuk menjaga psikologi pasar.

Yang dibutuhkan adalah pergeseran peran negara menjadi arsitek kebijakan. Negara perlu merancang kerangka kerja yang jelas tentang bagaimana harga tiket dibentuk, kapan negara masuk, dan indikator apa yang digunakan untuk menilai kewajaran harga. Kerangka ini harus bersifat lintas sektor dan lintas kementerian, karena harga tiket adalah titik temu dari berbagai kebijakan.

Arsitektur kebijakan yang jelas akan meningkatkan prediktabilitas. Publik tidak lagi terkejut oleh lonjakan harga, karena memahami bahwa fluktuasi tersebut berada dalam koridor kebijakan yang disepakati.

Transparansi sebagai Instrumen Stabilitas Psikologis

Kepercayaan publik tidak dibangun dari harga murah semata, tetapi dari kejelasan proses. Transparansi dalam konteks dynamic pricing bukan berarti membuka algoritma secara detail, melainkan menyediakan narasi kebijakan yang konsisten dan dapat dipahami.

Negara perlu mengambil peran sebagai komunikator utama, menjelaskan logika umum penetapan harga, faktor musiman, serta langkah-langkah perlindungan publik yang disiapkan. Dengan komunikasi yang baik, dynamic pricing tidak lagi dipersepsikan sebagai praktik gelap, melainkan sebagai bagian dari sistem kebijakan yang rasional.

Menjaga Psikologi Pasar sebagai Tugas Negara

Menjaga psikologi pasar berarti menjaga rasa keadilan dan kepastian. Beberapa instrumen kebijakan yang relevan antara lain pengaturan batas volatilitas harga pada periode tertentu, penguatan kewajiban pelayanan publik pada rute strategis dengan skema kompensasi yang transparan, serta penyediaan sistem informasi harga yang mudah diakses publik.

Instrumen-instrumen ini tidak dimaksudkan untuk mematikan pasar, melainkan untuk memastikan bahwa pasar bekerja dalam koridor kepentingan nasional. Dalam konteks negara kepulauan, kegagalan menjaga psikologi pasar dalam sektor penerbangan berpotensi memperlebar ketimpangan wilayah dan merusak integrasi nasional.

Penutup

Pada akhirnya, dinamika dynamic pricing harga tiket pesawat bukan hanya soal ekonomi transportasi. Ia adalah cermin dari bagaimana negara memosisikan diri dalam relasi antara pasar dan masyarakat. Secara matematis, dynamic pricing adalah mekanisme yang rasional. Namun rasionalitas teknis tidak otomatis menghasilkan keadilan sosial.

Masalah utama bukan pada rumus:

geotimes - Menjaga Psikologi Pasar terhadap Dynamic Pricing Tiket Pesawat Terbang

melainkan pada siapa yang mengendalikan variabel, siapa yang menanggung volatilitas, dan siapa yang dilindungi kebijakan. Di sinilah peran negara menjadi krusial sebagai penyeimbang antara efisiensi algoritmik dan kepentingan publik.

Menjaga psikologi pasar berarti menjaga kepercayaan publik terhadap negara. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, kepercayaan ini bukan sekadar modal sosial, melainkan prasyarat bagi keberlanjutan konektivitas nasional. Dynamic pricing bukan musuh. Ia adalah alat. Yang menentukan dampaknya adalah bagaimana alat tersebut ditempatkan dalam arsitektur kebijakan nasional yang adil, adaptif, dan berpihak pada kepentingan bersama.

Pustaka

Chang, Yu-Chun, and Arlene Savage. “The Political Economy of Aviation Regulation.” Journal of Air Transport Management 47 (2015): 62–70.

Gallego, Guillermo, and Huseyin Topaloglu. Revenue Management and Pricing Analytics. New York: Springer, 2014.

International Air Transport Association (IATA). Industry Outlook and Financial Performance Report 2024. Geneva: IATA, 2024.

Phillips, Robert L. Pricing and Revenue Optimization. Stanford: Stanford Business Books, 2020.

Wensveen, John G. Air Transportation: A Management Perspective. 8th ed. Farnham: Ashgate Publishing, 2015.

Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Dr. Afen Sena, M.Si. IAP, FRAeS
Profesional dan akademis dengan sejarah kerja, pendidikan dan pelatihan di bidang penerbangan dan bisnis kedirgantaraan. Alumni PLP/ STPI/ PPI Curug, Doktor Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, International Airport Professional (IAP) dari ICAO-ACI AMPAP dan Fellow Royal Aeronautical Society (FRAeS).
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.