Selasa, Mei 21, 2024

Mengutuk Israel, AS, dan Yahya

Arif Amani
Arif Amani
Sehari-hari menjadi imam anak-anak madrasah

Umat Islam terlalu sering mengutuk Israel dan Amerika Serikat (AS) bahkan telah over dosis. Dalam kasus Palestina, mengutuk Israel sia-sia saja. Israel tidak memiliki kepentingan apapun dengan negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengannya.

Entah apa yang dulu diinginkan Gus Dur dengan membuka wacana membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Mungkinkah hubungan itu nantinya dapat digunakan alat untuk menyandera Israel? Mungkinkah hubungan itu akan digunakan  Indonesia untuk berbicara langsung dengan Israel sebagai dua buah negara? Ingat, kita tidak punya hubungan, kita tidak bisa berbicara dengan Israel.

Israel tidak takut kepada umat Islam Indonesia, bahkan tidak peduli. Indonesia tidak punya alat apapun untuk membuat Israel sedikit malu dengan kita. Toh, kita tidak berdagang dengan Israel. Kita tidak saling memberi makan. Kita tidak melakukan barter satu rupiah pun.

Bukan itu saja, Israel pun tidak takut kepada hukum Internasional. Resolusi PBB bukanlah hal yang menakutkan dan akan berbuah sanksi serius. Ada AS dengan kartu vetonya. Kenapa Israel tidak menaruh hati kepada konsensus Internasional?

Mungkin saja, Israel terlalu sakit hati dengan peristiwa pembantaian Yahudi selama PD II. Di manakah hari itu, hukum Internasional yang seharusnya melindungi Yahudi dari kekejaman Nazi? Israel mungkin dapat digambarkan pribadi tertindas yang menyimpan kebencian, kemudian berubah menjadi jahat.

Terlebih, umat Islam juga seharusnya lebih hati-hati tatkala membakar bendera Israel. Bintang dengan enam sudut dari dua segitiga yang ditangkupkan itu konon adalah lambang kerajaan Yerusalem di zaman Nabi Sulaiman, dan mungkin sekali telah dipakai semenjak di zaman Nabi Daud.

Bila kesejarahan itu benar, maka umat Islam tidak memiliki rasa takzhim kepada kedua Nabi yang dimuliakan dalam al-Qur’an tersebut. Dan mungkin sekali benar, karena dengan klaim historis membangun kembali Masjid Sulaiman, Israel mencoba menggusur Masjidil Aqsha.

Kita tidak boleh lupa, Israel membangun keyakinan teologis tentang Tanah Perjanjian yang dijanjikan Tuhan lewat Musa, dan diwujudkan dengan kenabian Daud. Tanah Perjanjian (Palestina) itu merupakan hak ekslusif dari Tuhan untuk bangsa Yahudi. Bangsa manapun yang menguasai Yerusalem, adalah musuh Tuhan, dan telah dzalim terhadap Tuhan. Tanah Perjanjian itu telah diperluas Sulaiman hingga Sinai. Dan cita-cita Israel begitu sederhana, membangun kembali kerajaan Sulaiman sebagai wujud dari keimanannya yang sejati.

Tapi, benarkah seluruh agamawan Yahudi setuju dengan konsep di atas? Ataukah itu hanyalah politisasi agama semata? Sama seperti doktrinasi Negara Islam dan Khilafah yang ditolak oleh mayoritas ulama Indonesia.

Lalu, bagaimana dengan mengutuk Amerika Serikat (AS) ? Bukankah umat Islam dan AS saling memberi makan? Melakukan barter  komoditas tanpa batas? Tapi, AS juga berdagang dengan Israel hingga menjadi sahabat yang tersandera. Kata AS apa kata Israel. Terlebih kini AS memiliki Trump, Presiden dengan ide-ide gila, termasuk dalam membela Israel.

Begitu rumit untuk menjelaskan proses penyanderaan itu, dan bagaimana tingkat keakutannya. Tidak ada yang mengerti benar kecuali Trump dan Netanyahu. Namun, kita harus berakal sehat, rakyat AS pun tak senang, pemerintahannya disandera orang lain.

Kembali kepada soal saling memberi makan antara AS dan Indonesia, tampaknya Indonesia (dan negara Islam lainnya) yang lebih tergantung jatah makannya kepada AS, bukan sebaliknya. Bila dunia Islam, dapat makan sendiri tanpa bantuan AS, kenapakah negara-negara Islam di Timur Tengah begitu segan kepada AS. Apa yang bisa kita banggakan dengan negara-negara makmur di Arab, terkait komitmennya dengan perjuangan rakyat Palestina? Kekayaan itu tak sepenuhnya distrategikan menjadi rahmat lil ’alamiin. 

Dalam Piagam Madinah dengan tegas Muhammad Saw memberikan garansi kepada Yahudi. Pasal itu berbunyi, “Sesungguhnya Yahudi Bani Auf, satu umat (satu kewarganegaraan) dengan orang-orang beriman”. Kemudian disusul dengan pasal-pasal yang menyebut berbagai kabilah Yahudi sebagai satu kesatuan warga negara dengan umat Islam di Madinah. Namun, persatuan umat yang dirintis oleh Muhammad Saw mengalami dinamika pasang surut.

Hubungan itu lebih banyak ditentukan oleh pemimpin-pemimpin politik yang berkuasa dalam tiap-tiap agama. Pemimpin terlahir bersama kemanusiaan yang naik turun antara derajat malaikat hingga turun menjadi binatang. Pemimpin terlahir dengan jutaan teriakan kasih sayang dan kebencian. Ada jarak, antara kebenaran ajaran agama dengan praktik kegamaan, terlebih dalam wilayah politik yang sarat dengan kepentingan oligarki dinasti (kelompok) tertentu.

Umat Islam yang terdzolimi, harus tetap bersikap adil, dan tidak menyimpan kebencian yang tidak benar dan tidak rasional. Umat Islam tidak boleh mengkampanyekan bahwa Nashrani dan Yahudi bersatu menghancurkan umat Islam. Dalam kesejarahannya, Nashrani dan Yahudi pun terlibat konflik yang panjang.

Kita boleh menghujat AS namun tidak mengkampanyekan kebencian kepada Nashrani, semata-mata karena AS didominasi umat Nashrani. Kita boleh menghujat Israel yang jahat itu, namun kita tidak boleh mengkampanyekan kebencian kepada bangsa Yahudi. Keduanya dalam wilayah sosial memiliki hak-hak kemanusiaan yang sama.

Lalu, siapakah yang terlupakan kita demo? Jawabannya adalah diri kita sendiri, negara-negara Islam yang tersandera oleh ketidakberdayaan. Kita harus berani mengkritik ke dalam, untuk bangkit.

Maka, Islam Indonesia harus berani melangkah di depan menyelesaikan konflik kemanusiaan di Palestina. Bukan hanya mengikuti arus politik negara-negara Islam di Timur Tengah yang gagal menstrategikan perdamaian selama 70 tahun.  Mungkin pesan itulah yang ingin disampaikan Yahya Tsaquf  kepada bangsa muslim terbesar ini. Indonesia jangan menunggu, negaramu sedang ditunggu-tunggu.

Jika pemerintah belum berani, bahkan sama sekali memikirkan strategi perdamaian itu, Yahya siap menjadi tumbal dari langkah besar ini. Tentu saja yang beliau tawarkan adalah perdamaian, bukan caci maki. Beliau membawa pesan Derus-Salem (Negera Damai) itu sendiri. Mengetuk pintu hati umat Nashrani dan Yahudi. Bukankah Eropa telah semakin lugas mendukung kemerdekaan Palestina?

Strategi teriak-teriak di jalanan itu harus segera dirubah dengan strategi nyata. Yahya yang telah lama memikirkannya, tahu jawabannya. Entah berhasil atau tidak, Yahya sedang menguji keberaniannya sebagai santri ideologis Gus Dur.

Arif Amani
Arif Amani
Sehari-hari menjadi imam anak-anak madrasah
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.