Rabu, Juni 16, 2021

Mengapa Saya Tertarik dengan Jaringan Islam Liberal

Tempat Masyarakat Adat bagi Indonesia?

Hari ini publik cukup dikejutkan dengan hasil investigasi Mata Najwa dengan tajuk Mata Najwa “Hukuman Suka-Suka” yang mengulik berbagai penyelewenagan hukum serta cerminan ketidaksetaraan...

Peran Ormas Mendidik Mualaf Nasionalis

Organisasi kemasyarakatan maupun keagamaan memiliki peran penting dalam mewujudkan mualaf yang nasionalis. Memahami nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan mengamalkannya dalam perilaku sehari-hari. Sebab, salah...

Jalan Terjal Koalisi Oposisi

Kanker darah yang menimpa Ani Yudhoyono tampaknya tak hanya menjadi kabar buruk bagi keluarga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat, namun juga bagi...

Feodalisme Yogyakarta Sebagai Pelindung Bangsa?

Semua orang tidak akan membantah julukan Yogyakarta sebagai kota budaya. Ibarat kata hanya sejengkal melangkah, pasti ada budaya yang berbeda. Provinsi terkecil kedua di...
Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.

Semenjak nyantri di Pesantren sejujurnya saya sangat tidak suka dengan orang-orang liberal yang tergabung dalam komunitas JIL. Ketidaksukaan saya bermula ketika saya cukup sering membaca buku-buku Hartono Ahmad Jaiz, salah seorang ustaz Wahabi yang berprofesi sebagai wartawan.

Dengan membaca buku-buku Hartono, praktis wajah orang-orang JIL di mata saya tak ubahnya seperti setan berwujud manusia yang memilik agenda besar untuk menyesatkan kaum beriman. Gerakan mereka didanai oleh orang-orang Barat. Mereka punya agenda yang merusak. Dan karena itu mereka harus dijauhi, atau kalau perlu dilaknat dan dihinakan seperti halnya Firaun yang dihinakan al-Quran.

Namun, sekitar satu-dua tahun sebelum lulus, saya dikenalkan dengan buku-buku Quraish Shihab, salah seorang ulama moderat yang hingga sekarang dihormati oleh banyak kalangan. Saya mulai kepincut dengan buku Membumikan al-Quran, Wawasan al-Quran, Lentera Hati, Secercah Cahaya Ilahi, Jilbab, satu jilid pertama dari Tafsir al-Mishbah dan buku-buku lainnya.

Ketika itulah saya mulai sadar bahwa cara pandang saya yang terasuki doktrin Wahabi itu ternyata salah besar. Islam tak sesempit yang mereka bayangkan. Islam itu luas bak lautan yang terhampar panjang. Dan keluasan ajaran Islam itu mestinya mampu menampung aneka ragam pandangan.

Dari buku-buku Quraish Shihab itulah saya mulai mempelajari wajah Islam yang dialogis, cair, sejuk, teduh, damai, dan menghargai perbedaan. Meski hanya pernah berjumpa sekali ketika di Kairo, sosok Quraish Shihab, saya rasa, telah merubah pandangan saya yang dulu sempit, kaku, kolot dan teracuni oleh doktrin Wahabi itu.

Setelah itu saya semakin sering membuka website JIL. Di dalam website ini, saya menemukan tulisan-tulisan yang ilmiah, segar, mencerahkan, dan memukau. Saya tidak mengingkari bahwa dalam website ini ada juga tulisan-tulisan yang, dalam hemat saya, sudah jauh menyimpang dari doktrin keislaman yang sudah mapan (dan itu ciri khas mereka sebenarnya).

Tapi, saya teringat ungkapan salah seorang ulama yang mengatakan bahwa di antara ciri-ciri yang menunjukan kealiman seseorang itu ialah kemampuan untuk melihat madu di dalam wadah yang terpenuhi dengan racun mematikan. Maksudnya, mampu melihat manfaat, kebaikan dan kebenaran di tengah padatnya informasi yang menyimpang.

Saya memang bukan orang alim. Tapi, saya tidak mau menjadi orang bodoh yang menolak kebaikan dan kebenaran dari kelompok yang selama ini disesat-kafirkan oleh banyak orang.

Kelompok ini belakangan sudah tidak terlihat aktif lagi dalam menggelorakan ide-ide keislaman progresif yang sejak yang dulu mereka sebarkan. Saya menduga keras bahwa ini pasti gara-gara Pilkada. Hahahaha

Tapi, lepas dari itu semua, saya ingin mengutarakan tiga hal yang membuat saya tertarik dengan komunitas yang bermarkas di Utan Kayu ini.

Pertama, orang-orang JIL ini, sejauh yang saya amati, memiliki kemampuan menulis yang memukau. Saya sering menganjurkan kepada adik-adik kelas saya di al-Azhar yang ingin mampu menulis untuk sering-sering membaca artikel di JIL. “Kamu belajar gaya penulisan mereka aja. Soal konten pemikiran, tidak perlu kamu amini semua.” Tutur saya kepada mereka.

Saya suka karena umumnya gaya penulisan mereka ilmiah, argumentatif, mengalir, tidak kaku, kadang lucu, dan yang pasti, ketika masuk kesana, kita akan diperkenalkan dengan istilah-istilah kemoderenan dalam dunia pemikiran Islam.

Selama di Mesir saya hanya mengunyah buku-buku berbahasa Arab. Dan saya merasa bahwa bacaan saya itu akan sia-sia jika tidak saya tuangkan dalam bentuk tulisan.

Salah satu tempat yang baik untuk belajar menuangkan tulisan ilmiah adalah JIL. Ya, dari orang-orang JIL lah saya mulai belajar menulis. Meskipun sampai saat ini saya selalu merasa kalau tulisan saya masih acak-acakan.

Belajar menulis dari orang-orang JIL tentu saja tidak berarti kalau kita harus menjadi bagian dari mereka atau mendukung semua pandangan-pandangan keislaman yang mereka kemukakan.

Jika Anda memang benar-benar kuatir terpengaruhi oleh pemikiran mereka, sebuah pepatah Arab mengatakan: “Khudz ma shafâ wa da’ ma kadar” (Ambil yang bening, dan tinggalkan yang keruh). Ini yang pertama.

Kedua, JIL ini selalu mengemukakan pandangan-pandangan keislaman yang modern dan memerhatikan denyut nadi perkembangan zaman. Pandangan-pandangan tersebut, sekali lagi, tidak harus seutuhnya Anda amini.

Tapi, setidaknya, dengan membaca artikel-artikel mereka kita akan diberikan tambahan wawasan mengenai diskursus-diskursus keislaman modern. Selain menambah wawasan, kita juga dilatih untuk menyampaikan bantahan.

Karena, bagaimana mungkin anda membantah satu pandangan yang dianggap menyimpang tanpa anda baca terlebih dahulu pandangan yang mereka sampaikan? Karena itu, dengan membaca artikel mereka, kita diberi tiga keuntungan sekaligus: Satu, dilatih untuk menulis dengan baik. Dua, diberikan tambahan wawasan. Tiga, didorong untuk menelurkan bantahan.

Ketiga, berbeda halnya dengan kelompok Wahabi yang berpikiran sempit dan mudah menyesatkan, orang JIL ini justru mendidik kita untuk berpikir kritis dan terbuka dengan keanekaragaman pandangan. Selain itu, mereka juga mengampanyekan Islam yang toleran.

Di satu sisi, tentu ini bagus demi kelangsungan negeri kita. Meskipun, di sisi lain, dalam merumuskan toleransi itu kita dan mereka bisa berbeda pandangan. Misal, demi upaya membumikan toleransi, mereka cenderung memandang semua agama benar.

Sebagai Muslim tradisional, saya tentu saja tidak setuju dengan pandangan mereka ini. Tapi yang jelas, spirit untuk membangun koeksistensi antar umat beragama adalah sesuatu yang kita amini bersama.

Setidaknya tiga hal inilah yang membuat saya tertarik dengan komunitas Jaringan Islam Liberal. Dengan segala kekurangan yang mereka miliki tentunya. Karena memang di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Tuhan yang Maha Kuasa.

Secara pribadi, saya tidak sepenuhnya simpatik dengan gerakan yang dilakukan oleh komunitas ini. Tapi yang jelas, saya melihat ada sisi kebaikan dalam kelompok ini yang tidak seharusnya kita tolak hanya karena mereka sering disesatkan oleh banyak kalangan.

Al-Quran mengajarkan kepada kita untuk bersikap adil dalam menilai suatu kelompok. “…Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa…” (QS 5: 8). Di sisi lain, Nabi Saw juga bersabda bahwa hikmah itu adalah harta hilang kaum beriman (dhallat al-Mu’min). Di manapun ia menemukan, maka hikmah itu lebih berhak untuk dia dapatkan.

Semua orang bisa menyuarakan pendapat yang diyakininya benar. Tapi, tidak semua orang mampu melihat kebenaran dari pendapat orang lain yang diyakininya tidak benar. Kebenaran itu bisa saja kita temukan pada mereka yang kita anggap tidak benar. Sebagaimana kesalahan juga sangat mungkin kita terima dari orang-orang yang selalu kita anggap benar.

Kairo, Saqar Quraish, 12 Juli 2017.

Muhammad Nuruddin
Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.
Berita sebelumnyaMenghapus Golongan
Berita berikutnyaBedol Ibu Kota bukan Bedol Desa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER