Senin, April 19, 2021

Mengapa Kita Sulit Mengapresiasi Prestasi Perempuan?

Kematian Demokrasi Substantif di Indonesia

Banyak pemimpin dan cendekiawan menegaskan bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang paling canggih, serta mampu menciptakan keharmonisan antara pemerintah dan warganya. Demokrasi memberdayakan warga negara...

Refleksi Atas Gerakan Mahasiswa

Akhir-akhir ini gerakan mahasiswa semakin masif dilakukan beberapa kota di Indonesia, ini didasarkan atas kondisi materiil saat ini yakni pandemi Covid-19 dan krisis ekonomi....

LGBTIQ, Religion, and Human Rights in Indonesia

IntroductionAustralia has just found the result of marriage postal survey regarding the same-sex marriage (SSM). Roughly 61,6% of Australian citizen has voted for a...

Setelah Nonton Film Sexy Killer, Haruskah Golput?

Sexy Killers adalah sebuah film dokumenter yang sedang banyak diputar di beberapa kota di Indonesia. Film ini disutradarai oleh Dandhy Laksono dan digarap bersama...
Ursula Florene
Penulis lepas yang menulis supaya tidak sedih.

Saya tengah meluncur di linimasa Twitter ketika mata saya menangkap sebuah gambar yang menarik. Seseorang membagikan screenshot artikel pertunangan Meghan Markle dan Pangeran Harry yang memang sedang hangat dibicarakan itu.

Uniknya, artikel dari situs JOE ini menggunakan judul Artis Sukses Meghan Markle Akan Menikahi Mantan Tentara. Wow, di tengah sindrom click bait yang tengah menjangkiti kebanyakan media saat ini, keputusan JOE untuk tidak meletakkan nama Harry di judul sangat luar biasa. Mengingat dia adalah magnet pembaca yang jauh lebih menarik daripada Markle –dengan statusnya sebagai pangeran Inggris yang sejak kecil sudah menjadi konsumsi media.

Tak hanya itu, artikelnya pun menitikberatkan pada prestasi Markle –seorang bintang serial Suits dan pegiat proyek kemanusiaan. Sungguh hal yang luar biasa, apalagi setelah mengetahui JOE mengklaim situsnya ‘ditujukan untuk pria.’

Saya lantas mencuit ulang gambar tersebut. Tak berapa lama seseorang mengirimkan balasan berupa screenshot berita topik serupa dari satu media di Indonesia.

Bertolak belakang dengan JOE, media ini memilih judul Pangeran Harry Tunangan dengan Janda Amerika dan saya pun melongo. Yap, media ini menganggap status janda Markle lebih menarik ketimbang prestasinya sebagai artis. Setelah googling, saya menemukan artikel di media lain dengan judul yang lebih parah, Meghan Markle, Janda Cantik Calon Istri Pangeran Harry.

Bagi penulis dan editor kedua artikel di atas, prestasi Markle seolah nihil dan tak akan membangkitkan minat pembaca untuk mengklik. Statusnya sebagai ‘janda’ dan ‘cantik’ dianggap lebih menarik khalayak umum.

Hingga saat ini, media di Indonesia memang masih cenderung lebih memperhatikan identitas ketimbang capaian dari seorang perempuan. Saya yakin, kalian semua pasti akrab dengan judul berita soal perempuan yang ditambah embel-embel cantik.

Masih ingat Nara Masista, Diplomat Muda Indonesia yang sempat viral karena memberikan pernyataan tegas kepada enam pemmpin negara Kepulauan Pasifik di Sidang Umum PBB tahun lalu? Media entah kenapa merasa perlu membubuhkan kata ‘cantik’ setelah ‘diplomat’ untuk memberitakan soal ini. Selanjutnya, beberapa media pun berlomba-lomba mencari akun media sosialnya untuk menulis artikel terkait gaya busana.

Apakah salah? Tidak sepenuhnya, hal itu lumrah ditemukan di artikel-artikel gaya hidup dan hiburan.

Tetapi apakah Nara berjuang keras meniti karier hingga menjadi Diplomat Muda dan berkesempatan bicara di depan para pemimpin dunia hanya untuk dipuji kecantikan atau gaya busananya? Bukankah ia bisa berada di sana karena kemampuannya berdiplomasi?

Saya kira ia berhak dapat apresiasi lebih dari sekedar tampilan fisiknya.

Demikian juga dengan para polwan. Kebanyakan berita terkait mereka pasti ditambahi embel-embel cantik, seolah kalau tidak berpenampilan menarik, kinerja mereka tidak layak mendapat sorotan media.

Frederickson dan Roberts pernah mengungkapkan objectification theory yang mengatakan “…that women exist in a culture which their bodies are ‘looked at, evaluated, and always potentially objectified.” Dalam hal pemberitaan media, perempuan tidak dipandang sebagai subyek yang mempunyai suara, martabat, prestasi, dan pemikiran seperti layaknya manusia biasa. Mereka dijadikan sekedar objek untuk mendongkrak jumlah pembaca.

Pemilihan kata ‘cantik’ atau ‘seksi’ sebenarnya tidak relevan dengan pemberitaan, namun tetap dicantumkan untuk menarik pembaca lelaki; tanpa mempertimbangkan perasaan si perempuan yang diobjektifikasi. Apakah dia ingin diberitakan karena kecantikannya, atau prestasinya? Mana yang sebenarnya ingin ia tonjolkan pada dunia?

Lebih jauh, sematan objektifikasi perempuan seperti ‘cantik’ atau ‘seksi’ dalam pemberitaan juga akan semakin memperburuk posisi perempuan di mata masyarakat. Secara tidak langsung, label identitas seperti ini memberikan stigma kalau perempuan harus cantik supaya mendapat apresiasi atas usahanya. Sekedar berprestasi saja tidak cukup.

Namun, kita juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media, karena mereka hanya memenuhi tuntutan pasar. Saya yakin, judul berita yang memuat kata-kata yang mengobjektifikasi perempuan pasti masih mendulang klik lebih banyak daripada yang tidak. Masyarakat Indonesia yang mayoritas masih menempatkan tubuh perempuan sebagai objek tentu sulit menghargai dari prestasi semata, tanpa pancingan seksis.

Tetapi saya kira media yang baik adalah yang mengedukasi masyarakat dengan menawarkan cara pandang baru. Bila mereka berhenti menulis artikel dengan judul seksis dan lebih menonjolkan prestasi, maka pola pikir masyarakat pun akan mulai bergeser.

Melihat seorang perempuan dari prestasinya, bukan status pernikahan atau penampilan fisiknya.

Ursula Florene
Penulis lepas yang menulis supaya tidak sedih.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.