Jumat, Juni 21, 2024

Meneropong Pola Pembangunan Negara

Pembangunan merupakan suatu bentuk usaha yang dilakukan oleh pemerintah untuk menyejahterakan rakyat. Dalam makna lain pembangunan merupakan cara yang dilakukan oleh pemerintah dengan berkesinambungan dan meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara untuk mewujudkan tujuan nasional.

Dalam dunia yang semakin berkembang ini, pembangunan  merupakan hal mutlak yang harus dilaksanakan. Pertumbuhan suatu Negara, salah satunya dapat dilihat dari bagaimana pembangunan yang ada di dalamnya. Tentu, pembangunan di sini akan salah jika hanya dimaknai sebagai pembangunan fisik

Penulis sendiri menyadari bahwa pembangunan saat ini seakan hanya menghasilkan utopia. Pembangunan yang dilaksanakan tidak memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat sendiri, atau dalam kata lain pembangunan selama ini merupakan produk dominasi rencana-rencana pemerintah provinsi/kabupaten saja.

Akhirnya pembangunan hanya menjadikan  masyarakat sebagai objek bukan sebagai subjek, sebagai penonton bukan sebagai pemain. Pertanyaan yang mungkin teapt untuk hal ini, adalah apakah benar pembangunan benar-benar untuk rakyat dan bertujuan menyejahterakan rakyat?

Secara sederhana dapat kita amati,  bagaimana proyek besar-besaran yang digalangkan pemerintah, dengan semakin banyaknya investor yang masuk, dalam rangka membangun, malah berbuntut panjang bagi ideologi, gaya hidup dan kebudayaan yang ada dalam masyarakat. Pembangunan sedikit-demi sedikit menyingkirkan bagaimana kebudayaan masyarakat serta pola interaksi yang terjadi.

Nilai-nilai, ideologi gaya hidup dan kebudayaan yang ada dalam masyarakat merupakan cermin dari bagaimana masyarakat tersebut, Dan bentuk serta pola perekonomian yang ada memberikan pengaruh secara sistematis untuk hal-hal tersebut terbentuk, hingga kemudian perekonomian berbalik mempengaruhi bagaimana nilai-nilai, ideologi, gaya hidup dan kebudayaan.

Tak Sesuai Kebutuhan

Masuknya pembangunan dengan corak iklim pasar bebas pada lingkungan masyarakat, sangat berdampak terhadap iklim perekonomian yang terjadi pada masyarakat. Pasar bebas dengan ciri-cirinya yang individualistik di sisi lain membuat untung pembangunan fisik, tetapi disisi lain merugikan pembangunan masyarakat. Masyarakat pedesaan dan tradisional yang memiliki kecenderungan egaliter, kerap menjadi korban bagaimana pembangunan dengan corak pasar bebas seperti ini.

Iklim pasar bebas yang menjadi ujung tombak pembangunan memberikan peluang bagi para investor untuk menginvestasikan modalnya. Di sini perlu ditekankan bahwa investor yang menanamkan modal pastilah berharap dapat mengeruk keuntungan dan meraup hasil dari modalnya itu.

Semakin banyak modal yang diinvestasikan, semakin besar pula harapan akan keuntungan yang dihasilkan. Cara-cara seperti inilah yang merubah keadaan, dimana orang-orang dengan kemampuan hidup rendah, yang tidak siap dengan iklim seperti itu, akan makin dipinggirkan menjadi budak-budak di negeri sendiri, menjadi penyakit-penyakit di lingkungan tempat lahirnya. Disinilah pertanyaan penulis diatas perlu di tuliskan kembali, untuk siapa sebenarnya pembangunan dilaksanakan?

Tersingkirnya masyarakat dalam pembangunan yang terjadi, adalah bukti bagaimana pembangunan itu berhasil secara fisik, tetapi gagal untuk semakin menyejahterakan masyarakat.

Dibangunnya infrastruktur-infrastruktur, pembangkit tenaga listrik, perusahaan-perusahaan transnasional malah tidak menguntungkan masyarakat baik secara materiil maupun moral, malah justru menjadikan masyarakat semakin terbebani. Selain hal tersebut, yang terjadi selama ini, adalah pola pembangunan bagi masyarakat yang tidak memperhatikan faktor-faktor lain terutama potensi masyarakat itu sendiri.

Tidak disertakannya masyarakat dalam perumusan pembangunan serta terlalu passivnya organisasi-organisasi yang mengurusi masyarakat merupakan salah satu sebab mengapa pembangunan yang ada tidak dirasakan dampak positifnya oleh masyarakat. Hal inilah yang mengakibatkan pembangunan tidak cocok dengan kawasan lingkungan, pengetahuan serta keahlian yang dimiliki oleh masyarakat.

Yang kemudian, berbuntut para pemuda, baik yang masih sekolah atau sebagai angkatan kerja lebih memilih untuk migrasi ke kota menjadi kaum urban atau bahkan bekerja di luar negeri menjadi tenaga kerja. Hal ini disebabkan tidak adanya lapangan kerja yang tepat atau keahlian meraka tidak sesuai dengan pola perekonomian yang ada dalam masyarakat.

Padahal di kota pun mereka sama saja, bahkan tanpa adanya keahlian yang dimiliki, paling pun hanya menjadi buruh. Mereka inilah yang saat kembali ke masyarakat malah kerap merusak tatanan masyarakat yang ada.

Pembangunan memang identik dengan modernisasi, tetapi pembangunan harus memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat yang dibangun. Jangan sampai dengan dibangun, justru semakin membuat masyarakat makin tersingkirkan.

Olehnya pembangunan harus diarahkan untuk mengoptimalkan potensi, pengetahuan serta ketrampilan dengan menyelaraskan antara kepentingan masyarakat dan kewajiban pemerintah.  Jangan sampai menunggu masyarakat menjadi sapi perah para investor. Marilah kita bangun diri sendiri, membangun lingkungan dan membangun negara bersama-sama.

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.