Minggu, Juli 21, 2024

Mencari Esensi Pancasila dalam Surah “Sapi Betina”

Hilman Musthafa
Hilman Musthafa
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir, tertarik untuk membicarakan dalam berbagai hal, baik politik, isu agama, dan berbagai macam masalah yang terjadi pada globalisasi

Indonesia merupakan negara republik yang juga memiliki dasar ideologi sebagai salah satu landasan hukum negara, dasar ideologi tersebut ialah pancasila.

Mempertentangkan Pancasila dengan Agama merupakan suatu kenaifan, dilihat dari proses perumusan pancasila yang telah disepakati oleh founding fathers yang mayoritas adalah seorang muslim.

Al-qur’an yang menjadi pedoman utama bagi pemeluk agama Islam, mengandung banyak sekali nilai-nilai kehidupan dari berbagai macam aspek yang baik untuk seluruh umat manusia, termasuk juga nilai Pancasila terdapat dalam al-Qur’an.

Surah Al-Baqarah (Sapi Betina) menjadi surah terpanjang dalam kitab suci al-Qur’an, disebut juga sebagai Fustatul Qur’an (Puncak al-Qur’an) karena menerangkan berbagai hukum yang tidak dijelaskan dalam surah lain, dan menyimpan berbagai macam nilai-nilai moral termasuk juga nilai Pancasila, dalam surah al-Baqarah terdapat ayat yang menjelaskan tentang aspek ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan serta keadilan yang mana sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila, Berikut pemaparan nilai-nilai Pancasila yang terkandung dalam surah al-Baqarah.

1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Dalam sila ketuhanan yang maha Esa, menjelaskan tentang pengakuan atas adanya kekuasaan lain diatas kekuasaan manusia, yakni meyakini tuhan sebagai penguasa tertinggi manusia. Islam merupakan agama yang hanya mengakui satu tuhan yakni Allah Swt. Ideologi utama dalam Islam yakni Tauhid menjadi rujukan oleh sila pertama dalam nilai yang terkandung didalamnya.

Dalam surah al-Baqarah terdapat ayat yang menegaskan nilai tauhid didalamnya yaitu pengakuan terhadap keEsaan Tuhan, yakni pada ayat 163:

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ(البقرة:١٦٣)

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Q.S al-Baqarah:163)

Dijelaskan dalam Tafsir As-Sa’di karya syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, ayat 163 ini menerangkan bahwa Allah yang mengabarkan tentang keEsaannya dan Allah yang paling benar perkataan-Nya bahwa Dia “sesembahan yang Maha Esa,” maksudnya, hanya satu dan sendiri pada dzat-Nya serta tidak ada sekutu bagiNya pada dzatNya. Oleh karena itu, apabila kondisinya demikian, maka Dialah yang berhak dituhankan dan disembah dengan segala bentuk peribadahan, dan tidak satu makhluk pun yang dapat disekutukan denganNya, karena sesungguhnya Dia, “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” bersifat Rahmat yang agung yang tidak bisa disamakan dengan rahmat seorangpun, yang meliputi segala sesuatu dan menyebar kepada setiap yang hidup.

2. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

Dalam sila kedua ini, mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang sangat tinggi dan dibuktikan dengan adanya pengakuan terhadap harkat dan martabat umat manusia dengan segala kewajiban dan hak nya, keadilan yang harus di dapatkan setiap manusia, diri sendiri, alam, dan hubungan terhadap Tuhan. Kemanusiaan yang adil dan beradab juga memberikan penjelasan bahwa manusia merupakan makhluk tuhan yang memiliki adab dan budaya sekaligus mempunyai daya cipta, rasa, karsa dan keyakinan terhadap sesuatu.

Dalam surah al-Baqarah terdapat ayat yang menunjukan sebuah kesadaran atas nilai-nilai kemanusiaan tanpa memandang perbedaan, yakni pada ayat 83:

وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًا … (البقرة:٨٣)

Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia… (Q.S al-Baqarah: 83)

Menurut kitab Li Yaddabbaru Ayatih dari kalimat { وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا }, perhatikanlah kata { لِلنَّاسِ } ayat ini memerintahkan kita untuk berkata baik kepada manusia tanpa membedakan diantara mereka jenis kelamin, kewarganegaraan, warna dan agamanya.

3. Sila Persatuan Indonesia

Dalam butir ketiga pancasila ini, menuntut agar semua masyarakat dapat hidup bersatu, persatuan artinya satu ungkapan bahwa dalam mencapai tujuan negara yang luhur, kegagalan suatu negara bisa disebabkan oleh tidak adanya persatuan. Dalam surah al-Baqarah, terdapat ayat yang menjelaskan tentang suatu perselisihan yang disebabkan oleh tidak bersatunya manusia, yang kemudian Allah utus para Nabi sebagai pemberi peringatan agar manusia bersatu pada ketauhidan yang sama, yakni pada ayat 213 yang artinya:

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”.

Menurut tafsir as-sa’di, mereka bersatu di atas petunjuk, kondisi itu selama 10 abad setelah Nabi Nuh, dan ketika mereka berselisih dalam perkara agama, lalu sekelompok dari mereka kafir, sedangkan sisanya masih tetap di atas petunjuk dan terjadi perselisihan, maka Allah mengutus kembali rasul-rasulNya untuk melalui antara manusia dan menegakkan hujjah atas mereka. Namun ada ayat yang lebih jelas memaparkan tentang nilai persatuan ini, yakni pada surah al-Hujurat ayat 13.

4. Sila Keempat (Permusyawaratan)

Dalam sila keempat, mengandung nilai permusyawaratan, yang mana menunjukkan bahwa untuk menyelesaikan suatu permasalahan haruslah dilakukan musyawarah mufakat untuk mencapai kesepakatan bersama dalam suatu hal. Dalam surah al-baqarah ayat 233 terdapat peristiwa yang menceritakan tentang pentingnya melakukan permusyawaratan untuk memutuskan suatu hal.

فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا…( البقرة : ٢٣٣)

Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. (Q.S al-Baqarah: 233)

Menurut Kitab Li Yaddabbaru AyatihPerhatikanlah manhaj robbani ini : { فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا } “Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya” jika dalam hal ini saja diwajibkan bermusyawarah dan bersepakat, maka bagaimana dengan orang yang hanya mengutamakan akalnya sendiri dalam perkara rumah tangga yang sempurna, tanpa memperhatikan keadaan yang terjadi dengan keluarga lainnya ?!

5. Sila Keadilan

Adil disini bermakna tidak berat sebelah, dan berpihak pada kebenaran dan tidak sewenang-wenang, salah satu contoh sikap adil ialah moderasi, Dalam surah al-Baqarah ayat 143 terdapat kalimat yang menjelaskan tentang moderasi (Pertengahan):

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ…( البقرة : ١٤٣)

Menurut Ustadz Marwan Hadidi bin Musa dalam Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’anUmat Islam mengambil pertengahan dalam masalah agama dengan orang yang Ghuluw (Berlebihan). Contohnya umat Islam tidak seperti Nasrani yang menuhankan Nabinya ataupun Yahudi yang kasar terhadap Nabinya. Umat Islam beriman kepada semua nabi.

Hilman Musthafa
Hilman Musthafa
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir, tertarik untuk membicarakan dalam berbagai hal, baik politik, isu agama, dan berbagai macam masalah yang terjadi pada globalisasi
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.