Senin, Mei 17, 2021

Menata Cerita di Gua

Covid-19, Sekolah, dan Bencana Generasi

Kasus penyebaran pandemi Covid-19 masih sangat tinggi, baik secara global, maupun nasional. Beragam usaha terus diupayakan untuk mencegah, mengobati dan meminimalisasi dampak yang ditimbulkan. Meskipun...

Hidayah

Mengucapkan kata hidayah sangatlah mudah. Namun, sesungguhnya dibalik kata hidayah yang mudah diucapkan itu terkandung mukjizat Allah SWT yang sangat luar biasa. Kamus Wikipedia...

Penyitaan Buku-buku Kiri di Kediri dan Wajah Literasi Kita

Di penghujung tahun 2018, lebih tepatnya pada tanggal 27 Desember kemarin. Datang berita yang mengejutkan sekaligus mengiris kewarasan kita semua. Di mana dalam isinya,...

Bradley Lowery dan pelajaran bagi para pecundang

Seniman kesohor di tanah Inggris bernama Banksy sempat berkata begini. “Percaya pada takdir hanya untuk pecundang. Itu adalah cara bagi pecundang untuk mencari alasan...
Rizka Nur Laily Muallifa
Reporter media daring dan penulis lepas. Mengelola Podcast Jangan Nyasar

Sekian pokok pepohonan cukup usia menyorotkan sekotak cahaya. Perjalanan melintas tapak-tapak tangga dari parkiran menuju sanggar tak menyeramkan seperti malam biasanya. Di kiblat bagian Kentingan, tepat waktu artinya telat. Dalam jeda menunggu itu, raut-raut cerewet saling curi omong. Dua gadis-penonton nekat irit kata. Mereka cuma tak sabar menyongsong pementasan.

Maksud menonton gara-gara penasaran dengan naskah dan lakon serta permainan Idnas Aral di pentas teater. Sekian ratus jam lalu, beberapa naskah lakon lain karangan Idnas Aral sudah jadi buku Tentang Ketidakpastian (2018) cukup lama numpang indekos. Penumpang tak mendapat simpati sampai ia dibawa pulang yang maha menguasai. Hanya sahaja, aku sudah agak lama mendengar satu-dua-tiga kesaksian.

Idnas Aral itu taat di jalan teater. Ia menulis naskah, menjadi sutradara, kadangkala juga memainkan sendiri lakon ciptaannya. Kesaksian sudah berani dipercaya karena dikatakan sekian orang yang memiliki pertautan langsung-tak langsung sedikit-banyak dengan ikhtiarnya berteater. Berani percaya artinya perlu menyangkal.

Tiga atau lima puisi adalah waktu menunggu. Puisi gubahan dua penyair Solo sayup-sayup terhantam pekik lima tokoh. Hasan, Naim, Boby, Sigit, dan gadis agak nekat — Bibid. Lima tokoh rekaan yang tampaknya mau dibikin ori itu membuka panggung Aguama (Idnas Aral, 2019) dengan gerutuan bergairah macam aksi demo mahasiswa menyambut reformasi. Seperti api yang tersulut di musim meranggas. Ahh.

Mereka piknik ke gua bermaksud mengasingkan diri. Mau tidur ratusan tahun dan baru akan bangun dan kembali ke rumah saat semua sudah baik-baik saja. Malam baru di gua malah ramai. Mereka mengutuk apa saja sebelum bergantian mementaskan diri masing-masing.

Gerutuan dan kutukan mungkin enggan melewatkan apapun, apatah penceramah bodong, jual-beli agama, jihad berahi, politik ompong, koruptor yang makin percaya diri, pembohongan media massa dan media maya yang tak henti-hentinya. Pokoknya gua buatan di sanggar Teater Tesa FIB UNS itu malah berjarak dari niat membangun gua kahfi sendiri/dalam lolong panjang malam, meski sama-sama tak lagi membuatnya tidur (Puitri, 2016: hlm. 85).

Mencundangi Mimpi

Hasan itulah sebab keberangkatan sekelompok muda gusar pada segala ke gua. Tidur ratusan tahun dan baru akan bangun dan kembali ke rumah saat dunia sudah baik-baik saja itu mimpi Hasan. Mimpi yang ditawarkan kepada sekelompok kawan dekat dengan daya dukung bicaranya yang wibawa.

Mimpi yang sebetulnya cuma mengusik Hasan. Sebab ternyata keempat kawan yang pergi membersamainya tidak sungguh-sungguh mengalami kegelisahan seperti yang dirasakan Hasan. Keikutsertaan mereka adalah rupa kekhawatirannya pada sang karib.

Malam di gua saat lima tokoh itu batal nyenyak, mereka sepakat bergantian panggung mementaskan kisah diri. Sigit yang kecanduan menonton kabar pujaan hatinya melalui kilas cerita instagram galau karena kepergian mereka ke gua mensyaratkan ketidakikutsertaan ponsel.

Penolakan tak membuat Sigit merasa kehilangan gairah. Bagaimanapun ia merasakan setiap saat sang pujaan hati ada di dekatnya, menyapanya melalui story-story instagram. Sapaan untuk puluhan-ratusan-atau bahkan ribuan khalayak maya itu dianggapnya sebagai sapaan khusus untuknya. Sigit jadi netizen kebingungan 2×24 jam/Sang idola mangkir dari instagram (Jason Ranti, 2017). Gejala sakit asmara 4.0 yang nyata.

Kisah asmara Naim malah jadi tumbal penipuan berjenis kelamin ag(u)ama. Wakil Tuhan yang menubuh dalam sosok lelaki sepuh bertudung sorban membaiat Naim sebagai penegak suara-suara Tuhan. Menjanjikan perjuangan yang akan ditempuh Naim dengan surga dan wanita molek di sana.

Naim pamit pada gadis pujaannya. Ia akan jihad, jadi mereka harus berpisah. Ada janji wanita molek di surga kelak. Pacar Naim berang. Ia kabarkan sudah habis pertahanan dirinya menolak pinangan seorang lelaki. Mendengar itu, Naim lebih berang. Tahu bahwa Tua Bandotlah lelaki peminang yang dimaksud pacarnya. Lelaki yang hari sebelumnya mendaku sebagai wakil Tuhan dan membekali Naim dengan ransel jihad.

Bibid sebagai satu-satunya perempuan membawa suara yang mudah ditebak tapi memang tetap aktual. Apalagi kalau bukan soal tubuh dan gender “kedua”. Meski ia sempat membangun kisah retorik ihwal perempuan. Menantang kegagahan empat lelaki dengan pengorbanan perempuan pada mulanya.

Tapi kisah itu tak berterima. Empat lelaki menduga Bibid cuma pamrih kemampuan mengarang cerita. Bibid akhirnya menyilakan para lelaki membaca kemurungan-kepedihan kisah perempuan melalui tubuhnya. Tubuhnya sebagai tubuh perempuan, terampas haknya, tercabik harga dirinya, terbuang dari kemajuan berpikir yang perlu. Tubuh perempuan melulu tubuh yang kalah.

Kehadiran Bibid sebagai perempuan tunggal dalam Aguama tak memberi perspektif perlawanan atas segala kekalahan seandainya di akhir cerita tubuh itu menyerah menemani kegilaan lelaki yang dicintainya tidur di gua. Perempuan dalam Aguama selamat. Tak menambah daftar panjang perempuan kalah.

Biarlah Hasan tidur dalam pelukan bualan-bualan nun suci. Tanpa gangguan (si)apapun. Naim, Sigit, Boby, Bibid betatapun besar rasa kasihnya pada Hasan tak harus urun iman pada ambisi seorang sahaja. Bagaimanapun semrawutnya hidup, toh hanya itu yang kita punya. Tsah!

 

Rizka Nur Laily Muallifa
Reporter media daring dan penulis lepas. Mengelola Podcast Jangan Nyasar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.