Selasa, Juli 23, 2024

Memetik Ibrah Tahun 2018

Rosidin
Rosidin
S3 IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pendidikan Islam [2010-2012]. Dosen STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang. Penggemar Kajian Tafsir Tarbawi (Pendidikan) secara khusus dan kajian keIslaman secara umum.

Kehidupan manusia terdiri dari tiga periode: masa lalu, masa kini dan masa depan. Terkait masa lalu, Islam memperkenalkan konsep ‘ibrah, yaitu menarik pelajaran dari peristiwa yang sudah terjadi (Q.S. Yusuf [12]: 111). Sepanjang tahun 2018, banyak peristiwa penting yang dapat dipetik ‘ibrahnya, demi perbaikan kehidupan di masa kini dan masa depan (Q.S. al-Hasyr [59]: 18).

Pertama, tragedi pengeboman gereja di Surabaya dan Sidoarjo (Mei 2018) yang setidaknya menewaskan 25 orang dan mencederai 57 orang. Ironisnya, pelaku adalah satu keluarga muslim yang dikenal taat shalat berjamaah. Bom bunuh diri yang berkedok “jihad” seperti ini terjadi karena pelaku salah dalam memahami Islam, sehingga lebih memilih paham Islam yang marah, bukan paham Islam yang ramah.

Sebagai alternatif solusi, perlu digalakkan dakwah, pendidikan dan pembudayaan paham Islam yang moderat (Q.S. al-Baqarah [2]: 143). Yaitu meyakini Islam sebagai agama yang paling benar (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 19), namun bersikap toleran kepada umat agama lain yang tidak memerangi umat muslim (Q.S. al-Mumtahanah [60]: 8).

Kedua, pengeroyokan suporter bola yang menewaskan satu korban jiwa (September 2018). Ironisnya, enam orang dari delapan tersangka pelaku pengeroyokan, merupakan generasi muda (usia 16-20 tahun). Parahnya lagi, para suporter lain yang melihat aksi pengeroyokan, bersikap acuh tak acuh, bahkan tega memvideokan dan mengunggahnya di media sosial. Peristiwa ini menandai krisis kemanusiaan yang melanda Indonesia dan menodai sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Sebagai alternatif solusi, perlu diperkuat lagi jalinan kerjasama lembaga pendidikan dengan aparat penegak hukum. Lembaga pendidikan bertanggung-jawab mendidikkan nilai-nilai kemanusiaan; sedangkan aparat penegak hukum bertanggung-jawab menindak segala bentuk sikap, perkataan dan perbuatan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Inilah yang diteladankan Rasulullah SAW.

Misalnya, sebagai pendidik, Rasulullah SAW bersabda bahwa pembunuhan tanpa alasan yang benar merupakan dosa besar yang wajib dihindari (H.R. al-Bukhari). Sebagai hakim, Rasulullah SAW memutuskan hukum qishash bagi pelaku pembunuhan tanpa alasan yang benar (Q.S. al-Ma’idah [5]: 33).

Ketiga, gempa di Lombok (Juli 2018) dengan jumlah korban mencapai 564 jiwa; gempa dan tsunami di Palu (September 2018) dengan jumlah korban mencapai 2.113 jiwa; tsunami selat Sunda (Desember 2018) dengan jumlah korban mencapai 373 jiwa (24/12). Semua ini merupakan bencana alam yang tidak dapat dikontrol oleh manusia.

Sebagai alternatif solusi, al-Qur’an menyerukan sikap sabar yang dilandasi kalimat istirja’, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Q.S. al-Baqarah [2]: 155-157). Inna yang bermakna “sesungguhnya kami”, mengisyaratkan pentingnya solidaritas sosial. Semakin banyak orang yang berbela-sungkawa dan berempati atas musibah yang terjadi, semakin ringan beban yang ditanggung korban dan keluarga korban.

Hal ini terbukti dengan banyaknya manfaat yang diperoleh dari berbagai aksi solidaritas sosial berupa penggalangan dana yang disalurkan kepada para korban dan keluarga korban bencana alam. Sedangkan kalimat berikutnya mengisyaratkan bahwa setiap musibah seharusnya mengingatkan manusia kepada Allah SWT. Misalnya, lebih aktif melakukan istighatsah, yaitu berdoa bersama memohon pertolongan kepada Allah SWT agar selamat dari bencana alam.

Keempat, tenggelamnya kapal di Danau Toba (Juni 2018) dengan jumlah korban mencapai 96 jiwa; jatuhnya pesawat Lion Air (Oktober 2018) dengan jumlah korban mencapai 196 jiwa; kecelakaan di perlintasan kereta api di Surabaya (Juli-Oktober 2018) dengan jumlah korban mencapai 7 jiwa. Semua ini merupakan contoh musibah yang melibatkan peranan manusia (Q.S. al-Syura [42]: 30).

Mengingat berbagai musibah tersebut sedikit-banyak melibatkan keteledoran manusia, seperti halnya kekalahan pasukan muslim di Perang Uhud; maka alternatif solusinya dapat mengacu pada “sikap” al-Qur’an terkait kekalahan di Perang Uhud, yaitu Q.S. Ali ‘Imran [3]: 159 yang menekankan pentingnya musyawarah.

Praktisnya, harus ada musyawarah antar pihak terkait, hingga menemukan solusi yang disepakati bersama, untuk meminimalisasi potensi kecelakaan transportasi. Misalnya, musyawarah antara pemerintah, perusahaan jasa transportasi dan perwakilan pengguna jasa transportasi.

Kelima, wafatnya ulama di Jawa Timur. Antara lain KH. Sholeh Qosim (Pengasuh PP An-Nidhomiyah Sidoarjo) yang wafat ketika menunaikan shalat Maghrib (Mei 2018); KH. Agus Imam Saerozi (Pengasuh PP Roudlotul Muta’allimin Babat) yang wafat saat hendak berangkat mengisi ceramah (Oktober 2018); KH. Buchori Amin yang wafat saat mengisi pengajian umum (Desember 2018).

Banyaknya ulama yang wafat, mengingatkan umat muslim untuk mendukung program regenerasi atau kaderisasi. Idealnya, umat muslim itu bagaikan tanaman yang terus menumbuhkan tunas baru; lalu tunas baru tumbuh menjadi tanaman yang menopang tanaman sebelumnya; sehingga tanaman tersebut semakin kokoh (Q.S. al-Fath [48]: 29).

Praktisnya, para ustadz didukung dan difasilitasi untuk menjadi kader ulama; para santri didukung dan difasilitasi untuk menjadi kader ustadz; sedangkan anak-anak kecil didukung dan difasilitasi untuk menjadi kader santri. Oleh sebab itu, perlu dibangun kemitraan yang harmonis antara generasi senior dengan generasi junior. Generasi senior rela berbagi keilmuan, pengalaman dan kebijaksanaannya kepada generasi junior; bukan malah menjadikan generasi junior sebagai pesaing yang harus diredam potensinya.

Keenam, prestasi Indonesia pada Asian Games 2018 (Agustus-September 2018), baik sebagai tuan rumah (Jakarta-Palembang) maupun peserta (peringkat keempat). Momen Asian Games 2018 membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu hidup secara harmonis, jika fokusnya adalah kepentingan bangsa dan negara, bukan kepentingan kelompok dan golongan. Jika fokusnya adalah kepentingan kelompok dan golongan, seringkali bangsa Indonesia terjebak dalam fanatisme (Q.S. al-Rum [30]: 32).

Akibatnya terjadi konflik antar sesama bangsa Indonesia, bahkan antar umat muslim Indonesia. Misalnya, fanatisme kepada capres-cawapres tertentu yang seringkali memicu konflik akut di media sosial.

Sebagai alternatif solusi, al-Qur’an menekankan pentingnya membaiki “pondasi hubungan” (Q.S. al-Anfal [8]: 1). Surat al-Anfal [8]: 1 dilatar-belakangi oleh konflik para shahabat, antara generasi tua dengan generasi muda, terkait harta rampasan perang (al-anfal) yang diperoleh dari Perang Badar.

Lalu kedua generasi tersebut berdamai kembali, karena diingatkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, bahwa mereka semua memiliki satu “pondasi hubungan” yang sangat kokoh, yaitu sama-sama umat muslim. Jadi, untuk meredam potensi konflik antar bangsa Indonesia yang dilatar-belakangi pilihan politik, perlu disosialisasikan dan dididikkan melalui berbagai media komunikasi, bahwa kita semua memiliki “pondasi hubungan” yang kokoh, yaitu sama-sama warga Indonesia.

Sumber Foto:

https://www.infoastronomy.org/2017/12/20-peristiwa-langit-menarik-di-tahun-2018.html

Rosidin
Rosidin
S3 IAIN Sunan Ampel Surabaya, Pendidikan Islam [2010-2012]. Dosen STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang. Penggemar Kajian Tafsir Tarbawi (Pendidikan) secara khusus dan kajian keIslaman secara umum.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.