Sabtu, Mei 15, 2021

Membunuh Logika Mahasiswa

Rokok, Pulsa, dan Gizi

Isu swasembada pangan selalu menarik untuk diulas, dan  krusial ketika  jadi bagian tema pada momentum debat capres tahap kedua pada Minggu malam (17/2) lalu....

Peran Tarekat untuk Mengatasi Ekstremisme-Terorisme

Problem mendasar dari kelompok irhabis (teroris) adalah pahatan ideologi yang menggerakkan sel-sel tubuh mereka ke dalam lapangan terorisme. Itulah mengapa pendekatan lunak (soft-approach) lewat deradikalisasi ideologi...

Bulan Pertama 2021, Sejauh Mana Resolusimu?

2021 sudah berjalan hampir 1 bulan. Sudah saatnya kembali mengevaluasi resolusi yang sudah kita buat untuk tahun ini. Kebanyakan dari kita mungkin membuat resolusi...

Polemik Kebijakan Luar Negeri Trump yang “Realis”

Berawal dari kicauan twitter Trump terkait pernyataan perang tarif dagang berhasil menandai awal perang dagang Trump dengan seluruh dunia yang melibatkan pertempuran tetapi tidak...
Abdul Hadi
Abdul Hadi, bernama lengkap Muhammad Abdul Hadi, Jurnalis Kampus LPM Ekspresi UNY dan bergiat di komunitas baca Yogyakarta. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia juga menulis cerpen dan esai.

Iklan sebuah produk belajar di web daring nasional menuliskan tajuk “Tak Ada Lagi Pelajaran Matematika di Negara Ini!”. Bagi masyarakat umum, matematika tidak lain hanya upaya perhitungan. Pembelajaran menghafal rumus dengan telaten.

Di antara maraknya aplikasi kalkulasi dan statistik, peran matematika dirasa tidak lagi memadai. Menanggapi pandangan demikian, Iwan Fals lantas menulis di Twitter: “Matematika itu cara berpikir, bukan kumpulan rumus siap pakai. Belajar matematika itu belajar berpikir matematis.” Bagi Iwan Fals sendiri, matematika tidak berhenti pada mata pelajaran saja, melainkan cara berlogika dan memecahkan masalah.

Buruknya pengembangan berpikir logis-matematis di dunia pendidikan memberi pengaruh besar pada sikap masyarakat. Wono Setya Budi (2018) memberi contoh kecil, misalkan mengapa ongkos masuk jalan tol harus naik setiap dua tahun?

Karena ada UU-nya. Dialektika mandek di sini karena sudah diatur pada rumus yang ada (dalam hal ini UU). Mengapa penangkapan seseorang harus terluka? Jawabannya tidak tahu. Sudah ada prosedurnya. Serupa dengan respon siswa yang menjawab soal karena rumus yang diperoleh dari guru.

Masyarakat berhenti berpikir dan bertanya. Kenapa? Tidak jauh dengan pembelajaran di Perguruan Tinggi (PT) berbasis humaniora, mahasiswa dijejalkan dengan banyak wawasan dan didikte untuk menghafal. Logikanya dipangkas. Mahasiswa diajarkan untuk menjalani prosedur standar sesuai dengan kurikulum PT bersangkutan.

Lemahnya logika mahasiswa ini dapat dilihat dari perkembangan radikalisme yang subur di PT. Mahasiswa gagal berlogika, sehingga tidak mampu memilah informasi relevan. Tidak bisa membedakan antara yang benar dan hoaks. Sudah demikian yang diterima.

Bertolak belakang dengan salah satu keterampilan yang wajib dikuasai di era 4.0: kemampuan logika dan literasi data. Menjadi persoalan ketika mahasiswa melek data, pandai mengkonsumsi informasi di atas layar gawai namun berhenti bertanya dan memverifikasi, tidak menyeleksi, serta lalai memilah informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Atau informasi yang diluapi narasi kebencian kepada pihak lain yang berupaya memecah-belah bangsa.

Tidak heran, Presiden Jokowi “gemas” melihat perkembangan PT di Indonesia yang dianggap tidak tanggap perubahan zaman. Lantas Kemristek dan Dikti melakukan terobosan kebijakan menuju Pendidikan Tinggi 4.0. Lompatan ini berupaya menentang aneka nomenklatur bahwa PT tidak mampu beranjak dari pedadogi masa silam. Pedadogi sesuai struktur dan prosedur.

Menyambut hal demikian, pengembangan infrastruktur pendidikan kemudian digenjot. Utamanya, gedung serta fasilitas kelas. Laboratorium dan digitalisasi instrumen pendidikan terus diadakan. Bahkan anggaran pendidikan sudah naik tajam mencapai Rp 400 triliun. Namun, berbagai pengembangan tersebut belum menyentuh faktor esoteris akademik. Kultur belajar dan pembelajaran masih berjalan di tempat, belum beranjak dari tradisi puluhan tahun silam.

Di era disrupsi ini, PT membutuhkan paradigma perubahan belajar. Mahasiswa tidak boleh lagi diperlakukan sebagai objek. Pendekatan intervensif dalam pola pendidikan PT tidak lagi relevan. Seharusnya di era 4.0, pendidikan sudah melampaui paradigma andragogi (pendidikan orang dewasa) hingga pendekatan heutagogi yang menempatkan mahasiswa secara bebas mendesain sendiri cara belajar mereka (self-directed/determined learning).

Di lain sisi, yang perlu ditekankan adalah pembekalan logika yang kuat. Oleh sebab itu, pembelajaran matematika dan logika menjadi fokus yang harus ditanamkan sejak dini. Mengamini pendapat Prof. Syamsul Rizal bahwa tidak usah terlalu jauh mengikat mahasiswa dengan kurikulum pembelajaran moral dan budi pekerti.

Apalagi menghabiskan anggaran untuk hal-hal yang sulit diukur. Padahal, kualitas logis-matematis mahasiswa Indonesia hanya setara dengan kualitas siswa SMP di Singapura (Sulastri, Johar, & Munzir, 2014). Wajar jika paham radikalisme tubuh subur di lingkungan PT, mahasiswanya tidak mampu berdialektika logis dengan benar. Kemudian terhasut pada demagogi yang ada sehingga mudah dituntun oleh informasi agitatif. Mereka tidak lagi bertanya. Kenapa? Sudah prosedurnya seperti itu.

Momentum di era 4.0 harus ditangkap sebagai upaya menumbuhkan kesadaran logis. Mengembangkan keterampilan literasi data yang mumpuni. Terlebih lagi di tengah arus informasi yang deras, mahasiswa yang gagal berlogika akan mudah hanyut dalam lautan perubahan. Pilihannya hanya dua: terus berkembang atau hilang.

Daftar Pustaka

Budi, W.S. 2018. Matematika di Era 4.0. Kompas, 21 Maret 2018

Sulastri, R., Johar, R., Munzir, S. 2014. Kemampuan Mahasiswa Program Studi Pendidikan MatematikaFKIP Unsyiah Menyelesaikan Soal PISA Most Difficult Level. Jurnal Didaktik Matematika, Vol. 1, No. 2, September 2014

Abdul Hadi
Abdul Hadi, bernama lengkap Muhammad Abdul Hadi, Jurnalis Kampus LPM Ekspresi UNY dan bergiat di komunitas baca Yogyakarta. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia juga menulis cerpen dan esai.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.