Sabtu, Mei 8, 2021

Membunuh Logika Mahasiswa

Ihwal Pengerahan TNI di Daerah

Di Minggu pertama bulan Maret lalu, tepatnya tanggal 6 Maret 2017, gubernur Sumatera Barat menerbitkan sebuah Surat Edaran (SE) no.521.1/1984/distanhorbun/2017 tentang Dukungan Gerakan Percepatan...

Meninjau Kembali Apakah Teroris Punya Agama?

"Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apa pun, Semua ajaran agama menolak terorisme apa pun alasannya. Seluruh aparat negara...

Surat untuk Bang Anies

kata" Pribumi" yang dilontarkan seketika itu meruntuhkan kekagumanku padanya. sekian lama aku bungkam, ketika AHOK harus bertarung melawan beliau di dalam pentas pemilihan Gubernur...

Paperless Culture

Kertas adalah benda ajaib yang membantu dan memudahkan banyak hal dalam hidup kita. Mulai dari pembungkus makanan, buku catatan, tisu hingga struk belanja, kehidupan...
Abdul Hadi
Abdul Hadi, bernama lengkap Muhammad Abdul Hadi, Jurnalis Kampus LPM Ekspresi UNY dan bergiat di komunitas baca Yogyakarta. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia juga menulis cerpen dan esai.

Iklan sebuah produk belajar di web daring nasional menuliskan tajuk “Tak Ada Lagi Pelajaran Matematika di Negara Ini!”. Bagi masyarakat umum, matematika tidak lain hanya upaya perhitungan. Pembelajaran menghafal rumus dengan telaten.

Di antara maraknya aplikasi kalkulasi dan statistik, peran matematika dirasa tidak lagi memadai. Menanggapi pandangan demikian, Iwan Fals lantas menulis di Twitter: “Matematika itu cara berpikir, bukan kumpulan rumus siap pakai. Belajar matematika itu belajar berpikir matematis.” Bagi Iwan Fals sendiri, matematika tidak berhenti pada mata pelajaran saja, melainkan cara berlogika dan memecahkan masalah.

Buruknya pengembangan berpikir logis-matematis di dunia pendidikan memberi pengaruh besar pada sikap masyarakat. Wono Setya Budi (2018) memberi contoh kecil, misalkan mengapa ongkos masuk jalan tol harus naik setiap dua tahun?

Karena ada UU-nya. Dialektika mandek di sini karena sudah diatur pada rumus yang ada (dalam hal ini UU). Mengapa penangkapan seseorang harus terluka? Jawabannya tidak tahu. Sudah ada prosedurnya. Serupa dengan respon siswa yang menjawab soal karena rumus yang diperoleh dari guru.

Masyarakat berhenti berpikir dan bertanya. Kenapa? Tidak jauh dengan pembelajaran di Perguruan Tinggi (PT) berbasis humaniora, mahasiswa dijejalkan dengan banyak wawasan dan didikte untuk menghafal. Logikanya dipangkas. Mahasiswa diajarkan untuk menjalani prosedur standar sesuai dengan kurikulum PT bersangkutan.

Lemahnya logika mahasiswa ini dapat dilihat dari perkembangan radikalisme yang subur di PT. Mahasiswa gagal berlogika, sehingga tidak mampu memilah informasi relevan. Tidak bisa membedakan antara yang benar dan hoaks. Sudah demikian yang diterima.

Bertolak belakang dengan salah satu keterampilan yang wajib dikuasai di era 4.0: kemampuan logika dan literasi data. Menjadi persoalan ketika mahasiswa melek data, pandai mengkonsumsi informasi di atas layar gawai namun berhenti bertanya dan memverifikasi, tidak menyeleksi, serta lalai memilah informasi yang sesuai dengan kebutuhan. Atau informasi yang diluapi narasi kebencian kepada pihak lain yang berupaya memecah-belah bangsa.

Tidak heran, Presiden Jokowi “gemas” melihat perkembangan PT di Indonesia yang dianggap tidak tanggap perubahan zaman. Lantas Kemristek dan Dikti melakukan terobosan kebijakan menuju Pendidikan Tinggi 4.0. Lompatan ini berupaya menentang aneka nomenklatur bahwa PT tidak mampu beranjak dari pedadogi masa silam. Pedadogi sesuai struktur dan prosedur.

Menyambut hal demikian, pengembangan infrastruktur pendidikan kemudian digenjot. Utamanya, gedung serta fasilitas kelas. Laboratorium dan digitalisasi instrumen pendidikan terus diadakan. Bahkan anggaran pendidikan sudah naik tajam mencapai Rp 400 triliun. Namun, berbagai pengembangan tersebut belum menyentuh faktor esoteris akademik. Kultur belajar dan pembelajaran masih berjalan di tempat, belum beranjak dari tradisi puluhan tahun silam.

Di era disrupsi ini, PT membutuhkan paradigma perubahan belajar. Mahasiswa tidak boleh lagi diperlakukan sebagai objek. Pendekatan intervensif dalam pola pendidikan PT tidak lagi relevan. Seharusnya di era 4.0, pendidikan sudah melampaui paradigma andragogi (pendidikan orang dewasa) hingga pendekatan heutagogi yang menempatkan mahasiswa secara bebas mendesain sendiri cara belajar mereka (self-directed/determined learning).

Di lain sisi, yang perlu ditekankan adalah pembekalan logika yang kuat. Oleh sebab itu, pembelajaran matematika dan logika menjadi fokus yang harus ditanamkan sejak dini. Mengamini pendapat Prof. Syamsul Rizal bahwa tidak usah terlalu jauh mengikat mahasiswa dengan kurikulum pembelajaran moral dan budi pekerti.

Apalagi menghabiskan anggaran untuk hal-hal yang sulit diukur. Padahal, kualitas logis-matematis mahasiswa Indonesia hanya setara dengan kualitas siswa SMP di Singapura (Sulastri, Johar, & Munzir, 2014). Wajar jika paham radikalisme tubuh subur di lingkungan PT, mahasiswanya tidak mampu berdialektika logis dengan benar. Kemudian terhasut pada demagogi yang ada sehingga mudah dituntun oleh informasi agitatif. Mereka tidak lagi bertanya. Kenapa? Sudah prosedurnya seperti itu.

Momentum di era 4.0 harus ditangkap sebagai upaya menumbuhkan kesadaran logis. Mengembangkan keterampilan literasi data yang mumpuni. Terlebih lagi di tengah arus informasi yang deras, mahasiswa yang gagal berlogika akan mudah hanyut dalam lautan perubahan. Pilihannya hanya dua: terus berkembang atau hilang.

Daftar Pustaka

Budi, W.S. 2018. Matematika di Era 4.0. Kompas, 21 Maret 2018

Sulastri, R., Johar, R., Munzir, S. 2014. Kemampuan Mahasiswa Program Studi Pendidikan MatematikaFKIP Unsyiah Menyelesaikan Soal PISA Most Difficult Level. Jurnal Didaktik Matematika, Vol. 1, No. 2, September 2014

Abdul Hadi
Abdul Hadi, bernama lengkap Muhammad Abdul Hadi, Jurnalis Kampus LPM Ekspresi UNY dan bergiat di komunitas baca Yogyakarta. Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia juga menulis cerpen dan esai.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.