Rabu, Juni 16, 2021

Membangun Pariwisata Masa Pandemi

Bagaimana Masa Depan Islam Mazhab Ciputat?

Sejak tahun 80-an Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta dikenal "angker" oleh sebagian masyarakat, pasalnya mereka menduga IAIN Jakarta adalah sarangnya orang-orang Islam liberal,...

Sekolah dan Zona Nyaman

Zaman senantiasa berkembang, tetapi apakah sekolah kita juga berkembang? Apa syarat utama perkembangan itu? Apakah sekolah sudah memilik syarat itu? Sebagai institusi, sekolah sepertinya...

Terowongan Silaturahmi dan Ilusi Ruang Temu

Rencana pembangunan terowongan antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral sebagaimana disebutkan Presiden Joko Widodo (7/2) tampak menjadi polemik. Berbagai pro dan kontra muncul dari...

Berlindung di Belakang Jargon Islam

Jargon-jargon anti Islam, kriminalisasi ulama, pembungkaman media Islam, pelemahan umat Islam dan lain sebagainya kian marak berkembang di Indonesia. Jargon tersebut akan semakin menguat...
Zam Zam Masrurun
Tourism Analyst di Shirvano Consulting dan Dosen Pariwisata Universitas Hamzanwadi

Berkaca dari kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah berkaitan dengan kepariwisataan pada masa pandemi Covid-19 dewasa ini dirasa mengkhawatirkan. Misalnya seperti keengganan dalam menutup pintu masuk kedatang wisatawan asing pada masa awal pandemi, hingga alokasi dana milyaran untuk buzzer demi mengamankan citra destinasi yang juga santer menuai kritik publik. Ketergantungan akan pasar pariwisata internasional seolah-olah tergambar jelas dari kebijakan-kebijakan tersebut.

Menarik memang di era globalisasi seperti saat ini pariwisata telah menjadi komponen penting ekonomi dunia, pun tak pelak terjerat dalam arus globalisasi yang begitu luar biasa. Karena kegiatan pariwisata internasional secara inheren melibatkan transportasi lintas negara, arus modal global. Informasi dan layanan di sektor pariwisata nyatanya memang jauh lebih sering dan lebih intens daripada yang ada di sebagian besar industri atau sektor ekonomi lainnya.

Tetapi barangkali ramalan ZHAO dan LI yang ditulis pada Chinese Geographical Science Journal tahun 2006 dengan judul Globalization of Tourism and Third World Tourism Developmenyang dalam beberapa poin coba ditulis ulang oleh penulis, karena betapa tulisannya sangat relevan dengan kondisi kita saat ini.

Secara ringkas sebetulnya ada beberapa poin yang dapat menjadi refleksi dalam pembangunan pariwisata nasional kita saat ini, seperti yang diusulkan ZHAO dan LI, untuk melawan dampak negatif globalisasi. Diperlukan aliansi/kemitraan yang lebih kuat diantara negara-negara berkembang lainnya.

Penting untuk terus membangun aliansi dengan beberapa negara tetangga dalam rangka mengurangi leakage atau mengurangi ruang pengambilan keuntungan perusahaan multinasional yang super kaya, serta dapat meningkatkan daya negosiasi. Kerjasama-kerjasama di bidang pariwisata seperti ASEAN Borderless menjadi penting untuk terus dilanjutkan.

Kemudian perlunya keberanian kita untuk mengurangi pariwisata massal yang terus fokus pada jumlah angka kunjungan wisatawan. Pengalaman telah menunjukkan bahwa seringkali negara tidak dapat menahan godaan awal proyek pariwisata di suatu daerah dengan tujuan penciptaan lapangan kerja dan pendapatan.

Namun tanpa pertimbangan jangka panjang, sebetulnya dalam waktu yang relatif lama negara masih harus sangat bergantung pada pariwisata massal untuk memenuhi kebutuhan pembangunan-pembangunan yang paling mendesak seperti insfrastruktur dasarnya. Penting pula untuk terus meningkatkan partisipasi-partisipasi masyarakat lokal dalam pembangunan pariwisata.

Meningkatkan potensi pasar pariwisata domestik barangkali menjadi menarik pada situasi pandemi global Covid-19 seperti saat ini. Dibandingkan dengan pariwisata inbound, pariwisata domestik ini barangkali telah lama cukup terpinggirkan, terutama demi kepentingan mendapatkan devisa negara.

Namun, pembelajaran yang dapat dipetik dari stagnasi pariwisata internasional yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 saat ini memberikan kita waktu untuk berpikir ulang bahwa potensi pariwisata domestik perlu diperhatikan dalam rangka menjaga daya tahan destinasi maupun pemerataan ekonomi. Ini juga sebagai upaya kita menghindari ketergantungan yang berlebihan pada pasar pariwisata internasional.

Terbatasnya permintaan domestik akan pariwisata nyatanya mengakibatkan destinasi menjadi sangat bergantung pada pariwisata inbound, dan tumpuan yang terlalu besar pada pasar pariwisata internasional. Berbagai persoalan pariwisata kemudian muncul dan kian tak terbendung seperti kebocoran (leakage) devisa pada banyak destinasi karena perusahaan-perusahaan telah berkembang menjadi perusahaan multinasional dan mendominasi bisnis pariwisata kita.

Kondisi pandemi global saat ini hampir menelanjangi keadaan negara-negara berkembang yang masih berkutat di kubangan yang sama, atau bahkan mungkin tercengkeram semakin dalam. Ini menunjukkan bahwa tanpa perencanaan dan pengelolaan yang tepat, biaya pengembangan pariwisata internasional yang diharapkan menjadi sumber penghasil devisa pada akhirnya akan sia-sia. Sekurang-kurangnya kita perlu berkaca pada negara kita sendiri. Masa pandemi ini menjadi refleksi dan kesempatan berbenah dengan melihat pariwisata secara lebih komprehensif.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kondisi pandemi Covid-19 saat ini ialah bagaimana kita perlu untuk mendorong upaya berbagai destinasi untuk menata ulang serta merencanakan ulang destinasi-destinasi yang kita miliki. Agar setelah badai pandemi Covid-19 ini berlalu destinasi-destinasi kita menjadi lebih kompetitif.

Kesempatan untuk merencanakan kembali destinasi-destinasi pariwisata dalam rangka berbenah mengahadapi perubahan besar akibat pandemi Covid-19 ini perlu lebih mendasar dan menyeluruh, bukan hanya pada potensi tiap-tiap wilayah administrasi. Lebih jauh mempertimbangkan keterkaitan antar wilayah serta destinasi pariwisata.

Zam Zam Masrurun
Tourism Analyst di Shirvano Consulting dan Dosen Pariwisata Universitas Hamzanwadi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER