Kamis, 5 Maret 2026 mahasiswa/i S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret telah melaksanakan Kuliah Umum dengan mengundang Guru Besar Pakar Bidang Humaniora dari Nanzan University Japan yakni Prof. Dr. Mikihiro Moriyama sebagai pembicara. Perkuliahan tersebut dimoderatori oleh Prof. Dr. Elizabeth Nugraheni Eko Wardani, M.Hum. yang merupakan Kepala Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Prof. Dr. paed. Nurma Yunita Indriyanti, S.Pd., M.Si., M.Sc. selaku Wakil Dekan Akademik dan Penelitian dan Prof. Slamet Subiantoro, M.Si selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni sebagai perwakilan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Selain itu, kegiatan ini juga dilengkapi para dosen S2 Pendidikan Bahasa Indonesia.
Sastra tidak hanya menampilkan cerita, tetapi juga menyimpan kesan dalam aktivitas sosial dan budaya pada suatu bangsa. Lewat tokoh yang hidup pada sebuah cerita, pembaca dapat memahami bagaimana nilai hingga karakter masyarakat dibangun melalui sastra. Hal ini yang menjadi sorotan pada kuliah umum yang dilaksanakan oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS yang mengusung tema “Representasi Sosiokultural dan Karakter Bangsa dalam Sastra Jepang dan Indonesia Modern: Studi Komparatif Tokoh Jepang dan Indonesia.”
Kuliah umum ini membuka ruang diskusi yang menarik mengenai karya sastra yang menjadi jendela dalam memahami karakter suatu bangsa. Pada dasarnya, sastra lahir dari pengalaman manusia pada konteks sosial dan budaya tertentu. Oleh sebab itu, fungsi kehidupan tokoh pada karya sastra tidak hanya sebagai pelopor cerita, namun juga sebagai representasi karakter yang hidup pada masyarakat.
Bahkan yang menarik pada perkuliahan ini mengungkap kekaguman Prof. Mikihiro Moriyama lewat sastra Sunda yang menjadikan alasan mengapa beliau mengambil kepakaran di bidang Bahasa Indonesia. Selain itu, beliau juga mengungkap kemiripan sastra Indonesia dengan sastra Jepang pada setiap eranya terdapat perubahan dan memiliki nama tersendiri.
Pada pembahasan mengenai sastra Jepang modern seperti misalnya, banyak tokoh yang direpresentasikan mempunyai karakter disiplin, tanggung jawab, dan memiliki pemahaman tinggi terhadap masyarakatnya. Nilai tersebut tidak terlepas dari budaya Jepang yang mendukung penuh etos kerja, keharmonisan sosial, hingga hormat terhadap tradisi.
Salah satu dalam sastra Jepangdikatakan oleh Prof. Dr. Mikihiro Moriyama yakni Sastra Jepang merangkul ketidaksempurnaan pada setiap perkembangan zaman dalam perspektif Tsurezuregusa.
“Sempurna itu tidak begitu bagus, tapi malah tidak sempurna itu, semua hal itu ada mungkin sesuatu yang kurang, itu lebih wajar, kita lebih menilai tinggi, empati terhadap hal-hal yang berubah, yang tadi kekal itu tidak ada, semua hal itu berubah, kita jadi punya rasa empati terhadap hal-hal yang berubah, ini merupakan filsafat orang Jepang yang bisa kita baca” ujar beliau.
Pada era Tsurezuregusa, ketidaksempurnaan lebih dihargai daripada kesempurnaan, empati di dalam sastra Jepang tinggi terhadap hal-hal yang berubah, bahkan dalam sastra Jepang memberi ruang bagi para pembaca untuk berpikir sendiri.
Tidak hanya itu, Prof. Dr. Mikihiro Moriyama juga mengatakan bahwa sastra Jepang tidak seimbang dengan sastra Indonesia meskipun dinilai memiliki kemiripan karena Indonesia lebih luas dan termasuk negara yang besar akan kebahasaan.
“Indonesia yang begitu besar dan banyak kebudayaan dan bahasa, saya kira tidak seimbang dengan sastra Jepang” ujarnya.
Pada pemaparan di atas, beliau merasa dalam dunia sastra, Indonesia jauh lebih tinggi akan keragaman perspektif sastra dibandingkan Jepang karena dalam sastra Indonesia modern, penokohannya sering merepresentasikan dinamika sosial yang beragam. Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya memunculkan karakter yang merepresentasikan nilai kekeluargaan, gotong royong, serta semangat perjuangan untuk menemui beragam konflik kehidupan. Tokoh dalam sastra Indonesia tidak jarang juga merepresentasikan konflik sosial, kesenjangan, maupun pencarian karakter di tengah perubahan zaman.
Melalui pendekatan komparatif, kuliah umum ini menunjukkan hasil bahwa sekalipun berasal dari latar budaya yang berbeda, sastra Jepang dan Indonesia sama-sama melahirkan tokoh yang menjadi gambaran masyarakatnya. Perbandingan tersebut membagikan perspektif jika karya sastra dapat dijadikan sebagai media untuk melihat bagaimana suatu bangsa menafsirkan nilai kehidupan, hubungan sosial, serta transformasi budaya yang terjadi di dalamnya.
Sementara itu, kuliah umum ini juga menunjukkan apabila studi sastra komparatif mempunyai kontribusi untuk meningkatkan perspektif akademik. Dengan membandingkan karya sastra dari dua negara yang berbeda, mahasiswa dapat melihat persamaan maupun perbedaan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Hal ini tidak hanya meningkatkan wawasan literasi, tetapi juga meningkatkan sikap terbuka untuk keberagaman budaya.
Oleh sebab itu, kuliah umum ini menjadi pengingat bahwa membaca sastra sejatinya merupakan membaca kehidupan itu sendiri. Dari Jepang hingga Indonesia, tokoh sastra melahirkan cerita yang tidak hanya meningkatkan imajinasi, tetapi juga mengungkap perspektif baru mengenai suatu budaya, nilai, dan karakter bangsa. Maka dari sinilah sastra mendapati hubungannya sebagai perantara wawasan yang menyatukan ke berbagai pengalaman lintas budaya.
