Selasa, Mei 18, 2021

Memahami Hukuman dan Ujian Bagi Peserta Didik Sekolah Kehidupan

HMI 73 Tahun Pengabdian

Yogyakarta 1947, tepatnya pada kuliah tafsir oleh dosen Husein Yahya, salah satu mahasiswa STI Lafran Pane meminta izin dan mengambil inisiasi untuk mendirikan organisasi...

Ateis dan Agnostik Bagian dari Kehidupan Urban

Agama di antara kehidupan kaum urban begitu kompleks. Perubahan dan perkembangan terjadi secara cepat. Sikap beragama secara dinamis bisa berubah. Ada yang taat dan...

Jangan tambah beban korban perkosaan Pak Jendral!

Surat Terbuka Untuk Kepala Kepolisian RIJendral Tito Karnavian : Jangan tambah beban korban perkosaan!19 Oktober 2017, BBC Indonesia memuat wawancaranya dengan Bapak Tito Karnavian....

Korupsi Politik, Benarkah Tidak Berhubungan Dengan Pilpres 2019?

Petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada Jumat (15/3/2019), melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Romahurmuziy alias Rommy yang notabene Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan...
khotib
Sebentuk catatan harian. Daripada endak nulis. Hehehe

Dalam hidup ini, kita kerap berada dalam tahap-tahap kesulitan-kesulitan. Mau tak mau, kapan saja lepas dari prediksi kita, kesulitan-kesulitan itu gagah berdiri tepat dihadapan kita. Menghadang langkah kita. Katakanlah ia musibah atau persoalan yang mengharuskan kita untuk melalui dan menuntaskannya. Kadang ia bisa terasa menyengsarakan dan membuat menderita.

Saat mengalaminya, kadang kita mencoba sedikit meraba kegelapan itu. Berupaya memahaminya agar mudah untuk menyelesaikannya. Jatuh bangun menerobosnya sekuat tenaga. Tapi di lain waktu, dada kita semakin sesak, tangis kian pecah, dan energy pun ikut melemah. Lalu membawa kita secara tiba-tiba ke lorong kebingungan dalam upaya menerkanya; suatu hukuman atau ujian kah yang sedang menimpai kita saat itu?

Saya rasa ada pendekatan yang semoga dapat mengatasi kebingungan itu. Tapi sebelumnya, mari bersepakat dengan saya terlebih dahulu untuk memenuhi syarat utama dalam memecahkannya. Adalah dengan menganggap diri– yang sedang hidup di dunia yang ini– sebagai peserta didik. Ya, amat sederhana. Cukup dengan menyadari posisi kita sebagai murid.

Setelah itu, mari coba pahami bersama secara perlahan melalui pertanyaan. Pertama, adakah tujuan primer peserta didik selain menjadi orang terdidik? Kedua, adakah tugas dan cara terampuh untuk mencapai tujuan itu selain dengan belajar agar mendapatkan ilmu?

Premisnya adalah setiap peserta didik atau murid memiliki kewajiban belajar untuk menjadi orang terdidik. Kewajiban belajar dan menjadi terdidik. Saat kapan murid merasakan hukuman atau merasakan ujian, ternyata tergantung bagaimana kesasadaran setiap murid terhadap soal-soal yang diterimanya. Kesadaran yang amat dipengaruhi oleh kemauan belajar dari masing-asing mereka.

Analoginya begini. Saya dan Anda adalah bagian dari sepuluh orang dalam satu ruang kelas. Oleh guru, kita diberi persoalan yang sama. Nah, bisa jadi persoalan itu diterima sebagai hal yang berbeda oleh masing-masing peserta didik. Terutama yang paling kentara berbeda adalah bagi yang belajar dengan yang tidak.

Bagi Anda yang belajar, saat soal-soal itu dikerjakan akan lebih terasa sebagai ujian. Kenapa demikian? Karena Anda telah belajar sebelumnya, otomatis lebih siap menjawab soal-soal. Bahkan bisa menyadari saat di depan nanti pasti dihadapkan dengan pelbagai soal-soal. Sukur-sukur kalau yang Anda jadikan bahan belajar itu tidak hanya soal-soal yang pernah datang padamu, tapi juga pada orang lain.

Namun, bagi yang tidak belajar, bisa jadi soal-soal lebih terasa sebagai hukuman. Membuat kalut dan kelam. Alasannya sangat simpel. Dengan tidak belajar berarti telah membuat dirinya melanggar kewajiban seorang peserta didik. Konsekuensi logisnya, setiap pelanggar pasti akan mendapat hukuman. Terasa seperti nerakalah saat proses mengerjakannya.

Tentu saja, belajar atau tidak belajar, tidak akan menjamin bisa menuntaskan semua persoalan. Tapi, setidaknya orang yang belajar pasti akan lebih siap daripada yang tidak belajar. Kesiapan itu membuatnya lebih sadar terhadap nomor-nomor soal yang mana yang sanggup ia kerjakan dan mana yang tidak. Kesadaran inilah yang membuat seseorang pada akhirnya akan lebih bersikap tenang.

Ketenangan inilah hal yang mencirikan perbedaan sikap diantara keduanya. Lalu, tahukah Anda kenapa seseorang tidak belajar? Atau lebih tepatnya tidak mau belajar?

Begitu banyak penyebabnya. Tapi, bagi keparat yang sering tidak belajar seperti saya ini, penyebab utamanya adalah terlalu menganggap persoalan-persoalan itu tidak penting. Atau dikata lain, tidak pernah terpikir bahwa persoalan-persoalan itu memang sangat penting bagi kehidupan. Malah cenderung menganggap persoalan sebagai gangguan karena terasa amat menyulitkan.

Oleh karena anggapan yang terpelincir itulah, maka alokasi waktu lebih banyak dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang enak dan serba mudah dan serba instan. Sengaja membuat diri agar terbiasa terlena melayani kesenangan-kesenangan. Cenderung menghindari kesulitan. Barangkali kebiasaan ini yang membuat diri tidak bisa menempuh kedewasaan berpikir dan ketenangan dalam bersikap.

Mungkin juga karena kematangan butuh waktu amat panjang nan menjenuhkan. Atau mungkin karena kedewasaan hanya bisa ditempuh dengan soal-soal penderitaan, maka lebih rela memasungkan jiwa pada hal-hal yang sifatnya sementara.

Untungnya Sang Maha Guru Sejati senantiasa membagi samodera kasih sayang kepada peserta didiknya. Maka, diganjar hukuman bisa berarti masih disayang, karena telah diperingatkan. Di-re-member-kan. Berkesempatan menjadi bagian dari ‘anggota’ kembali. Sementara, diberi ujian berarti dikasih kepercayaan, bahwa masih kompeten untuk melanjutkan naik ke kelas berikutnya.

Hukuman dan ujian mungkin menghasilkan akibat yang beda. Yang satu bisa diperuntukkan meningkatkan kesabaran, sementara yang lain meningkatkan kecerdasan sikap. Mungkin. Tapi musabab keduanya masih sama, yakni bermuara dari Cinta-Nya.

khotib
Sebentuk catatan harian. Daripada endak nulis. Hehehe
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.