OUR NETWORK
Selasa, Januari 18, 2022

Masih Adakah Keamanan bagi Perempuan?

Iis Indrawati
Lahir di Lamonggi 26 februari 2001

Sejak beberapa hari yang lalu, beranda media sosial saya mulai dari instagram hingga tik-tok, berisi berita-berita kekerasan seksual terhadap perempuan. Berita-berita seperti ini bukan pertama kalinya saya dengar dan baca. Sebelumnya saya sudah sering membaca dan mendengar pelecahan seksual yang terjadi pada perempuan baik itu langsung maupun tidak langsung.

Perempuan seringkali menjadi objek kekerasan seksual yang dilakukan oleh lelaki. Mirisnya lagi para korban tidak hanya mereka yang dewasa, anak usia dini pun turut menjadi korban. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa perkembangan anak-anak yang mendapatkan kekerasan seksual itu. Seringkali pertanyaan “mengapa itu bisa terjadi?”, dan “mengapa para pelaku begitu tega pada korbannya?”, melintas di benak saya. Marah, geram, sedih, dan ibah menjadi satu emosi yang tidak bisa dibendung.

Saya kerap kali terpikirkan pada ajaran orang tua pada anak-anak perempuan mereka yang seringkali diajarkan untuk menjaga diri, tidak melakukan hal-hal yang memalukan dan beberapa ajaran lainnya yang sangat jarang terdengar untuk para anak lelaki.

Hal yang paling lumrah terjadi adalah anak perempuan tidak boleh memakai pakaian seksi dan dilarang keras untuk keluar malam. Sebaliknya, anak-anak laki-laki tidak pernah diajarkan untuk menjaga aurat, dan sangat jarang dilarang untuk keluar malam. Lagi-lagi timbul pertanyaan ‘mengapa itu hanya berlaku untuk perempuan saja?’.

Untuk pertanyaan tersebut, jawaban yang bisa saya dapatkan hanya satu, seorang perempuan adalah makhluk lemah yang tidak lebih kuat ataupun berkuasa daripada seorang lelaki. Sehingga segala bentuk penindasan apapun akan selalu merugikan pihak perempuan.

Pandangan-pandangan seperti itu sudah mendarah daging di masyarakat kita hari ini, tidak hanya saja dikalangan lelaki, dikalangan perempuan pun juga begitu. Jika perempuan menjadi korban pelecahan seksual, maka lagi dan lagi sentimen-sentimen negatif akan selalu tertuju pada perempuan.

Sedangkan para lelaki seakan-akan mendapat pemakluman bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah biasa. “laki-laki memang begitu, namanya juga laki-laki”, menjadi hal lumrah yang seringkali didengarkan dalam masyarakat kita ketika lelaki menjadi pelaku kekerasan seksual.

Akar dari segala pandangan ini adalah dari masyarakat kita yang memegang teguh nilai-nilai patriarkis. pada sebuah masyarakat patriarki, perempuan akan selalu menjadi pihak yang termarjinalkan dan dikesampingkan. Sedangkan laki-laki akan selalu menjadi pihak yang terdepan dan terkuat.

Persoalan yang ada saat ini adalah kekerasan seksual telah masif dilakukan diberbagai tempat, seperti  ruang-ruang tempat bekerja, tempat menuntut ilmu hingga rumah bisa menjadi tempat terjadinya kekerasan seksual. Pelaku bisa saja datang dari seorang bos, guru, dosen, hingga keluarga sendiri.

Perempuan pun akhirnya bertanya-tanya “dimanakah ruang yang tepat dan aman bagi perempuan?”. Tempat-tempat yang seharusnya memberikan keamanan nyatanya tidak lagi benar-benar aman. Perguruan tinggi yang seharunya menjadi tempat untuk pengembangan keilmuan nyatanya menjadi tempat yang menyeramkan. Begitu pula rumah yang dijadikan sebagai tempat untuk pulang dan berlindung kenyataannya tidak lagi demikian.

Sangat sulitnya ruang gerak bagi perempuan saat ini, berkorelasi dengan sulitnya para perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual untuk mendapatkan keadilan dari kekerasan yang telah mereka alami.

Beberapa kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan, setelah diadukan ke pihak yang berwenang tidak mendapatkan respon ataupun tanggapan yang baik seperti dari pihak kepolisian ataupun perguruan tinggi. Kasus-kasus kekerasan seksual ini ditutupi begitu rapat, sehingga terlewati begitu saja, dan kemudian menghilang dengan sendirinya.

Akan tetapi, trauma para korban terus berlanjut hidup dengan penuh ketidaknyamanan, sedangkan para pelaku hidup dengan baik dan nyaman tanpa merasa bersalah. Kebingungan akhirnya melanda para korban, tempat yang aman tidak tahu entah dimana, tempat untuk mengadu pun tidak tahu dimana.

Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan “dimanakah tempat teraman bagi perempuan?”, perlu adanya kerjasama yang baik dari setiap orang ataupun pihak dari segala lapisan sosial masyarakat. Saat ini kekerasan seksual bukan lagi permasalahan yang bisa dianggap sebelah mata.

Kasus-kasus kekerasan seksual perlahan-lahan mulai muncul di permukaan publik melalui media. Sudah saatnya permasalahan ini menjadi tangggung jawab kita bersama sebagai manusia yang bermoral dan berhati nurani.

 

Iis Indrawati
Lahir di Lamonggi 26 februari 2001
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.