Minggu, April 18, 2021

Masa Depan Syariah, Ide Relevansi Syariah

Muhammad Dalam Kacamata Orientalis

Dalam perkembangan tradisi keilmuan, terdapat ilmuan barat yang mempunyai concern terhadap dunia Timur dikenal sebagai  orientalis. Kaum orientalis ini mengkaji dunia Timur (termasuk Islam)...

‘Kesalahan’ yang Membuka Jalan

Rajin pangkal pandai. Hemat pangkal kaya. Jika ada pertanyaan, “Bagaimana caranya untuk meraih kesuksesan?” Barangkali jawabannya adalah seperti pepatah di atas. Rajin, tekun, teliti,...

Utak-Atik Aturan Pemilu

Kurang dari satu tahun lagi kita akan menghadapi pemilihan umum (Pemilu) untuk memilih Presiden-Wakil Presiden beserta para wakil rakyat di parlemen. Seperti kebiasaan yang...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...
Zainal Ariefin
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kader HMI Ciputat dan Pengurus Lembaga Kajian dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) Ciputat dan redaktur di zawaya.id

Terdapat persepsi liar dikalangan Muslim yang sebetulnya tidak seluruhnya tepat yaitu sebuah pemahaman tentang konsep syariah yang final dan pasti. Artinya ketentuan syariah historis yang terdapat dalam al-Qur’an ataupun Sunnah tidak boleh disentuh atau dikritik sama sekali.

Pada umumnya orang-orang membedakan antara fikih dan syariah hanya berdasarkan kepada sifatnya yang statis dan dinamis. Fikih adalah sesuatu yang dinamis sedangkan syariah adalah ketentuan hukum yang statis dan final. Fikih adalah konstruksi pemikiran manusia yang dipengaruhi oleh kondisi tertentu sedangkan syariat adalah hukum tuhan tanpa intervensi dari manusia dan tanpa pengaruh kondisi tertentu.

Seorang cendikiawan Muslim yang mempunyai perhatian khusus terhadap masa depan hukum Islam dalam menghadapi tantangannya di dalam negara sekuler adalah Abdullah Ahmed An-Naim. Pemikir kontemporer yang juga seorang pembaharu dan aktivis Hak Asasi Manusia asal Sudan ini lahir pada 6 April 1946 M didaerah Mawaqier, 200 km dari utara Khartoum.

Bagi An-Naim syariah tidaklah sakral atau bersifat ilahiyah dalam arti seluruh rinciannya diwahyukan langsung oleh Allah tanpa pengaruh kondisi-kondisi tertentu, sebab apabila syariah historis ini diterapkan dalam negara modern maka akan menimbulkan kesulitan-kesulitan yang luar biasa.

Gagasan An-Naim bermula dari sebuah anggapannya bahwa hukum publik syariah sudah tidak relevan dalam negara modern ataupun budaya modern saat ini. banyak hukum-hukum syariah yang diskriminasi dan tak sesuai dengan hak asasi manusia apabila diterapkan apa adanya.

Pada masa awal islam dimana ketentuan hukum yang dipraktekan saat itu mendapatkan legetimasi dari Allah sebetulnya juga dipengaruhi oleh kondisi tertentu. Dalam hal ini kaidah hukum yang berbunyi “hukum akan selalu berubah sesuai dengan situasi dan kondisi” menurut saya berlaku baik dalam ketentuan hukum syariah ataupun dalam fikih.

Hanya saja yang perbedannya adalah mengenai tathbiq (implementasi) dalam Syariah dan formalitas dalam fikih. Syariah meskipun tidak berubah dalam formalitas atau bentuk hukumnya tetapi akan berubah dalam implememntasi atau penerapannya sesuai dengan kondisi-kondidi yang mempengaruhinya.

Hukuman mati bagi pelaku apostasy atau pindah agama pada waktu itu jelas sekali dipengaruhi oleh kondisi politik saat itu. Dakwah nabi untuk menyeru orang-orang muslim tidak sedikit menuai penolakan dan juga persetujuan. Dalam hal ini ketentuan hukuman mati bagi seorang yang murtad (keluar dari Islam) sudah tepat dan sesuai kondisi saat itu.

Ketentuan hukum yang berbeda diterapkan oleh Umar bin Khattab pasca kematian nabi. Jika pada zaman nabi  orang-orang yang baru masuk islam (muallaf) mendapatkan bagian dari zakat fitrah, maka pada zaman Umar bin Khattab orang-orang yang baru masuk islam ini tidak mendapatkan bagian zakat fitrah.

Umar menganggap bahwa pemberian zakat fitrah pada masa nabi hanya sebatas pemantik agar orang-orang  masuk islam, akan tetapi pada masa Umar orang islam sudah banyak sehingga tidak perlu diiming-imingi dengan zakat fitah. Artinya orang-orang yang baru masuk islam pada masa umar tidak mendapatkan bagian dari zakat fitrah.

Itu semua menunjukan bahwa meskipun syariah historis tidak berubah status hukumnya, akan tetapi implementasinya dapat berubah.

An-Naim meyakini bahwa apabila kententuan syariah dalam bidang hukum publik ini diterapkan dalam negara modern ataupun budaya modern saat ini pasti akan mengalami sebuah kesulitan-kesulitan. Namun, meskipun begitu satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah syariah ini bukanlah sekularisme yaitu pemisahan antara hukum negara dan hukum islam.

An-Naim sebagai seorang yang peduli terhadap nasib syariah menawarkan sebuah alternatif lain selain sekularisme yaitu penafsiran ulang terhadap al-Qur’an dan Sunnah  melalui dekonstruksi syariah. dekonstruksi syariah dimaksudkan oleh An-Naim untuk mengkaji  dan menatafsirkan ulang teks-teks agama yang selaras dengan perkembangan zaman saat ini. sehingga basis utama dalam penerapan hukum saat ini tetap adalah al-Qur’an dan sunnah.

Dekonstruksi syariah yang digagas oleh An-Naim diharapkan melahirkan konsep syariah modern sebagai sebuah cara pandang  untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan syariah historis diatas. Semua ketentuan hukum hasil konstruksi para pemikir islam abad  1 s.d 3 H dalam bidang hukum publik seperti konstitusi, hukum pidana, Hak Asasai Manusi mengharuskan tinjuan kembali atau sekedar penafsiran ulang. Sehingga pada akhirnya seluruh ketentuan hukum yang berkembang dan berlaku saat ini mendapatkan legitimasi dari al-Qur’an dan Sunnah.

Terkait dengan pemikiran dan ketentuan hukum yang telah dibuat oleh para pendiri mazhab, kita tidak meski harus persis dan mutlak menerimanya. Zaman kita dengan zaman mereka tidaklah sama, sehingga jika hal itu sudah tidak relevan dengan saat ini, kita bisa untuk tidak menerimanya. Ini bukan berarti kita tidak bermzahab. Dalam hal ini kita tetap bermazhab akan tetapi kita bermazhab manhaji atau metodologi.

Perkembangan zaman sudah sangat pesat dan kondisi-kondisi saat ini sudah tidaklah sama dengan awal-awal Islam, apostasy yang pada awal islam dianggap sebagai sebuah tindak pidana dengan konsekuensi hukman mati pada saat ini sudah tidak relevan. Kebabasan beragama dan bentuk negara yang tak sama meniscayakan semua itu.

Ketentuan hukum yang berlaku saat ini adalah produk hukum terbaik yang dihasilkan oleh dunia modern saat ini, sehingga syariah modern dapat menjadikan semuanya itu sebagai sebuah acuan dan contoh ideal dalam menentukan sebuah hukum artinya semua ketentuan hukum yang berlaku saat ini dapat dilegitimasi oleh syariah yaitu al-Qur’an dan Sunnah.

Zainal Ariefin
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kader HMI Ciputat dan Pengurus Lembaga Kajian dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) Ciputat dan redaktur di zawaya.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.