Rabu, Juni 16, 2021

Manusia Indonesia Dalam Kemunduran

Debat Kandidat untuk Rakyat

Terus terang, saya salah seorang yang sampai detik ini belum memiliki kemantapan hati untuk mengunggulkan dan menentukan pilihan kepada salah satu dari kedua pasangan...

Drama Kota Pintar

Meski fase sedang hangat-hangatnya sudah berlalu. Tapi saya kira ini waktu yang paling tepat untuk mengajukan pertanyaan tentang, adakah hal-hal berubah ketika kota menjadi...

Surat Terbuka Untuk Sandiaga Uno: Pengibaran Bendera NU Raport Kecil Untukmu

Halo Pak Sandi, perkenalkan nama saya Asyari, lahir di Pamekasan dan menikah dengan gadis cantik, baik hati alias sholehah Jember. Bapak Sandiaga Uno yang...

Hijrah dari Politik Hoaks Menuju Politik Kebangsaan

Istilah kata hijrah minggu-minggu ini sangat viral khusus di media sosia (medsos). Hal ini berangkat dari ajakan Presiden kita untuk mengajak kita semua  khusus...
Muhammad Arkhan
Penyair. Penulis cerita mini. Esais

Aku sudah membaca buku Manusia Indonesia yang berisi ceramah Mochtar Lubis di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 6 April 1977. Ceramahnya sendiri berisi berbagai kritikan terhadap sifat-sifat manusia Indonesia. Diantaranya yang hendak aku bahas disini adalah sifat munafik dan sifat enggan bertanggung jawab.

Sifat munafik. Apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat bertolak belakang. Contoh: Seorang berkata bahwa berzinah itu perbuatan tercela, namun dirinya diam-diam menikmati PSK di lokalisasi.

Mochtar Lubis beranggapan bahwa sifat munafik manusia Indonesia ini berakar dari budaya feodal. Ia berujar, “Akibat dari kemunafikan manusia Indonesia, yang berakar jauh ke masa kita sebelum dijajah bangsa asing maka manusia Indonesia pada masa kini terkenal dengan sikap ABS-nya (Asal Bapak Senang).

Sikap ABS ini telah berakar jauh ke zaman dahulu, ketika tuan feodal Indonesia merajalela di negeri ini, menindas rakyat dan memperkosa nilai-nilai manusia Indonesia. Untuk melindungi dirinya terpaksalah rakyat memasang topeng ke luar, dan tuan feodal, raja, sultan, sunan, regent, bupati, demang, tuanku laras, karaeng, teuku dan tengku, dan sebagainya, selalu dihadapi dengan inggih, sumuhun, ampun duli tuanku, hamba patik tuanku!”

Manusia Indonesia bersikap munafik supaya tetap “aman” dan mendapat “tempat” di masyarakat. Tidak dianggap “membangkang.” Sikap ini malah melahirkan mentalitas menjilat dan sok alim.

Keengganan untuk bertanggung jawab adalah sifat manusia Indonesia yang juga dikritisi oleh Mochtar Lubis. Ia berujar, “Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakuannya, pikirannya, dan sebagainya. ‘Bukan saya’ adalah kalimat yang cukup populer pula di mulut manusia Indonesia.”

Aku jadi teringat akan suatu hal. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 11 SMA, aku menjadi saksi keributan kecil murid-murid kelasku yang gagal melakukan persentasi di dalam kelas. Si A menuding si B tidak belajar. “Sia sih teu belajar (kamu sih ngga belajar),” Kira-kira begitulah kata si A kepada si B. “Ah, eta mah sia weh nu teu belajar, teu ngaku (ah, itu mah kamu aja yang ngga belajar, ngga ngaku),” begitulah kira-kira si B menimpali.

Hal yang sama pun terjadi antara si C dengan si D. Saling menuding. Saling mencari pembenaran dengan maksud supaya tidak kehilangan muka.

Akibatnya pun mereka tak mendapat apa-apa selain penilaian yang buruk dari guru. Tak ada pelajaran yang bisa diambil. Tak ada perubahan yang bisa dicapai. Diam di tempat. Sikap enggan bertanggung jawab membuat mereka tak maju.

Evaluasi Diri

Isi buku ini cukup mengguncang dan lantang. Mochtar Lubis mengkritik sifat-sifat manusia Indonesia yang membuat bangsa ini menjadi terbelakang. Membaca buku ini berarti mendorong diri kita sendiri untuk bisa mengevaluasi kesalahan-kesalahan kita sebagai manusia Indonesia. Apakah kita sering bersikap munafik, berkata ,”iya” padahal di dalam hati berteriak, “tidak”? Apakah kita sering enggan bertanggung jawab, mencerca orang lain atas kesalahan kita sendiri?

Jika jawabannya iya, maka mulai dari sekarang kita musti membersihkan diri kita. Membersihkan muka dari riasan kemunafikan. Dan membersihkan tangan kita yang penuh “tinja” karena doyan menuding orang yang tak berdosa.

Buku ini bagus untuk dibaca siapapun. Baik itu pelajar, mahasiswa, guru, politisi, dokter, dst yang tertarik mempelajari sifat-sifat negatif manusia Indonesia.

Muhammad Arkhan
Penyair. Penulis cerita mini. Esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER