Senin, Juni 17, 2024

Luka Modric dan Kroasia

Kroasia bukan tanpa perlawanan dan taktikal, tim yang dianggap sebagai kuda hitam ini, mampu melenggang ke babak final. Berada di grup D bersama Argentina, Nigeria dan Islandia. Hrvatska mampu sapu bersih di semua laga pada group stage.

Perjalanan Luka Modric dan kolega di ajang empat tahunan ini memang bukan tanpa semangat. Sebagaimana anggapan media dan opini publik, yang menganggap mereka sebagai kuda hitam, tim besutan Zlatko Dalic seolah menjawab semuanya. Pertama, mereka mampu keluar sebagai juara grup. Kedua, Messi dkk digilas habis oleh mereka dengan skor 3-0 tanpa balas.

Di bawah kepemimpinan Modric selama di lapangan, ia mampu menyebarluaskan semangat militan ke seluruh para pemain. Hal itu yang terus dijaga oleh mereka sampai final.

Hanya saja, final yang berlangsung di Stadion Luzhniki, Moskow pada Minggu (15/7). Mereka bertemu dengan tim yang hampir optimal di semua lini dan mempunyai counter attack yang cepat, yakni Perancis. Namun, siapa yang menyangka mereka telah jauh berlari hingga partai puncak. Meski kalah 4-2, ini adalah suatu pencapaian yang bahkan tim sekelas Belgia, tak mampu melewatinya. Juga untuk pertama kalinya setelah terakhir pada Piala Dunia 1998 yang hanya sanggup berada di semi final dengan pemain bintangnya kala itu, yakni Davor Suker.

Peran Modric dan Pemain Bertebuh Kecil lainnya

Menurut goal.com sang kapten bermain dalam semua tujuh pertandingan Kroasia dengan memberi kontribusi dua gol plus satu assist, di mana kedua cetakan golnya ia bukukan pada saat babak grup menghadapi Nigeria dan Argentina.

Kepiawaiannya dalam menggalang lini tengah juga ditunjukkan dengan mencatatkan 422 umpan sukses, 18 kreasi peluang dan 15 dribel sukses dari 21 percobaan. Catatan yang nyaris lebih baik dari setiap pemain di turnamen tahun ini, oleh karena itu, tidak salah Modric terpilih menjadi yang terbaik di Rusia.

Tak hanya di gelaran akbar saja, di tim nasional sendiri ia telah tercatat sebagai pemain terbaik Kroasia selama 5 tahun beruntun. Di Real Madrid selama sepanjang Liga Champions musim 2017-2018, menurut media whoscored.com tercatat telah melalukan umpan sukses dengan persentase rata-rata 75-94%.

Di tiap musimnya jugador Madrid ini memang terus menginjak stabilitas bermain baik di tim nasional maupun klub. Peran yang penting diemban olehnya sebagai penguasa lini tengah, meski bertubuh kecil dan umur yang tidak lagi muda. Bukan tidak mungkin ia bisa raih penghargaan paling bergengsi yakni Ballon d’Or selama musim ini.

Dengan tinggi tubuh 172cm terhitung lebih pendek rata-rata postur tubuh orang eropa. Namun, dengan tubuh yang mungil Modric bisa lebih leluasa nun lincah menguasai lapangan tengah, guna melancarkan serangan dan umpan di sepertiga lapangan lawan. Maka, akan selalu riskan jika berpikir bahwa Modric dianggap tidak mampu menjadi penguasa lini tengah dunia saat ini.

Kita geser sedikit peran pemain-pemain bertubuh kecil lainnya. Di FC Barcelona ada Xavi Herndandez, peran agak serupa yakni sebagai penyeimbang dan sebagai jembatan transisi dari bertahan ke menyerang. Lalu ada rekan setimnya, Lionel Messi, di mana ia bermain sebagai sayap kanan yang menusuk ke jantung kiri pertahanan lawan. Mundur ke belakang kita semua tahu betapa ikoniknya Diego Maradona dengan gol tangan tuhannya pada Piala Dunia 1986 ke gawang Inggris.

Maka dengan dianggapnya bertubuh kecil sebagai kekurangan, mereka justru mampu menunjukkan stabilitas bermain yang tidak kalah apiknya dengan pemain bertubuh tinggi.

Postur Tubuh dan Kekuasaan

Menurut studi yang dilakukan di Inggris, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam kepribadian atau aspek-aspek kehidupan karena postur tubuh.

Berbeda dengan seorang jurnalis David Robson, dalam artikelnya yang tayang di bbc.com ia menyebutkan bahwa dalam satu kajian aspek fisik menunjukkan orang dengan postur tinggi akan mendapatkan suara lebih banyak dalam pemilihan kursi kepresidenan. David menambahkan, di luar ranah politik, pria dan wanita yang lebih tinggi dianggap lebih dominan, lebih sehat, lebih pintar, dan punya peluang lebih banyak dipilih ketika melamar pekerjaan.

Penulis dan pengamat film, Chandra Aditya dalam artikelnya yang berjudul Ant-Man and the Wasp: Jangan Sepelekan Yang Ukurannya Kecil, ia menyebutkan bahwa sutradara film tersebut yakni Peyton Reed, tahu benar bahwa serial Ant-Man bukanlah film Marvel yang paling mentereng.

Ant-Man tidak seterkenal Spider-Man, sekuat Thor, semagnetis Captain America atau sekaya Black Panther dalam segi budaya dan identitas. Dan Reed menggunakan itu sebagai senjata. Ia tahu bahwa ia bisa menggunakan senjata lain, seperti humor tak terkendali, sebagai senjata rahasia. Dan hal tersebut terbukti berhasil. Ant-Man mungkin sederhana namun ia tidak membosankan.

Dari beberapa kajian tentang orang yang bertubuh kecil atau tinggi, seharusnya itu tidak menjadi perbedaan yang signifikan. Meski Luka Modric dan tokoh lainnya lebih pendek dari rata-rata orang barat, stabilitas dan kinerja mereka justru melampaui kebanyakan orang yang berpostur tinggi.

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.