Scroll LinkedIn sebentar, dan Anda akan menemukan satu spesies yang unik: HRD. Di sana, mereka bukan lagi pengurus absensi, penolak cuti setengah hari, atau pengisi spreadsheet lembur. Tidak. Mereka adalah dewa—maaf, dewa versi LinkedIn—yang bisa menilai karakter seseorang hanya dari kalimat pembuka email:
“Kami mencari kandidat yang memiliki soft skill tinggi, proaktif, dan bisa multitasking tanpa mengeluh.”
Bio mereka tampak biasa: “HRD|People Enthusiast|Coffee Addict.” Tapi begitu mereka menulis posting motivasi, dunia LinkedIn tiba-tiba menjadi panggung sandiwara. Dengan satu posting, mereka menjadi pemilik perusahaan yang bijaksana, strategis, dan penuh wibawa.
Ironisnya, di kantor nyata, mereka tetap HRD—babu yang harus mengurus administrasi, printer error, dan daftar cuti karyawan yang selalu berantakan. LinkedIn memberi mereka peluang untuk berkhayal. Di feed, mereka bukan lagi manusia biasa yang menolak resign yang tiba-tiba, tapi Tuhan yang menentukan nasib ribuan resume yang mampir di inbox mereka.
Tragedi Soft Skill
Perhatikan tren posting mereka: “Hire the attitude, train the skill.” Luar biasa, kata-kata ini terdengar begitu mulia. Tapi mari kita bayangkan adegannya:
- Kandidat A telat masuk interview 5 menit karena macet. HRD LinkedIn kita tentu saja mengucapkan dalam hati: “Kandidat ini tidak proaktif.”
- Kandidat B tidak punya pengalaman 1001 software yang disebutkan di jobdesc. HRD yang sama menyebut: “Kita butuh orang yang cepat belajar.”
Semua terdengar seperti filosofi mendalam, tapi kenyataannya, mereka hanya ingin mengurangi keluhan di kantor. LinkedIn memungkinkan mereka menulis kata-kata indah, seolah perusahaan mereka adalah Swiss, padahal kenyataannya, kantornya masih penuh printer error dan tumpukan surat cuti yang menunggu tanda tangan.
Dunia LinkedIn vs Dunia Nyata
Ini bagian paling lucu. Di LinkedIn, HRD sering menulis posting panjang yang memuji “growth mindset,” “passion,” dan “teamwork.” Tapi begitu ada karyawan baru yang berani salah tanggal cuti atau lembur tanpa izin, mereka berubah menjadi polisi moral:
“Maaf, ini standar perusahaan, harus disiplin.”
Perbedaan ini seperti dua planet yang berbeda: planet motivasi dan planet realita. Di planet motivasi, mereka CEO bijaksana; di planet realita, mereka masih mengurus administrasi seperti manusia biasa.
Bahkan terkadang mereka membagikan tips interview:
“Tunjukkan soft skill-mu, tapi tetap profesional dan jaga energi positif!”
Sementara di kantor, mereka masih bertanya ke rekan HRD lain: “Ini surat cuti siapa ya? Kenapa belum ada tandatangannya?”
Dramatisasi Absurd
Bayangkan ini: Kandidat baru datang untuk interview. HRD kita menatap resume seperti membaca naskah kuno. Mata mereka berbinar saat melihat “passion for innovation,” lalu berkata di LinkedIn: “Kami selalu mencari orang yang passionate.”
Namun, sehari-hari, mereka masih menghitung jumlah cuti yang tersisa untuk setiap karyawan, menandatangani dokumen lembur, dan menghadapi printer yang mogok. LinkedIn memberi mereka panggung untuk menjadi Tuhan bagi ribuan resume, tapi di belakang layar, mereka masih manusia biasa dengan kopi dingin di tangan.
Hashtag dan Eksistensi Digital
Mari kita bicara hashtag. HRD sangat suka #PeopleFirst, #CareerGoals, #SoftSkills, #GrowthMindset. Semua terdengar peduli, cerdas, dan modern. Tapi percayalah, seringkali itu hanya caption. Di dunia nyata, “People First” berarti menolak cuti karena deadline, dan “Growth Mindset” berarti memperpanjang daftar absensi karena printer error.
LinkedIn memungkinkan HRD memamerkan versi ideal diri mereka—versi yang lebih mulia, lebih strategis, lebih penting. Versi ini bisa menulis posting 10 paragraf yang menginspirasi ribuan orang, tanpa harus menghadapi kenyataan bahwa printer error dan spreadsheet lembur masih menunggu di kantor.
Sandiwara Ilahi HRD
Fenomena ini lucu sekaligus tragis. HRD merayakan eksistensi diri secara digital, sambil tetap terjebak rutinitas yang sama. Mereka ingin terlihat cerdas, penting, dan penuh wibawa—sementara realita berkata lain. LinkedIn memberi mereka kesempatan untuk berpura-pura sepuas hati, dan kita semua ikut menonton sandiwara itu, tersenyum getir sambil berpikir:
“Mereka bukan Tuhan, tapi LinkedIn memberi mereka kesempatan untuk menjadi Tuhan bagi resume orang lain.”
Dan pada akhirnya, kita hanya bisa tersenyum, memberi like atau komentar, lalu melanjutkan hidup. HRD di LinkedIn tetap dewa di feed, tapi manusia biasa di kantor. Dan itu membuat sandiwara mereka semakin lucu—dan menyakitkan—untuk disaksikan.
