Kelelahan tidak selalu hadir dalam bentuk tubuh yang letih atau jam kerja yang panjang. Banyak orang merasa lelah meskipun aktivitas hariannya tampak biasa saja. Pikiran terus bekerja, emosi mudah terkuras, dan waktu istirahat tidak selalu membawa rasa pulih. Kelelahan semacam ini sering kali sulit dijelaskan, karena tidak memiliki bentuk yang dapat dilihat secara langsung.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai mental load, yakni beban kognitif dan emosional yang muncul dari proses berpikir, mengingat, merencanakan, serta mengantisipasi berbagai tanggung jawab kehidupan sehari-hari. Beban ini bekerja secara senyap, namun terus menyita perhatian dan energi mental, bahkan ketika seseorang tidak sedang melakukan aktivitas fisik apa pun.
Karena sifatnya yang tidak kasatmata, mental load kerap luput dari kesadaran, baik secara personal maupun sosial. Di sinilah persoalan bermula: beban yang tidak terlihat sering kali dianggap tidak ada.
Mental Load dalam Keseharian
Mental load tidak selalu hadir dalam bentuk tugas besar. Ia justru muncul melalui rangkaian aktivitas kecil yang terus berulang mengingat jadwal, memastikan kebutuhan terpenuhi, mengantisipasi kemungkinan terburuk, hingga mengambil keputusan-keputusan sederhana yang tidak pernah benar-benar selesai.
Penelitian dalam psikologi kognitif menunjukkan bahwa beban berpikir yang berlangsung terus-menerus dapat menguras kapasitas mental, meskipun tidak disertai aktivitas fisik yang berat (Sweller, 1988). Ketika perhatian terus terpecah dan tanggung jawab mental tidak pernah dilepaskan, kelelahan pun menjadi akumulatif.
Namun, dalam praktik sosial, kerja mental semacam ini jarang diakui sebagai beban yang sah.
Normalisasi Beban yang Tak Terlihat
Dalam konteks sosial Indonesia, mental load sering kali dinormalisasi melalui nilai ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan. Ungkapan seperti “yang penting dijalani” atau “semua orang juga capek” mencerminkan kecenderungan untuk menerima kelelahan sebagai sesuatu yang lumrah, alih-alih mempertanyakannya.
Psikologi sosial mencatat bahwa norma budaya berperan besar dalam membentuk cara individu memaknai emosi dan kelelahan. Ketika ketahanan dipuji secara berlebihan, individu cenderung menekan sinyal lelah demi menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial (Markus & Kitayama, 1991).
Akibatnya, beban berpikir dan mengatur tidak dipandang sebagai kerja emosional, melainkan sebagai kewajiban moral. Seperti arus laut yang tidak tampak di permukaan, mental load bekerja diam-diam di bawah kesadaran sosial.
Dapat Psikologis yang Kerap Luput Disadari
Normalisasi mental load membuat banyak orang tidak menyadari dampak psikologis yang menyertainya. Berbagai kajian psikologi klinis menunjukkan bahwa beban kognitif berkepanjangan berkaitan dengan kelelahan emosional, stres kronis, dan penurunan kesejahteraan psikologis (Maslach & Leiter, 2016).
Individu yang terus memikul mental load sering kali mengalami kesulitan mengenali dan menamai emosinya sendiri. Rasa lelah dipersepsikan sebagai kelemahan, sementara kebutuhan untuk beristirahat dianggap sebagai kegagalan dalam menjalankan peran.
Dalam jangka panjang, penekanan emosi semacam ini dapat meningkatkan risiko kecemasan dan kelelahan mental (Gross, 2015). Tidak jarang pula muncul perasaan sendirian, meskipun berada di tengah lingkungan sosial yang ramai, karena beban yang dipikul tidak pernah benar-benar diakui.
Beban yang Tak Tercatat
Salah satu persoalan utama mental load adalah absennya pengakuan struktural. Karena tidak tercatat sebagai pekerjaan formal, beban ini jarang diperhitungkan dalam pembagian tanggung jawab. Mereka yang menjalankannya kerap dianggap “baik-baik saja” hanya karena tidak mengeluh.
Padahal, riset tentang kerja emosional menunjukkan bahwa beban mental yang tidak diakui dapat mempercepat kelelahan dan menurunkan kesehatan mental, terutama ketika individu tidak memiliki ruang untuk menetapkan batas diri (Hochschild, 1983).
Ketika beban yang menopang keseharian terus diabaikan, dampaknya baru terasa saat kelelahan berubah menjadi gangguan yang lebih serius.
Menuju Kesadaran yang Lebih Kritis
Oleh karena itu, memahami mental load tidak cukup melalui pendekatan individual seperti manajemen waktu atau peningkatan produktivitas. Diperlukan kesadaran kolektif bahwa berpikir, mengantisipasi, dan mengelola juga merupakan bentuk kerja yang memiliki konsekuensi psikologis.
Pembagian tugas tanpa pembagian beban mental hanya memindahkan pekerjaan di permukaan. Mengakui kerja emosional berarti membuka ruang dialog, memperjelas tanggung jawab, dan menghentikan glorifikasi ketahanan tanpa mempertimbangkan biaya psikologis yang menyertainya.
Mental load mengingatkan bahwa tidak semua kelelahan dapat dilihat, tetapi bukan berarti tidak nyata. Dalam masyarakat yang terbiasa memuji ketabahan, refleksi yang perlu dibangun bukan sekadar tentang menjadi lebih kuat, melainkan tentang keberanian untuk mengakui lelah dan mempertanyakan beban yang selama ini dianggap wajar.
Seperti halnya proses yang bekerja di balik permukaan, kesehatan mental menuntut perhatian yang melampaui apa yang tampak. Bukan untuk melemahkan individu, melainkan untuk menjaga keseimbangan psikologis secara berkelanjutan.
