Senin, April 19, 2021

Langkah Mundur Kampanye Pilpres 2019

Gejolak 1965 Sebagai Peristiwa yang Tidak Berdiri Sendiri

Gambar: Karya Yayak Yatmaka 52 tahun silam terjadi tragedi politik yang memakan banyak korban. Tepat di bulan september, pastinya di akhir bulan. Peristiwa naas itu...

Dakwah yang Mencerahkan Kader Muhammadiyah

Muhammadiyah sekarang berbeda dengan Muhammadiyah yang akan datang. Salah satu kutipan yang disampaikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, disampaikan bahwa boleh kita sekolah tinggi seperti...

Game Online, Makanan Remaja Masa Kini

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi di era milenial saat ini sangatlah pesat mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan dan  pengaruh...

Islam Kontemporer: Harmoni Kebenaran dan Perbedaan

  Dalam tesisnya yang berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, Huntington mencoba menganalisa bagaimana bentuk baru dari kondisi dunia, didalam...
Gerry Katon Mahendra
Dosen Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Tabuh kontestasi pemilu presiden (pilpres) 2019 masih terus berlangsung dengan berbagai dinamika. Masing-masing pasangan calon (paslon), baik nomor urut 01 dan nomor urut 02 secara intensif melakukan safari politiknya ke pelosok Negeri.

Namun disadari atau tidak, dinamika yang terus bergulir justru semakin keluar dari substansi kampanye sehat dan lebih mengarah pada hal-hal yang berorientasi pada kemunduran proses berpolitik. Hal ini publik rasakan dimana kemunduran ini tidak hanya dilakukan oleh salah satu calon saja.

Jika merujuk pada teori, disebutkan oleh Imawan dalam Cangara (2011:223) bahwa kampanye merupakan upaya persuasif untuk mengajak orang lain yang belum sepaham dan yakin pada ide-ide yang kita tawarkan, agar mereka bersedia bergabung dan mendukungnya.

Teori lainnya, kampanye merupakan aktivitas komunikasi yang ditujukan ntuk memengaruhi orang lain agar ia memiliki wawasan, sikap dan perilaku sesuai dengan kehendak atau keinginan penyebar informasi (Cangara, 2011:223). Dari teori tersebut, kampanye harus yang bermaterikan hal-hal positif dan mengajak pada kebaikan untuk perubahan bangsa dan negara.

Namun, yang terjadi saat ini justru dirasa sebaliknya. Tentu saja hal tersebut membuat publik bertanya-tanya, mengapa para paslon mempertontonkan proses berkampanye yang tidak sehat? Dimanakah lketulusan calon pemimpin bangsa jika yang mereka perlihatkan jauh dari sikap negarawan?

Semakin hari, kontestasi pilpres 2019 dirasa semakin mengkhawatirkan, terutama mengenai konten kampanye atau substansi yang mereka “jual” ke publik. Kampanye pilpres yang sejatinya menjadi ajang adu gagasan, rencana program, dan kreativitas justru berubah menjadi arena saling sindir, saling serang pernyataan, dan saling “baper” antara masing-masing paslon.

Setidaknya ada empat momentum yang kemudian dinilai sebagai kampanye yang kurang dewasa dan bermartabat. Pertama mengenai pernyataan tempe setipis ATM, dimana pernyataan tersebut diucapkan oleh cawapres nomor urut 02 yang ditujukan kepada pemerintah saat ini sebagai respon tingginya harga kebutuhan bahan pokok.

Kedua, pernyataan “politikus sontoloyo”. Pernyataan tersebut keluar dari capres nomor urut 01. Meskipun tidak ditujukan kepada pihak tertentu, namun karena dalam kontestasi ini hanya terdapat dua pasang calon, tentu saja paslon nomor urut 02 yang akhirnya merasa, merespon dan meradang.

Ketiga, terkait dengan pernyataan “tampang Boyolali” yang diucapkan oleh capres nomor urut 02. Peryataan ini yang kemudian dapat dijadikan momentum counter attack oleh tim paslon nomor urut 01. Terlebih lagi Boyolali merupakan salah kota basis partai pendukung paslon nomor urut 01.

Keempat, atau yang terbaru adalah pernyataan “politikus genderuwo” yang diucapkan oleh capres nomor urut 01 yang meskipun tidak ditujukan kepada kelompok tertentu, namun dalam masa tahun politik seperti saat ini, tentu saja membuat pihak lawan menjadi merasa.

Apa yang ditunjukkan oleh masing-masing paslon tentu saja jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia. Sampai saat ini, visi-misi kedua pasangan calon memang sudah resmi diinformasikan kepada publik, namun terasa belum ada gagasan baru nan cerah dan menjanjikan yang mampu menarik dan membekas di memori ingatan masyarakat.

Paslon nomor urut 01 masih setia dan yakin dengan program yang telah dijalankan selama periode ini. Tidak salah memang karena faktanya mereka mampu menghadirkan perubahan yang cukup berarti, terutama dalam bidang infrastruktur. Namun dalam bidang lainnya misalnya bidang ekonomi, penegakan hukum, dan ruang aspirasi masyarakat masih banyak beberapa kelemahan mendasar. Poin kelemahan tersebut yang seharusnya dapat dicarikan solusinya, setidaknya dalam masa kampanye seperti saat ini.

Begitupun dari paslon nomor urut 02 yang juga dirasa tidak memiliki hal yang benar-benar baru dan unggul untuk dijadikan “komoditas” utama dalam masa kampanye saat ini. paslon nomor urut 02 lebih mengarahkan substansi kampanye dengan mengkritik hasil kerja capres nomor urut 01 tanpa berupaya menawarkan solusi aplikatif dan benar-benar kongkrit terkait dengan hal yang menjadi poin kritikan.

Pola-pola kampanye keduanya sudah sangat usang dan justru berpotensi membuat masyarakat semakin apatis jelang pilpres 2019 mendatang. Kekhawatiran yang lain adalah kekhawatiran mengenai dampak “perpecahan” antar pendukung pasca pilpres berlangsung.

Kekhawatiran tersebut telah terbukti pada pilpres 2014 hingga saat ini, dimana pasca pilpres tensi tinggi politik para pendukungnya masih terpelihara dengan baik terutama di media sosial, melalui para “cebong” dan “kampret”. Pola kampanye tersebut yang pada akhirnya membuat masyarakat merasa semakin tidak memiliki pilihan terbaik diantara dua paslon tersebut. Bahkan tak jarang, banyak publik yang merindukan adanya poros ketiga (meskipun hal tersebut mustahil terjadi saat ini) sebagai jalan alternatif dikala kedua capres yang pernah bertarung kembali bertarung untuk kedua kalinya.

Publik saat ini hanya bisa berharap disisa-sisa waktu kampanye pilpres, muncul perubahan signifikan terutama terkait dengan adab, etika, dan substansi kampanye yang dipertontonkan oleh masing-masing paslon. Publik merindukan kampanye yang diisi dengan berbagai gagasan ide terbaru yang diharapkan dapat membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Tawaran ide dan program tersebut yang kemudian dapat dijadikan pertimbangan pokok, terutama bagi para swing voters dan  pemilih rasional untuk dapat menentukan pilihan yang paling tepat dalam pilpres 2019 mendatang untuk Indonesia yang lebih baik.

Gerry Katon Mahendra
Dosen Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.