Jumat, April 23, 2021

Krisis Moralitas Sepak Bola Indonesia

Evolusi Terorisme dan Dangkalnya Ingatan Publik

Penusukan oleh sepasang suami-istri terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, Kamis (10/10) merupakan salah satu bentuk evolusi serangan terorisme. Kalau kita cermati,...

Sistem Zonasi PPDB dan Siasat Miskinisasi

Dunia pendidikan kita lagi-lagi mengalami persoalan rumit dan krusial. Sistem pendidikan nasional yang menjadi salah satu landasan utama untuk mendidik manusia-manusia Indonesia berkualitas di...

Facebook dan Martabat Manusia

Tak dapat dimungkiri, bahwa facebook (FB) adalah salah satu media sosial (medsos) yang sangat digemari manusia. Baik bagi masyarakat perkotaan, pedesaan hingga dunia anak....

Dua Smartphone untuk #2019SelfieLebihBaik

Kebutuhan manusia terhadap alat telekomunikasi semakin tak bisa dielakkan. Bukan sekadar untuk memudahkan komunikasi, melainkan untuk kebutuhan lain, seperti berfoto dan berkirim foto yang...
Almer Sidqi
Wartawan

Pada Minggu (23/9), sebelum laga Persija kontra Persib di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dimulai, satu jiwa telah melayang: Haringga Sirla suporter The Jak Mania meninggal dunia karena dikeroyok.

Tragedi nahas yang terjadi kemarin, mengingatkan saya pada serangkaian korban tewas akibat perseteruan kedua suporter fanatik ini; tercatat tujuh orang telah meninggal dunia sepanjang tahun 2012 hingga 2018.

Senin pagi, 24 September, saya membaca berita celaka ini, lantas menonton video pengeroyokannya yang tersebar luas di media daring. Saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat.

Bagaimana mungkin seseorang dianiaya seperti binatang, tanpa ada yang membelanya Haringga tersungkur, dipukuli berbagai macam benda; dari botol, balok kayu, mangkuk, dan berbagai benda lainnya. Ratusan orang yang berada di TKP sama sekali tidak bergeming, mereka malah menyumpahi sembari menyanyikan yel-yel. Beberapa orang lainnya secara bergilir memberikan hantam.

Hal yang paling menggelitik, sekaligus bikin nyeri: ada lantunan La ila ha ilallah yang diteriaki di tengah-tengah perbuatan biadab tersebut. Bagaimana mungkin mereka menghunus nyawa seorang muslim dengan bertakbir? Ini perilaku paling kafir yang pernah saya lihat. Kekafiran yang jauh melampaui kebodohan jahiliah

Haringga bertolak ke Bandung sendirian untuk menyaksikan pertandingan Persija bertandang. Wanti-wanti pun datang agar ia tidak perlu menghadiri pertandingan celaka itu, bahkan sendirian, ia tidak menggubrisnya. Ia seperti percaya, bahwa masih ada kebaikan di tubuh sepak bola kita. Kebaikan yang hadir jika kita sendiri datang membawa perdamaian.

Kenyataannya berkata lain. Ia dikejar-kejar, dipukuli, sempat meminta pertolongan kepada tukang bakso, yang tentu tidak dapat menahan para zombie-zombie itu sendirian. Haringga ditarik, dihabisi hingga meninggal dunia.

Setiap manusia yang masih memiliki akal sehat dan hati nurani, pasti meringis. Tragedi ini bukan hanya membuat saya makin pesimis dengan sepak bola negeri sendiri, namun saya juga makin pesimis dengan sikap kita sebagai bangsa. Dengan kata lain, kita hidup dalam belenggu kebodohan dan amoral.

Sudah cukupkah kebodohan ini merasuki kita? Atau kita masih memerlukan beberapa jiwa lagi untuk mencapai kata sepakat dengan kemanusiaan?

Problematika Lama

Terhitung sejak Divisi Utama Liga Indonesia bergulir (1994-1995), korban meninggal akibat pergesekan suporter mencapai 49 jiwa. Sebagian besar terjadi akibat pengeroyokan disertai serangan senjata tajam. Singkatnya, sepanjang dua puluh empat tahun liga sepakbola di Indonesia jalan merangkak dan tidak responsif; diwarnai tragedi berdarah, yang terus berepetisi dan berkesinambungan.

Wacana perdamaian sepertinya hanya sampai pada kerongkongan saja, justru suporter Indonesia semakin brutal belakangan; 38 korban meninggal dunia terjadi sepanjang tujuh tahun terakhir (2011-2018). Saya merasai, setiap nyawa yang melayang hanya disikapi sambil lalu.

Kontribusi diharapkan dari berbagai lini. Sikap patron dan pengelola klub harus semakin giat mendidik suporternya. Bagaimanapun, generasi muda selalu menjadi dominator pada sebuah klub. Tragedi-tragedi yang telah berlalu berhasil merampas hidup mereka; yang, bukan hanya menaruh sikap kecintaannya pada klub, tapi juga nyawanya.

PSSI perlu mengambil sikap yang tepat guna. Ini bukan cuma soal sepak bola dan nilai-nilai loyalitasnya sebagai suporter, ada yang lebih penting daripada itu: Kehidupan.

Almer Sidqi
Wartawan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.