Mahasiswa sering berada pada situasi yang menuntut serba cepat: jadwal kuliah padat, tugas menumpuk, kegiatan organisasi, hingga mobilitas yang tinggi. Dalam kondisi seperti itu, makanan cepat saji menjadi pilihan yang dianggap praktis, mudah didapat, dan rasanya konsisten. Kebiasaan ini terlihat wajar di lingkungan kampus karena banyak stand makanan dan minuman siap saji yang berlokasi di sekitaran kampus atau yang ada di dalam kampus. Tapi, jika dikonsumsi keseringan, makanan cepat saji bisa berpengaruh terhadap kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Makanan cepat saji biasanya merujuk pada makanan yang disiapkan dengan cepat, dijual siap santap, dan biasanya mengandungan kalori tinggi. Contohnya adalah ayam goreng tepung, burger, kentang goreng, mi instan, pizza, serta aneka makanan ringan tinggi gula dan garam. Selain itu, pola konsumsi cepat saji juga sering disertai minuman manis seperti teh kemasan, kopi susu, atau soda. Campuran makanan yang tinggi kalori dengan minuman tinggi gula dapat meningkatkan total asupan energi harian tanpa disadari, terutama kalau mengkonsumsi makanan cepat saji dilakukan berulang kali dalam seminggu.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi pola konsumsi makanan cepat saji pada mahasiswa. Pertama, faktor waktu dan kesibukan. Ketika waktu terbatas, mahasiswa sering kali lebih memilih makanan yang tidak memerlukan proses masak(instan), tidak perlu menunggu lama, dan bisa dimakan sambil beraktivitas. Kedua, faktor ekonomi dan barang promosi.
Banyak produk makanan cepat saji yang terlihat murah karena promo, bundling, atau diskon melalui aplikasi. Ketiga, faktor akses dan lingkungan. Jika di sekitar kampus lebih banyak tersedia makanan cepat saji dibandingkan makanan rumahan bergizi, maka pilihan mahasiswa secara otomatis mengarah ke yang paling mudah dijangkau. Keempat, faktor kebiasaan dan sosial. Ajakan teman, budaya nongkrong, serta kebiasaan “makan bareng” sering mendorong mahasiswa membeli makanan cepat saji sebagai bagian dari aktivitas sosial.
Dari dunia kesehatan, konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan berpotensi menimbulkan beberapa dampak. Dalam jangka pendek, mahasiswa dapat mengalami rasa cepat lapar, lesu, atau kesulitan fokus jika pola makan tidak seimbang dan minim serat. Hal ini terjadi karena makanan cepat saji sering rendah sayur dan buah, sehingga serat yang membantu kenyang lebih lama menjadi kurang. Selain itu, kandungan garam yang tinggi dapat memengaruhi keseimbangan cairan tubuh dan berkontribusi pada tekanan darah kalau terlalu sering dalam jangka panjang. Pada beberapa orang, konsumsi lemak jenuh dan gula berlebih juga dapat memicu keluhan seperti gangguan pencernaan, jerawat, dan pola tidur yang kurang baik, terutama jika makan dilakukan larut malam.
Dalam jangka panjang, pola konsumsi cepat saji yang tidak terkontrol bisa meningkatkan risiko kenaikan berat badan, obesitas, gangguan metabolik, dan masalah kesehatan lain seperti kolesterol tinggi atau resistensi insulin. Risiko tersebut biasanya muncul secara bertahap dan sering tidak disadari karena dampaknya tidak langsung terasa. Tantangan utamanya ialah kebiasaan makan mahasiswa sering tidak teratur: sarapan dilewatkan, makan siang terlambat, lalu malam hari makan dalam porsi besar atau memilih makanan yang tinggi kalori. Pola ini dapat memperburuk gaya hidup kurang aktivitas fisik, seperti duduk lama di kelas atau depan laptop, dan kurangnya aktivitas fisik.
Perubahan cara mengkonsumsi berlebihan perlu dilakukan dengan cara realistis dan sesuai kondisi mahasiswa. Langkah pertama adalah membangun kesadaran terhadap tingkat konsumsi.
Mahasiswa bisa memulai dengan mengurangi makanan cepat saji, misalnya cukup 1-2 kali dalam satu minggu. Langkah kedua adalah memperbaiki komposisi makanan. Saat terpaksa membeli makanan cepat saji, mahasiswa dapat menyeimbangkan dengan menambah sayur, memilih porsi yang lebih kecil, atau mengganti minuman manis dengan air putih. Langkah ketiga adalah menyiapkan alternatif sederhana. Membawa bekal ringan seperti buah, roti gandum, telur rebus, atau kacang-kacangan bisa mengurangi kebiasaan membeli camilan tinggi gula dan garam. Langkah keempat ialah memperbaiki jadwal makan, terutama membiasakan sarapan dan makan siang pada waktu yang lebih teratur agar tidak “balas dendam” makan pada malam hari.
Peran lingkungan kampus juga sangat penting dalam membantu mahasiswa menerapkan pola makan lebih sehat. Kantin kampus dapat menyediakan pilihan menu bergizi dengan harga terjangkau, seperti sayur, lauk rebus/panggang, dan buah. Selain itu, kampus bisa mendorong edukasi gizi melalui poster sederhana, seminar kesehatan, atau kampanye “pilih makan seimbang” pada kegiatan mahasiswa. Kebijakan kecil seperti menyediakan air minum gratis/isi ulang juga dapat mengurangi konsumsi minuman manis kemasan yang sering dimakan dengan makanan cepat saji. Dapat di dukungan dengan fasilitas olahraga atau program aktivitas fisik lainnya yang dapat membantu menyeimbangkan gaya hidup mahasiswa.
Dalam penerapannya, tujuan utama bukan melarang mahasiswa mengonsumsi makanan cepat saji, melainkan mengarahkan agar mahasiswa lebih sering mengkonsumsi makanan cepat saji dengan bijak dan tidak menjadi kebiasaan buruk. Mahasiswa tetap bisa menikmati makanan cepat saji sebagai variasi, namun perlu mengelola frekuensi, porsi, dan pendampingnya. Dengan langkah sederhana dan konsisten, mahasiswa dapat menjaga kesehatan, meningkatkan energi, dan menjaga fokus belajar tanpa harus merasa terbebani.Menjaga kesehatan dan tidak berlebihan dalam makan adalah sikap yang dianjurkan, sehingga memilih pola konsumsi yang lebih seimbang merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
