Jumat, April 23, 2021

Keturunan Imigran dalam Tim Perancis di Piala Dunia, Bagaimana Statusnya?

Suara Rakyat yang Tercekik

Saya bukan siapa-siapa. Bukan aktivis. Bukan praktisi hukum. Bukan politisi pro rakyat. Juga bukan SJW partisan maupun non partisan. Tak pernah ikut demo. Tak...

UU Pemilu Baru dan Legitimasi Demokrasi

Semangat perubahan undang-undang pemilu rutin setiap 5 tahunan yang ditata kembali bertujuan menjamin prinsip keterwakilan, keterpilihan, akuntabilitas, legitimasi dan demokratisasi yang lebih luas. Nyatanya...

Pemilu 2019, Amanah atau Tahta ?

Dalam sejarahnya, pemilu di Indonesia telah dilaksanakan sebanyak 11 kali termasuk pemilu di tahun 2019 ini. Banyak momen yang telah menghiasi pemilu di Indonesia...

Bahaya RUU Cipta Kerja bagi Lingkungan Hidup

Beberapa hari yang lalu Pemerintah telah menyerahkan draf Rancangan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja (RUU Cipta Lapangan Kerja) kepada Dewan Perwakilan Rakyat. RUU tersebut...
Fabio Syadino
Mahasiswa ilmu hukum Universitas Andalas Padang

Perancis merupakan salah satu tim Eropa yang berhasil masuk sampai ke babak semifinal Piala dunia selain Belgia, Kroasia, dan Inggris.

Perancis termasuk tim yang diunggulkan di Piala Dunia 2018 karena pemainnya bermain di liga-liga top dunia seperti di liga Inggris ada Paul Pogba yang bermain di Manchester United, Antoine Griezman yang bermain di Athletico Madrid laliga Spanyol, Toliso yang bermain di Bayern Munchen bundes liga jerman dan lain-lain.

Tidak hanya di luar Perancis, liga domestik Perancis pun banyak menghasilkan pemain-pemain hebat sebut saja Kylian Mbappe (Paris Saint German) , Nabil Fekir (Olympique Lyon), Thomas Lemar (As. Monaco) dan masih banyak lagi yang lain.

Perancis merupakan salah satu tempat persinggahan imigran di negara Eropa, sehingga banyak para imigran yang menjadi warga negara Perancis.

Perancis merupakan negara multikultural etnis di mana tidak hanya bangsa asli Perancis juga imigran yang datang ke Perancis. Imigran adalah orang yang datang dari negara lain dan tinggal menetap di suatu negara, dan Perancis adalah salah satu negara yang banyak dikunjungi para imigran terutama dari Timur Tengah dan Afrika.

Adapun negara bekas koloni Perancis kini sebagian besar tersebar di Afrika Utara dan Afrika Barat. Dua negara bekas koloni, Al Jazair dan Maroko menjadi penyumbang imigran terbanyak di Perancis berdasarkan Institut National d’Etudes Demographiques

Di Piala Dunia 2018 menarik untuk kita lihat, tidak hanya pemain yang merupakan bangsa asli perancis tetapi juga imigran dan keturunan imigran. Perancis sendiri memang dikenal sebagai negara yang sangat beragam suku, agama, dan ras, karena dihuni oleh imigran-imigran dari benua eropa.

Di antara daftar 23 orang pemain yang dipanggil pelatih Deschamps terselip nama-nama keturunan imigran. Beberapa pemain Perancis yang merupakan keluarga imigran seperti Kylian Mbappe keturunan Kamerun dan Al Jazair, Umtiti, Paul Pogba, Adil Rami berdarah Maroko, Benjamin Mendy berdarah senegal, N’golo Kante keturunan imigran Mali, Nabil Fekir anak dari imigran Al Jazair, Raphael Varane dan Blaise Matuidi.

Salah satu sebab ada keturunan imigran di negara Perancis karena Kewarga-negaraan Perancis berdasarkan prinsip ius soli “hak mendapatkan kewarganegaraan yang dapat diperoleh bagi individu berdasarkan tempat lahir di wilayah suatu negara”.

Hukum 1993 Megaignerie memperbolehkan anak yang lahir di Perancis dari orang tua asing untuk meminta kewarganegaraan Perancis pada masa dewasa, ketimbang secara otomatis diberi kewarganegaraan.

Permintaan “manifestasi kehendak” tersebut kemudian disingkirkan oleh hukum Guigou 1998, namun anak yang lahir di Perancis dari orang tua asing masih dianggap asing sampai meraih mayoritas hukum.

Tidak hanya di Perancis, beberapa negara juga menggunakan prinsip ius soli untuk mendapatkan status kewarganegaraan seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, dan termasuk Indonesia. Prinsip ius soli ini juga menguntungkan bagi sepakbola suatu negara.

Fabio Syadino
Mahasiswa ilmu hukum Universitas Andalas Padang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.