Kamis, Juni 20, 2024

Kerusakan Mental Dibalik Konten Viral

Fajar Mahotra
Fajar Mahotra
Mahasiswa kupu-kupu.

Dewasa ini, apa saja yang terjadi dibelahan bumi mudah sekali tersebar dengan begitu cepat. Kemajuan teknologi informasi, menjadi pendorong utama dalam percepatan informasi melalui tulisan dan video. Kemudian di kenal dengan istilah fyp atau for you page sebagai sebuah halaman untuk menjadikan video banyak ditonton, disukai, dan bahkan menjadi viral.

Kemudian muncullah orang-orang yang ingin kontennya fyp dan viral. Menjadikan mereka berpikir keras, konten apa yang harus di buat agar viral. Sehingga tidak sedikit konten kreator yang kehilangan akal, menggadaikan keimanan, tidak memperdulikan mental, yang penting konten mereka viral.

Kerusakan Mental dibalik Konten Viral

“Belajarlah dari peristiwa orang lain, jangan sampai orang lain yang belajar dari peristiwa kita.” Agaknya itulah ungkapan yang pantas untuk di gaungkan. Cukup banyak akibat buruk yang disebabkan oleh kedungungan para konten kreator. Dari keimanan yang tergadaikan sampai mental yang harus rusak, akibat tidak berpikir panjang ketika membuat konten.

Banyak contoh kejadian yang masih segar, dan sudah harusnya menjadi pelajaran. Akan kami bentangkan beberapa contoh dan sedikit komentar.

Pertama, konten makan babi sambil membaca bismillah. Seorang konten kreator wanita yang dikenal beragama Islam, penasaran dengan makanan babi guling yang berseliweran dimedia sosial.

Berangkat dari rasa penasaran, dia pun mencoba menyantap babi guling. Namun yang menjadi sumber permasalahan, dia memulai dengan bismillah saat makan babi. Hal ini tentu memarakkan api kemarahan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam dan masih lurus. Beda dengan Islam KTP yang liberal, komunis, pluralis, yang tidak terusik keimanannya. Hingga akhirnya, dia mendapatkan predikat tersangka.

Kasus ini, juga berkaitan dengan konten makan eskrim oleh perempuan berhijab yang kehilangan akal, gila pujian dan kepopuleran.

Dari kejadian ini kita belajar, bahwa isu agama amat sensitif untuk dikaitkan dalam konten tanpa berpikir panjang. Dalam kasus itu, Islam sebagai agama yang terkena, cukup menjadi pelajaran dan jangan sampai agama lain juga dijadikan bahan konten. Karena sekali lagi, isu agama cukup sensitif.

Kedua, konten yang saat ini lalu lalang di media sosial. Yaitu konten siapa yang cantik dan yang ganteng. Background konten ini, dilakukan di sekolah dasar agaknya. Siswa dan siswi ditanya, siapa yang cantik dan siapa yang ganteng.

Kemudian mereka menyebutkan beberapa nama. Dalam pandangan umum, konten ini biasa saja dan tidak ada yang salah. Padahal, jika kita kaji dan tinjau secara lebih dalam, dapatlah kita rasakan bagaimana perasaan anak-anak yang tidak disebutkan namanya dalam label ganteng dan cantik.

Bukankah itu dapat menciptakan rasa insecure, rasa minder, dan mental yang perlahan tergoreskan. Siswa/i yang namanya tidak disebutkan dalam label cantik dan ganteng, setidaknya mereka akan berpikir, “Berarti aku tidak ganteng” atau “Ternyata aku tidak cantik.” Bukankah hal ini menyakitkan bagi mereka yang seharusnya merasakan keasikan masa kecil ?

Seharusnya, inilah yang menjadi acuan dasar bagi setiap konten kreator ketika ingin membuat konten. Tidak hanya berpikir dangkal, berpikir saat itu, tapi berpikirlah lebih dalam dan engkau akan dapatkan kebenaran dan ketenangan. Sebab, manusia yang baik akan gelisah ketika membuat luka pada orang lain.

Pentingnya Berpikir Panjang

Seseorang yang berpikir panjang, mendalam, dan kritis akan memberikan dampak yang baik bagi dirinya sendiri. Ketika seseorang berpikir panjang, dia akan mampu melihat apa yang tidak dilihat orang lain dan mampu menjangkaunya. Dia akan mampu menganalisis dan melihat dampak yang akan terjadi jika berpikir pendek dan dangkal. Seseorang akan lebih berhati-hati dalam bertindak dan berucap.

Disamping itu, berpikir panjang juga perlu dibumbui ilmu sehingga akan lebih hati-hati dan waspada dengan segala yang akan dihadapi. Penyesalan datang di akhir karena kurangnya pikiran akan hal yang didepan. Maka, belajarlah dari kejadian orang lain, jangan sampai orang lain yang belajar dari kejadian kita. Semoga bermanfaat.

Fajar Mahotra
Fajar Mahotra
Mahasiswa kupu-kupu.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.