Minggu, April 18, 2021

Kenapa Jokowi Tidak Memilih Mahfud MD?

Menerapkan Sifat Fathonah Rasulullah Saw dalam Berbisnis

Menerapkan Sifat Fathonah Rasulullah Saw dalam BerbisnisNabi Muhammad ialah utusan Allah yang patut kita teladani dari setiap yang ada pada diri Rasulullah. Termasuk juga...

Quo Vadis Gereja, Apolitis atau Underbow Pemerintah ?

Gereja Dan Badan2 Pelayanan Harus APOLITIS dan Tidak Menjadi UnderBow Pemerintah : Elia Berdiri dan Menjadi Lawan Bagi Ahab Raja Amoral Dan Sundal -...

Mengenal Syekh Yusri dan Ajaran Tasawufnya (Bag. 2)

Membumikan Spirit Cinta dalam Beragama Tulisan bagian pertama klik di sini. Di antara pahatan terpenting dalam bangunan ajaran Tasawuf Syekh Yusri—sebagaimana ajaran para sufi pada umumnya—ialah...

Pengaruh Fatwa MUI dalam Melegitimasi Kekerasan terhadap Jamaah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah lembaga masyarakat non-pemerintah yang menghimpun Ulama, Zuama, dan Cendekiawan Muslim Indonesia. Majelis ini berdiri pada tanggal 7 Rajab 1395...
daffa ardhan
Blogger dan Mahasiswa Ilmu Politik. Banyak tahu tapi tidak tahu banyak~ | www.DaffaArdhan.com

Secara integritas mungkin Mahfud MD lebih mumpuni. Segudang prestasi beliau yang sudah pernah meduduki jabatan politik pada 3 pilar demokrasi dari mulai eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Itu sudah lebih dari cukup untuk mendukuki kursi cawapres.

Tentu keputusan yang mengejutkan ketika pihak GNPF dan 212 sedang bersusah payah mengajukan kaum agamis seperti UAS lewat Ijtima Ulama, namun pihak Jokowi justru jauh lebih dulu mengusung ulama besar sekelas Ma’ruf Amin yang dihormati oleh berbagai kalangan maupun ormas islam.

Sikap skeptis Jokowi untuk memilih Mahfud MD memang disinyalir pada pertimbangan dukungan massa yang lebih besar. Harapannya Jokowi bisa merangkul massa dari kalangan NU dan merontokan tuduhan anti-ulama.

Menjadi wajar jika integritas Mahfud MD selama ini tidak menjadi pertimbangan yang menjual bagi Jokowi untuk berada pada titik aman. Karena merebut kemenangan dalam kontestasi politik apalagi dalam skala nasional integritas saja tidak cukup.

Bahkan tidak menapik bahwa kemenangan sesungguhkan diletakan pada elektabilitas dan citra positif di mata masyarakat sehingga sebaik apapun kinerja seseorang di birokrasi tidak akan menjamin kemenangan dalam perolehan jabatan.

Itu terbukti dari seorang Ahok yang kinerjanya diakui setingkat nasional saja bisa kalah dengan lawannya yang lebih banyak meraup dukungan berdasarkan politik identitas dan emosional agama.

Tentu pertimbangan Jokowi dalam memilih cawapres sangatlah kompleks. Selain menimbang-nimbang persetujuan dari partai pendukungnya, Jokowi sudah harus segera mematahkan anggapan ‘anti-islam’ yang sering disematkan padanya. Ditambah lagi isu SARA masih sering dimainkan oleh orang-orang yang ingin menjatuhkannya.

Perjuangan Jokowi selama ini dari seringnya kunjungan terhadap ulama, mengakomodir janji kampanye dan kepentingan santri sampai ‘merekrut’ dukungan dari kalangan pro islam seperti Ngabalin dan TGB ternyata masih dianggap belum cukup. Terpilihnya Ma’ruf Amin dalam menit-menit terakhir menjadi semacam senjata terakhir Jokowi untuk memecahkan tuduhan dari kaum intoleran.

Ma ruf Amin meski track recordnya dalam politik tak segemilang Mahfud MD tetapi pertimbangan untuk menaiki citra positif Jokowi di mata masyarakat muslim indonesia harus lebih didahulukan. Sebab bila berkaca pada Pilgub DKI lalu, sentimen agama selalu memenangkan hati masyarakat dibandingkan hasil kerja petahana.

Namun bukan berarti Jokowi mengesampingkan integritas seorang Mahfud MD. Ini hanya metode Jokowi untuk membuka pintu kemenangan kemudian ketika pintu itu telah terbuka, orang-orang baik yang beritegritas bisa melenggang masuk dengan lebih mudah.

Bisa jadi jika Jokowi kembali terpilih lagi untuk periode ke 2, Mahfud MD akan dilibatkan dalam jabatan di pemerintahan seperti menteri atau sejajarnya. Hal ini sangat beralasan karena jabatan tersebut lebih didasarkan pada kepentingan integritas dan pengalaman tanpa harus memikirkan elektabilitas dan dukungan massa.

Meski nanti tetap ada sedikit pertimbangan ‘bagi bagi jatah’ menteri untuk mengakomodasi parpol pendukung agar tidak menganggu roda pemerintahan. Terlebih lagi jika seorang Mahfud MD menjadi menteri, dia bisa punya wewenang yang besar dan terfokus kinerjanya daripada sekedar wakil presiden yang posisinya jarang terlihat dibandingkan presidennya sendiri.

Seperti JK sekarang, setiap penentuan kebijakan yang lebih banyak di sorot ya Jokowi. Selama ini kita tidak tahu kinerja JK seperti apa karena tertutup oleh sosok Presiden. Padahal mungkin setiap kebijakan Jokowi, ada keterlibatan JK di dalamnya.

Jokowi juga nampaknya banyak belajar dari kemenangan Anies-Sandi. Dia tidak ingin kalah hanya karena isu SARA yang jelas-jelas membutakan kinerja yang selama ini dikerjakan dengan sungguh-sungguh oleh Ahok.

Dalam politik terutama dengan kondisi masyarakat indonesia sekarang, tidak bisa menjadi terlalu idealis dengan hanya mempertimbangkan integritas semata. Untuk membuat indonesia jauh lebih baik memang tidak bisa berpikir lurus-lurus saja.

Kemenangan ada dikehendak rakyat, oleh karena itu Jokowi harus menyesuaikan keinginan rakyatnya yg masih cenderung memilih berdasarkan karismatik seorang tokoh. Sebab perlu strategi jitu agar kursi presiden tidak jatuh ke tangan yang salah. sekalipun itu harus mendompleng nama Ma’ ruf Amin.

Apa keputusan Jokowi salah? Secara idealisme kebangsaan, bisa jadi ini keputusan yang salah tetapi mau dibilang apalagi kalau negara penganut demokrasi memang tidak mengizinkan seseorang yang penuh integritas untuk menang sampai kapanpun.

Kalau ingin negara ini hanya diisi oleh orang profesional yang berintegritas saja maka buatlah sistem pemilihan calon presiden seperti seleksi lowongan pekerjaan. Ada sesi wawancara, tes tulis, lampiran CV, sederet portofolio dan lain sebagainya. Yang dipilih adalah mereka yang benar-benar bisa kerja, bukan yang mendapat suara terbanyak. Tapi pertanyaannya apa bisa pilpres dibuat seperti itu? Kan tidak mungkin juga.

Kalau ada yang kecewa dengan pilihan jokowi itu wajar. Tapi jangan sampai berlarut-larut apalagi golput. Bagi pendukung Ahok, keputusan memilih Ma’ruf Amin mungkin sedikit bikin sakit hati. Sebab beliau pernah menjadi saksi yang memberatkan Ahok pada kasus penodaan agama kala itu.

Namun kalau menuntut seorang politikus berprilaku idealis, sampai kapanpun sulit terwujud. Justru golput akan jadi bahan kampanye baru pihak lawan untuk melemahkan dukungan pada petahana.

Pilpres kali ini seperti memilih yang buruk diantara yang paling buruk. Jokowi mungkin bisa dipandang buruk, tetapi keburukannya itu tidak lebih parah dibandingkan lawannya.

Ibarat memilih buah jeruk yang busuk dalam sekantung keranjang. Walaupun semuanya busuk, tapi kita pasti memilih yang busukya paling sedikit. Dan Jokowi bisa menjadi pilihan yang paling sedikit busuknya dibandingkan jeruk-jeruk lainnya.

daffa ardhan
Blogger dan Mahasiswa Ilmu Politik. Banyak tahu tapi tidak tahu banyak~ | www.DaffaArdhan.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.