OUR NETWORK
Geomedia - JFK 2022
Sabtu, Juni 25, 2022
Geomedia - JFK 2022

Keberadaan Bunga dan Situasi Pandemi Covid-19 di Indonesia

Rafli Prambudi
Mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

Bulan Maret tahun 2022 menandakan bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia sudah berlangsung selama dua tahun. Selama kurun waktu tersebut tentu saja sudah banyak peristiwa yang terjadi, mulai dari kasus penimbunan alat kesehatan, penyebaran disinformasi berbahaya, pemberlakuan PPKM, dan masih banyak lagi.

Saat ini Indonesia masih berada di gelombang ketiga karena kemunculan varian Omicron. Walau demikian beberapa ahli memperkirakan bahwa gelombang ketiga tidak akan berlangsung lama, bahkan kabar baik ini didukung oleh pernyataan WHO yang memperkirakan bahwa pandemi Covid-19 akan segera berakhir tahun ini.

Berhubung pandemi Covid-19 sudah berlangsung selama dua tahun di Indonesia, tentu tidak ada salahnya jika kita menilik kembali segala hal yang sudah terjadi dalam kurun waktu tersebut.

Tidak bisa dimungkiri bahwa pandemi telah mengubah banyak hal di masyarakat dari berbagai aspek, baik ke arah yang lebih baik maupun sebaliknya. Berbagai perubahan dan jatuh bangunnya kondisi masyarakat tersebut dapat diamati dari berbagai sumber seperti berita, jurnal, data-data, dan masih banyak lagi. Namun, dari berbagai sumber tersebut keberadaan bunga secara tidak langsung dapat menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi selama pandemi Covid-19 berlangsung di Indonesia. Bagaimana bisa? Tentu saja bisa.

Pada awal gelombang pertama keberadaan bunga sedikit demi sedikit mulai menghilang. Hal ini terjadi karena di gelombang pertama diberlakukan karantina dan social distancing skala besar untuk mencegah penularan. Berbagai macam perayaan terpaksa ditunda atau dibatalkan demi mencegah kerumunan, dan bunga-bunga yang biasanya hadir untuk memeriahkan suasana acara pun ikut menghilang.

Tidak bisa dimungkiri bahwa bunga sering kali hadir di berbagai perayaan baik sebagai hiasan maupun sebagai hadiah. Contohnya di hari Valentine dan Idulfitri, penjualan bunga dapat naik drastis dan mendekati hari-hari tersebut banyak bermunculan penjual bunga dadakan.

Namun, pandemi membuat masyarakat kesulitan untuk merayakannya sehingga otomatis penjualan bunga ikut menurun. Begitu pula dengan perayaan wisuda, pernikahan, festival budaya, dan lain-lainnya yang sering kali dimeriahkan dengan bunga, perayaan-perayaan tersebut juga terpaksa dibatalkan karena pandemi. Keberadaan bunga ikut berkurang seiring dengan berkurangnya perayaan yang bisa diselenggarakan.

Perlu diingat pula bahwa di gelombang pertama banyak sektor usaha yang mengalami kerugian dan terjadi krisis ekonomi. Petani bunga dan penjual bunga juga ikut terkena imbasnya dan hal ini diperparah dengan fakta bahwa bunga bukanlah produk yang bisa disimpan untuk waktu yang lama.

Bunga-bunga yang membusuk membuat petani dan penjual bunga kesulitan untuk menutup kerugian. Selain itu, krisis ekonomi menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Di masa krisis seperti itu banyak orang yang menabung dan hanya mengeluarkan uang untuk hal yang penting-penting saja. Pada umumnya bunga bukanlah produk yang wajib dibeli seperti kebutuhan lainnya, hal ini membuat penjualan bunga semakin merosot dan keberadaannya semakin langka.

Lalu selanjutnya, kira-kira di masa gelombang kedua, seperti masyarakat yang sudah mulai beradaptasi dengan pandemi, bunga juga ikut beradaptasi dengan keadaan. Bunga-bunga bermunculan kembali namun dengan wujud yang agak berbeda.

Etalase toko bunga mulai dipenuhi dengan berbagai produk “bunga” seperti bunga kering, bunga imitasi, atau bahkan karangan bunga yang dibuat dari berbagai benda seperti uang, cemilan, boneka, dan lain-lainnya. Produk-produk tersebut bisa disimpan dalam waktu lama dan toko bunga yang mulai terisi kembali menunjukan bahwa daya beli masyarakat mulai membaik.

Tetapi keberadaan bunga yang kembali bermunculan di gelombang kedua juga menyimpan kisah yang cukup menyedihkan. Beberapa toko bunga mengakui bahwa usaha mereka masih bisa bertahan karena pesanan karangan bunga dukacita naik drastis.

Fenomena ini sesuai dengan berita-berita yang muncul di puncak gelombang kedua yang menyatakan bahwa kasus penularan sangat tinggi, terjadi kelangkaan tabung oksigen, kapasitas kamar isolasi yang makin sedikit, dan banyaknya kematian yang terjadi. Pada saat itu, toko bunga yang semula dipenuhi bunga beragam warna tergantikan oleh bunga-bunga berwarna putih dan kuning, warna bunga yang sering digunakan untuk berdukacita.

Mendekati akhir gelombang kedua, kemunculan bunga memberikan kabar baik bagi masyarakat. Jika berkeliling pada waktu itu, dapat dilihat banyak papan karangan bunga yang berjejer di pinggir jalan. Papan-papan tersebut sudah tidak lagi berisi pesan duka karena pesan yang ada di dalamnya berubah menjadi doa dan ucapan selamat atas pembukaan usaha. Banyaknya papan karangan bunga tersebut menandakan bahwa banyak orang yang mulai kembali membuka usaha dan ekonomi sudah mulai pulih.

Karangan bunga warna-warni juga kembali muncul untuk menghiasi berbagai perayaan yang diselenggarakan secara luring. Berbagai perayaan tersebut mendapatkan izin untuk diselenggarakan karena kasus infeksi sudah mulai turun secara signifikan dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Kali ini kemunculan karangan bunga dapat diartikan sebagai tanda bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia sudah dapat ditangani dengan baik.

Begitulah kira-kira kilas balik dari berbagai peristiwa dalam pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia. Keberadaan bunga secara tidak langsung dapat memberitahu kondisi masyarakat selama pandemi berlangsung. Kini Indonesia sedang menghadapi gelombang ketiga, kira-kira akan seperti apa situasi kedepannya? Apakah bunga-bunga akan kembali menghilang seiring dengan kondisi masyarakat yang memburuk atau akankah sebaliknya?

Oleh sebab itu, sebagai bagian dari masyarakat, sudah sepatutnya jika kita saling menjaga satu sama lain dan gotong royong melawan pandemi agar keadaan segera normal kembali!

Rafli Prambudi
Mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.