Sabtu, Juli 20, 2024

Jelang Lebaran Idul Adha Harga Biji Kopi Robusta Meroket

M. Khoyimah
M. Khoyimah
Penulis lahir: 26 Desember 2003

Harga biji kopi akhir-akhir ini naik sangat signifikan khususnya di daerah Pagar Alam Sumatera Selatan, Lampung dan sekitarnya. Hal ini terjadi dikarenakan beberapa hal, yang pertama karena supply dan demand (penawaran dan permintaan) yang tidak seimbang, itu sudah menjadi hukum alam disemua bidang ketika stok ketersediaan barang lebih besar dibandingkan permintaan barang maka harga akan cenderung rendah. Begitupula sebaliknya ketika permintaan barang lebih besar daripada ketersediaan stok barang maka harga akan cenderung naik. Itulah yang terjadi saat ini.

Sumatera Selatan merupakan provinsi penghasil biji kopi terbesar yang ada di Indonesia pada tahun 2022 Provinsi Sumatera Selatan mampu menghasilkan 212.000 ton dalam 1 tahun dan untuk produksi ini juga mencapai 26,72% total produksi kopi nasional.

Banyak hal yang mempengaruhi terjadinya hal tersebut contohnya perubahan iklim yang tidak teratur. Ini akan mempengaruhi hasil panen dan bahkan bisa jadi gagal panen sehingga produksi nya sedikit.

Contoh lainnya pertumbuhan dihilir lebih pesat dibandingkan pertumbuhan di hulu, simple nya  yang minum kopi itu lebih banyak tapi kebunnya sedikit, memang sekarang sudah banyak yang membuka lahanat baru untuk berkebun kopi. Namun hal tersebut masih belum bisa mengimbangi konsumsi dihilir, sebagai gambaran Coffee Shop baru itu bisa bermunculan hampir setiap hari sedangkan kebun kopi baru butuh waktu tahunan untuk bisa produktif.

Selain supply dan demand tadi, yang mempengaruhi kenaikan harga yaitu inflasi. Uang itu selalu dicetak terus menerus, jadi peredaran dimasyarakat juga makin banyak. Jadi semakin banyak uang beredar maka semakin kecil nilainya, makanya harga barang itu akan terlihat lebih mahal dari sebelumnya. Itulah beberapa faktor yang mempengaruhi kenapa harga kopi saat ini naik.

Hampir semua masyarakat Indonesia pasti menyukai kopi, maka dari itu tidak sedikit petani Indonesia yang membudidaya kopi. Untuk saat ini harga biji kopi robusta di Pagar Alam, Sumatera Selatan meroket tinggi tembus Rp 60.000 – 70.000 per kilogram. Para petani kembali semangat memelihara kebun kopi yang nyaris mereka tinggalkan bahkan mereka rela tidur di kebunnya untuk menghindari pencurian dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Seorang petani kopi di Pagar Alam, Ismanto (68), salah seorang petani Kopi Pagar Alam mengatakan, dirinya saat ini bangga menjadi petani kopi. Pasalnya dengan harga jual saat ini, dirinya bisa menabung uang hasil panen kopi untuk anak sekolah.

“Bisa menabung untuk anak sekolah kalau harga kopi terus mahal seperti saat ini. Karena sebelumnya harga di bawah Rp 20.000, makanya hasil panen hanya cukup untuk makan pertahun,” ujarnya.

Dikatakan Ismanto, kapi yang dijual saat ini merupakan kopi hasil panen tahun sebelumnya yang masih disimpan dan sebagian hasil panen awal tahun ini. Semua kopi simpanan sudah dijual karena khawatir harga jual kembali turun.

Harga biji kopi yang semakin meroket seharusnya disambut dengan sukacita oleh petani kopi pada umumnya. Namun kebanyakan ketika petani memasuki panen, harga kopi ini sudah tidak naik lagi. Jadi yang bisa menikmati kenaikan ini hanya dapat dirasakan oleh pedagang pengepul yang biasa menampung biji kopi dari petani di saat panen raya pedagang kopi menengah hingga pedagang besar ini bisa menyimpan biji kopi di gudang mereka dan baru dikeluarkan saat harga biji kopi berangsur naik

Selain itu, kenaikan harga kopi merupakan momentum yang tepat karena menjelang hari raya kurban (Idul Adha) sehingga bisa ikut menyembelih hewan kurban. Selain itu, untuk memenuhi kebetuhan anak sekolah dan kuliah karena memasuki Tahun Ajaran Baru. Sedangkan selebihnya, hasil penjualan akan ditabung untuk keperluan pendidikan anak.

Kondisi kenaikan harga ini mendorong petani hingga antri menjual biji kopi, lantaran mereka juga khawatir tiba-tiba harga kopi akan anjlok. Pasalnya sepanjang sejarah berkebun kopi, baru pertama kali mendapati harga kopi hampir mencapai 70.000. Hal ini membuat para petani kembali semangat memelihara kebun kopi yang nyaris mereka tinggalkan karena harga terus mengalami penurunan.

Salah satu pengepul biji kopi Pagar Alam, Harno mengatakan, naiknya harga kopi yang mencapai Rp 70.000 untuk kualitas super membuat para pengepul kewalahan melayani petani yang menjual biji kopi ke gudang mereka. Bahkan petani terpaksa harus mengantri untuk menjual kopinya.

Untuk kualitas tinggi membuat para pengepul kewalahan dalam melayani petani yang menjual biji kopi ke gudang mereka. Perkembangan harga biji kopi yang berkualitas super merupakan harga jual di tingkat pengepul di kota pagar alam yang di mana kopi yang dihasilkan petani itu selanjutnya dijual kepada agen kopi atau tauke yang langsung dikirim ke Lampung, Jawa hingga Pulau Kalimantan.

Jenis kopi yang banyak ditanam oleh petani di kota Pagar Alam adalah jenis robusta dengan sistem sambung sehingga sepanjang tahun tetap berbuah dengan rata-rata produksi per hektar 800 kg hingga 1,2 ton tergantung dengan lebat tidaknya buah kopi yang dihasilkan di kebun.

M. Khoyimah
M. Khoyimah
Penulis lahir: 26 Desember 2003
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.