Minggu, April 18, 2021

Jangan Salahkan Arek Suroboyo Hadang Prabowo

Ketika Petruk Mewasiatkan Ajaran Budi Luhur

Pada dasarnya setiap manusia memiliki sifat berbudi luhur yang harus dipraktekkan kepada sesama manusia. Moral budi luhur pada umumnya diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan...

Degradasi Feminis di Tengah Badai Covid 19

Dampak COVID 19 bukan hanya dalam sektor kesehatan masyarakat, tentunya berdampak di berbagai sektor seperti ekonomi, pendidikan, pariwisata, politik bahkan sampai agama. Keadaan krusial...

Ulama Aswaja Sedunia Tolak Wahabi Salafi, Ini Sebabnya!

Muktamar Ulama AhlusSunnah Wal Jamaah sedunia yang digelar di Chechnya, belum lama ini menolak dan mengeluarkan sekte Wahabi Salafi bentukan Saudi Arabia dari AhlusSunnah...

Pentakosta Ketiga, Adakah Itu?

Beberapa waktu belakangan dunia maya (dumay) diramaikan dengan polemik soal “pentakosta ketiga” dan gaungnya menjadi semakin keras pasca acara Empowered21 di SICC Bogor lebih...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Kalau arek Suroboyo sampai bereaksi. Itu tandanya, sudah keterlaluan. Melampaui batas kewajaran. Jadi, Prabowo dan Pendukungnya, tidak perlu menyalahkan sambutan arek-arek Suroboyo ini.

Kedatangan calon presiden nomor urut 02 Selasa, 19 April lalu, di Tambak Beras Surabaya mendapat sambutan kurang simpatik. Tidak hanya dengan yel-yel, masyarakat sekitar berlari mengikuti rombongan Prabowo. Hingga adu mulut tidak terelakkan dengan pendukung Prabowo.

BPN (Badan Pemenangan Nasional) Pasangan Prabowo-Sandi, Priyo Budi Santoso pun angkat bicara atas aksi penghadang di Surabaya. Menurut Sekjen Partai Berkarya, penghadang itu sebuah intimidasi kepada Prabowo. Priyo juga mengkaitkan penghadangan tersebut di tempat lain.

Intimidasi dalam konstilasi politik di Surabaya dan Jawa Timur, hanya terjadi di Pilpres 2019 ini saja.  Contohnya, event Pemilihan Gubernur tahun lalu, saat daerah lain memanas dengan isu hoax. Jawa Timur adem-ayem. Tidak bising semua berjalan damai.

Melihat kenyataan Pilgub Jatim tersebut, jelas bahwa Arek Suroboyo tidaklah gagap politik. Memahami apa itu politik kekuasaan. Sehingga bisa menerima perbedaan.

Apa yang dikatakan Priyo, bisa diterimah akal sehat. Apabila mengunakan pendekatan politik rivalitas menjelang Pilpres 2019 mendatang. Faktanya, para penghadang meneriakan yel-yel dukungan kepada Jokowi. Dan membentangkan spanduk ucapan selamat datang kepada Prabowo tapi tetap dukung Jokowi.

Namun dalam perspektif psiko-sosiologis warga Jawa Timur dan Surabaya pada khususnya. Penghadangan tersebut bukan hanya persoalan dukungan saja. Tapi sebuah protes sosial atas kondisi yang saat ini terjadi. Situasi yang memanas akibat kebisingan informasi menjelang Pilpres 2019 mendatang.

Kebisingan ini, efek dari semburan hoax, berita fitnah dan caci-maki. Yang dalam prespektif awan, sebagai metode kampanye capres nomor urut 02. Sehingga penghadangan tersebut wujud protes sosial masyarakat Jawa Timur kepada Prabowo.

Seperti diketahui, sambutan yang kurang simpati tidak hanya terjadi di Surabaya. Namun terjadi dibeberapa daerah lain di Jawa Timur. Seperti di Madiun dan Bojonegoro. Yang terjadi di Surabaya,  mendekati aduh fisik dengan pendukung Prabowo.

Seharusnya tim Prabowo belajar dari kejadian di Surabaya dan Jawa Timur. Bahwa metode kampanye yang dilakukan tidaklah efektif. Kondisi masyarakat Jawa Timur tidaklah sama dengan DKI Jakarta.

Sebagai kota metropolis terbesar kedua di Indonesia. Warga Surabaya masih memegang teguh gotong royong,  toleransi, dan nilai-nilai persatuan lainnya. Sehingga, tindakan yang mengancam nilai-nilai tersebut menjadi musuh bagi masyarakat.

Dalam guyonan politik awan. Apabila,  arek suroboyo sudah bereaksi atas keadaan nasional. Akan merembet kedaerah lain. Seperti momen politik lainnya. Misalnya, saat gerakan reformasi tahun 98. Begitu mahasiswa Surabaya turun lebih masif diikuti didaerah lain hingga lengsernya Soeharto.

Artinya, gerakan penghadangan di Surabaya ini. Sebagai akumulasi kondisi sosial yang berkembang menjelang Pilpres. Apabila, kampanye dengan cara hoax, penyebaran fitnah tidak dihentikan.  Akan banyak penghadangan kepada pasangan capres 02 dilain daerah.

Tentu saja,  harapan masyarakat Indonesia. Proses Pilpres 2019, jadi ajang pendidikan politik bagi warga. Menuju kepada tatanan bernegara yang lebih demokratis. Bukan jadi sumber perselisihan di masyarakat.

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.