Senin, Mei 17, 2021

Jaga Terus Daya Tahan, Grace… (Untuk Grace Natalie yang Berulang tahun ke-35 hari Ini)

Ketika Tsamara Menertawai Hary Tanoe Mencapreskan Jokowi

Dunia politik itu, meminjam judul lagu Iwan Fals, asyik nggak asyik. Kabar mengejutkan datang, Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) mengindikasikan dukungan terhadap Presiden Joko...

Akhir Kontestasi Pemilu 2019

Semenjak awal mula kontestasi pemilu 2019 di mulai sampai di umumkannya hasil pemilu 2019, drama demi drama masih saja terus berlanjut, belum selesai drama...

Ada Apa Dengan Hak Angket DPR

Oleh Benni Sinaga Hak angket yang dilakukan oleh dewan perwakilan Rakyat (DPR) dalam kasus mega korupsi e-ktp mencoreng nama baik DPR di mata publik, kasus...

Pendidikan dalam “Genggaman” Kepala Daerah

Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang telah diselenggarakan di 171 daerah yang terdiri dari 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten telah usai.. Pada...
Anwar Saragih
Penulis Buku Berselancar Bersama Jokowi

Politik itu soal daya tahan. Ada yang tetap melanjutkan perjuangan, ada yang binasa perlahan karena keserakahan, penyalahgunaan jabatan dan korupsi yang berakhir di tahanan. Tidak hanya itu, daya tahan pada politik selalu diukur dari seberapa konsisten kita merawat keragaman, memperjuangkan toleransi, kemerdekaan individu dan memberi penghargaan terhadap hak azasi manusia. Apalagi untuk negara plural seperti Indonesia. Menerima dan mengakui keragaman agama, etnisitas, budaya dan sumber daya Indonesia ditengah multikulturalisme adalah sebuah keharusan.

Memasuki usia kemerdekaan Indonesia yang hampir menginjak umur 72 tahun, bangsa ini sudah beberapa kali mengalami ujian pasang surut demokrasi. Di rentan waktu itu, sudah 3 kali pula presiden Indonesia harus mundur sebelum masa jabatannya berakhir; Presiden Soekarno (1966), Presiden Soeharto (1998) dan Presiden Gus Dur (2001).

Namun, gelombang demokrasi tersebut tak pernah mengendurkan ke-Indonesia-an kita. Pun tentang semangat politik bangsa ini tidak pernah digantungkan dipundak satu tokoh saja. Pergantian kepemimpinan selalu kita maknai lebih luas demi kebaruan politik untuk bergerak maju sesuai kebutuhan bangsa. Artinya, sejak awal melalui konstitusi Indonesia, sudah ada ruang bagi siapa saja yang ingin berkontribusi untuk membangun bangsa.

Grace Natalie, perempuan politik yang merayakan ulang tahun ke-35 hari ini, 4 Juli 2017, mencoba berkontribusi melalui konsep kebaruan politik Indonesia. Sebagai salah satu pendiri sekaligus ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Grace memperkenalkan PSI dengan brand politik; partai anak muda, partai perempuan, partai millenial dan partai masa depan Indonesia.

Bukan hal mudah bagi Grace masuk partai politik ditengah budaya politik Indonesia yang lebih ramah pada dunia laki-laki. Lebih lagi, Tantangan seorang Grace sebelum masuk ke dunia politik adalah Ia harus bisa pula menjelaskan peran ganda yang diemban pada suaminya, baik sebagai istri maupun ibu untuk anak-anaknya. Namun, hal yang harus diapresiasi adalah gagasan kebaruan dalam politik yang ditawarkan Grace bisa dimaknai sebagai sebuah terobosan, nyali dan keberanian seorang perempuan untuk mengambil langkah untuk bersikap menyelesaikan ragam permasalahan bangsa seperti korupsi dan intoleransi.

Seperti; Marta Christina Tiahahu dan Cut Nyak Dien yang ikut berperang melawan penjajahan Belanda, R. A. Kartini yang menerobos gagasan yang melebihi jamannya untuk memperjuangkan emansipasi perempuan. Juga di era reformasi 1998, kita mengenal sosok Megawati Soekarnoputri yang kokoh berdiri memperjuangkan demokrasi di Indonesia.

Melawan Korupsi dan Intoleransi

Zaman bergerak maju. Perubahan sosial maupun politik adalah hal yang tidak bisa diterima begitu saja. Bagi yang tidak ingin tergilas zaman, seseorang harus siap sedia berasimilasi dengan kebaruan itu sendiri. Pun dengan Grace Natalie yang sedari awal mengambil sikap berpolitik, tentu sudah mempertimbangkan matang-matang posisi PSI di kancah perpolitikan Indonesia.

Tagline “Terbuka, Progresif. Itu Kita” yang dikampanyekan PSI menjadi bukti sahih bagaimana kebaruan politik Indonesia itu ditawarkan. Komitmen PSI lewat trilogi perjuangannya; “Menebar Kebajikan, Merawat Keragaman dan Mengukuhkan Solidaritas” pun menjadi topangan gagasan ideologi yang kuat untuk melawan segala tindakan Intoleransi dan Korupsi di Indonesia.

Hal ini dibuktikan dengan sikap politik yang dikeluarkan Grace dan PSI terkait permasalahan radikalisasi, terorisme dan kekuatan etno-nasionalisme yang sentripugal memicu dis-integrasi bangsa, yang mengancam NKRI. Pada Pelbagai kesempatan pula, berkali-kali Grace mengutuk pembakaran/perusakan rumah ibadah, perilaku bullying, persekusi terhadap etnis minoritas dan diskriminasi gender.

Tidak hanya itu, pada posisi yang teguh sikap PSI konsisten melawan korupsi. Mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia dengan menolak Revisi UU KPK karena berpotensi melemahkan posisi KPK itu sendiri.

Gagasan Berpolitik Grace Natalie

Menjadi bagian dari generasi millenial, membuat Grace menyadari bahwa teknologi telah membuat keterikatan manusia dan internet hampir tidak bisa terpisahkan lagi. Dampaknya, pelbagai informasi terkait politik, ekonomi, sosial dan budaya bisa mudah diakses melalui dunia digital.
Bahkan, digitalisasi tersebut secara otomatis telah menciptakan netizen (WargaNet).

Tidak hanya itu, penyebaran informasi pun dapat dilakukan dengan mudah melalui ragam media sosial mulai dari; twitter, facebook, instagram, grup WA hingga path. Pergeseran pola tingkah laku manusia dari dunia nyata ke dunia maya pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Mengingat mainstream banyak anak-anak muda millenial sangat lekat dengan imaje pemalas, bullying, alay dan selfie. Membuat generasi millenial diremehkan dan diabaikan karena dianggap tidak produktif.

Grace menganggap anak-anak muda millenial harus move on dari pandangan negatif itu. Solusinya adalah anak-anak muda tersebut masuk dan berjuang bersama-sama di politik melalui PSI. Bukan tanpa alasan, PSI merupakan kendaraan politik yang cocok untuk generasi millenial. Sebab, syarat masuk kepengurusan PSI adalah anak-anak muda yang umurnya belum genap 45 tahun, belum pernah menjadi pengurus partai politik manapun dan mewajibkan minimal 40% kepengurusan PSI adalah perempuan dari tingkatan pusat sampai daerah.

Tujuannya, gagasan kebaruan itu benar-benar lahir dan tumbuh di dunia perpolitikan Indonesia, seperti; politik yang tidak terikat dosa masa lalu, politik kebajikan, juga komitmen perjuangan melawan diskriminasi perempuan dan anak.

Pada akhirnya, kita memang akan mengukur sejauh mana daya tahan seseorang untuk konsisten merawat kebinekaan, menegakkan keadilan dan melawan tindakan intoleransi. Tentu, seorang Grace Natalie tidak akan bisa berjuang jika hanya seorang diri saja. Sebab, Kita bersepakat bahwa bangsa ini milik semua bukan milik individu maupun golongan tertentu.

Lebih lanjut, politik kesetaraan, kebinekaan dan toleransi yang ditawarkan Grace melalui PSI adalah salah satu dari ragam gagasan politik anak bangsa dalam berkontribusi membawa bangsa Indonesia agar cepat move on dari ketimpangan sosial dan garis kemiskinan hingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa segera diwujudkan.

Selamat Ulang Tahun, Grace. Jaga terus daya tahan….

Anwar Saragih
Penulis Buku Berselancar Bersama Jokowi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.