“Di Tangerang, azan bersahutan dengan deru mesin pabrik.” Kalimat itu terdengar metaforis, tapi sesungguhnya menggambarkan realitas kota yang religius sekaligus industrial. Tangerang hari ini bukan hanya penyangga Jakarta, melainkan laboratorium sosial di mana Islam urban menemukan bentuknya yang baru.
Dari majelis taklim di gang sempit hingga masjid megah Al-Azhom di jantung kota, dari konten dakwah di TikTok hingga gerakan sosial di bantaran Cisadane — semua memperlihatkan wajah baru pergerakan Islam yang dinamis, terbuka, dan kadang juga kontradiktif.
Islam Urban dan Pergeseran Medan Dakwah
Dua dekade terakhir, Tangerang tumbuh pesat. Urbanisasi membawa pendatang dari berbagai daerah, dan bersama mereka datang pula beragam ekspresi keislaman. Dulu, pusat dakwah ada di pesantren atau ormas mapan seperti NU dan Muhammadiyah. Kini, dakwah justru bergeser ke kampus, komunitas muda, hingga ruang digital.
Di Universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) dan Universitas Muhammadiyah Tangerang, muncul forum-forum diskusi yang menautkan Islam dengan isu-isu keadilan sosial, ekologi, dan teknologi. Anak muda Muslim Tangerang tidak hanya bicara halal-haram, tapi juga membahas etika digital, green economy, dan kesetaraan sosial. Mereka ingin Islam tampil relevan, bukan dogmatis. Selain kedua Universitas tersebut, terdapat pula Institut Agama Islam Asy-Syukriyah dan Institut Daarul Qur`an Jakarta yang berada di kota ini. Kedua lembaga ini memiliki program studi yang khusus mempelajari studi Al-Qur`an dan Tafsir. Terlebih lagi mahasiswa di kedua lembaga tersebut di dominasi oleh kalangan milenial dan Z. Khusus yang disebutkan terakhir juga berperan dalam dakwah digital.
Di sisi lain, muncul pula komunitas hijrah yang marak di media sosial. Gerakan seperti Pemuda Hijrah Banten Raya dan Muslim Kreatif Tangerang memadukan dakwah dengan gaya hidup: kafe ngaji, desain busana syar’i, hingga konten motivasi berbalut religiusitas. Fenomena ini mengindikasikan bahwa generasi muda tak lagi memandang Islam sebagai ranah eksklusif ulama, tapi sebagai bagian dari identitas diri yang ekspresif dan modern.
Dari Mimbar ke Media Sosial
Kehidupan religius di Tangerang kini juga bersentuhan langsung dengan arus digitalisasi. Masjid Raya Al-Azhom menjadi contoh konkret bagaimana lembaga keagamaan beradaptasi. Lewat program Ngaji Digital dan Dakwah Kreatif, para takmir mengajak jamaah belajar membuat konten dakwah yang humanis dan faktual.
Ini menandai pergeseran penting: otoritas keagamaan tidak lagi hanya ditentukan oleh status ulama, tetapi juga oleh kemampuan berkomunikasi di dunia maya. Di Tangerang, ustaz YouTube dan pendakwah Instagram sering kali lebih didengar ketimbang penceramah tradisional. Tentu, fenomena ini memunculkan pertanyaan serius: ke arah mana otoritas keagamaan akan bergeser?
Islam dan Keadilan Sosial di Kota Industri
Namun, tidak semua warga Tangerang menikmati modernisasi dengan cara yang sama. Di balik gedung-gedung tinggi dan kawasan elit BSD atau Alam Sutera, masih ada masyarakat yang hidup di bantaran sungai dan kawasan industri padat karya. Di sinilah pergerakan Islam sosial menemukan relevansinya.
Lembaga zakat dan filantropi Islam seperti Dompet Dhuafa Banten, LAZISNU, dan Baitul Maal Hidayatullah, PPPA Daarul Qur`an memainkan peran penting. Mereka menyalurkan beasiswa, membantu UMKM, hingga memberdayakan korban PHK. Bahkan beberapa majelis taklim menginisiasi program Eco Masjid—mengolah sampah dan air limbah sebagai bagian dari ibadah sosial.
Dari situ tampak, Islam di Tangerang tidak semata ritual, tetapi juga praksis sosial. Gerakan keumatan berkembang dalam bentuk advokasi, pemberdayaan, dan solidaritas lintas kelas. Inilah wujud konkret Islam rahmatan lil ‘alamin dalam konteks kota industri.
Polarisasi dan Ruang Moderasi
Meski begitu, dinamika Islam di Tangerang tidak steril dari ketegangan. Media sosial lokal kerap menjadi arena perdebatan antara kelompok Islam yang moderat dan yang skripturalis. Isu khilafah, toleransi, dan politik identitas masih sering memantik perbedaan tajam.
Namun menariknya, polarisasi itu justru memunculkan kebutuhan akan moderasi. Pemerintah daerah bersama tokoh ormas lokal seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah sering menggelar forum dialog lintas mazhab. Tujuannya sederhana: menjaga agar perbedaan tafsir tidak menimbulkan perpecahan sosial.
Di Tangerang, mayoritas warga tampaknya memilih jalan tengah: beragama dengan serius, tapi tanpa kehilangan sikap terbuka. Ini menjadi model penting bagi kota lain di Indonesia, bagaimana Islam bisa hidup berdampingan dengan pluralitas sosial tanpa kehilangan otentisitasnya.
Ekonomi Syariah dan Kelas Menengah Muslim
Salah satu wajah baru Islam di Tangerang juga hadir dalam bentuk ekonomi. Bank syariah, koperasi halal, hingga pasar UMKM berbasis pesantren tumbuh pesat. Di Cipondoh dan Karawaci, muncul jejaring wirausaha muda Muslim yang memadukan etika bisnis dengan nilai religius.
Kelas menengah Muslim Tangerang memanfaatkan momentum ini untuk membangun citra baru: religius tapi rasional, sukses tapi sederhana. Mereka tidak menolak modernitas, melainkan berusaha mengislamkannya. Fenomena ini mengingatkan pada tesis Asef Bayat tentang post-Islamism — ketika nilai-nilai Islam hidup bukan di dalam ideologi politik, tetapi di dalam praksis sosial dan ekonomi masyarakat.
Islam Tangerang dan Masa Depan Keumatan
Dalam lanskap nasional, Tangerang bisa menjadi cermin masa depan Islam Indonesia: kota yang religius tapi modern, padat tapi produktif, plural tapi solid. Gerakan Islam di sini berlapis-lapis—ada yang tradisional, ada yang progresif, ada pula yang eksperimental.
Yang menarik, semuanya hidup berdampingan dalam ruang kota yang sama. Kadang mereka bersaing, kadang berkolaborasi. Tapi dinamika itu justru memperkaya kehidupan keagamaan, karena Islam di Tangerang tidak berjalan di ruang vakum: ia bernegosiasi terus dengan modernitas, ekonomi, dan politik lokal.
Masa depan Islam di kota ini, tampaknya, bukan lagi tentang memperdebatkan bentuk negara atau hukum, melainkan bagaimana nilai Islam dapat menjawab problem kehidupan urban: ketimpangan, alienasi, dan krisis lingkungan.
Ketika masjid mulai bicara ekologi, komunitas dakwah bicara literasi digital, dan anak muda Muslim bicara etika media — maka Islam di Tangerang sesungguhnya sedang bertransformasi menjadi gerakan moral kota modern.
Penutup
Tangerang mungkin bukan “kota santri” dalam pengertian klasik seperti Tasikmalaya atau Jombang. Tetapi di sinilah Islam menemukan wajah urban-nya: cair, kreatif, dan kontekstual.
Pergerakan Islam di Tangerang era kini bukan lagi milik satu golongan, tapi milik siapa pun yang peduli pada nilai, kemanusiaan, dan masa depan kota. Dari sini, mungkin kita bisa belajar bahwa Islam Indonesia bukan hanya bertahan di desa dan pesantren, tapi juga tumbuh di tengah beton, lampu kota, dan layar ponsel — di mana spiritualitas dan modernitas belajar berdialog setiap hari.
