Senin, April 19, 2021

Ini Pandemi Bung, Kita Bukan Don Kisot

Rendahnya Tradisi Tulis-menulis di Pesantren

Di pesantren, ada suatu kecacatan intelektual yang sudah menjadi rahasia umum, yaitu rendahnya tradisi tulis-menulis. Para santri kebanyakan dipaksa untuk menghapal -baik itu yang...

Arsip-Arsip Pribumi

Pribumi adalah semua menjadi warga negara Indonesia. Semua yang tinggal dan mengaku bertanah air Indonesia adalah pribumi.Dan mereka yang tidak mengaku berbangsa dan bertanah...

Belajar dari Wabah Tak Bisa Tidur di Macondo

Mengikuti perkembangan penanganan COVID-19 oleh pemerintah yang sering kali bikin sakit kepala, saya jadi teringat Kota Macondo dalam One Hundred Years of Solitude ketika...

Demonstrasi dan Gagal Pahamnya Salafi

Pra-reformasi pada tahun 1998, Indonesia dipimpin rezim otoriter. 32 tahun Orde Baru menjalankan pemerintahan dengan kekuatan besi.  Kebebasan berpendapat menjadi barang langka ditemukan. Masyarakat...
Marjono
Alumnus Pascasarjana Universitas Semarang (USM), 2006, Kasubbag Materi Naskah Pimpinan Biro Umum Setda Provinsi Jawa Tengah, 2015-Sekarang, dan Penulis lepas

Di tengah pandemi virus covid-19 atau corona yang meradang, masih saja ada orang yang menebar hoaks, menimbun kebutuhan pokok berlebihan, mencuri masker dan handsanitizer  seperti yang terjadi di Sukabumi baru-baru ini. Bahkan, belakangan di beberapa kota acap terjadi korban korban kecelakaan yang hanya dibiarkan tergolek di bibir jalan.

Masyarakat tak berani mendekat apalagi menolong korban. Mereka takut korban positif terpapar corona. Warga tak lebih hanya menonton dan memilih menunggu petugas tiba. Selain itu, kelakuan kita masih menjadi-jadi terhadap pasien positif corona dan keluarganya, misalnya penghinaan, penggunjingan dan pengucilan maupun perundungan lainnya yang acap membuat tidak nyaman.

Penolakan pemakaman jenazah pasien corona masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Di Tasikmalaya, jenazah positif corona terpaksa harus tertahan di mobil ambulans selama berjam-jam lantaran pemakamannya ditolak warga. Di Sumedang , Jawa Barat, jenazah seorang profesor yang meninggal dunia setelah terjangkit virus corona juga mengalami hal serupa (kompas.com, 1/4/2020).

Pasien positif corona di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah mengalami penolakan ketika hendak dimakamkan. Warga berspekulasi jika virus corona masih bisa menular ketika jenazah sudah dimakamkan.

Menanggapi hal itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta, agar kejadian penolakan jenazah yang terjadi di Purwokerto adalah yang terakhir. Menurutnya, penolakan tersebut melukai perasaan keluarga pasien. Beberapa pakar kesehatan yang telah dihubunginya, menyimpulkan jika pasien sudah meninggal dan sudah melakukan prosedur pemakaman tidak menimbulkan penularan (suarajateng.id,1/4/2020).

Membaca situasi demikian, Istana tak tinggal diam, melalui Tenaga Ahli KSP Ali Mochtar Ngabalin menyayangkan adanya warga yang menolak pemakaman jenazah korban virus corona. Istana menegaskan tak boleh ada penolakan pemakaman jenazah korban covid-19 (detiknews.com, 1/4/2020). Sebelumnya diberitakan, fenomena penolakan pemakaman jenazah korban Corona terjadi di sejumlah daerah, di antaranya di Gowa, Makassar, Medan dan Depok, dll.

Perilaku kita dengan pembiaran korban kecelakaan di jalan, perundungan pasien positif corona maupun penolakan pemakaman jenazah korban corona mengindikasikan sebagai aksi-aksi kontraproduktif, yang hanya menujukkan buruknya mutu kita sebagai bangsa besar. Atau kita memang hanya (bermulut) besar

Ketika kita menolong korban di jalan mestinya tak melihat dia positif corona atau bukan. Hal ini harus kita kembalikan pada diri kita sendiri atau keluarga kita yang mengalami. Apa yang mesti kita perbuat. Inilah refleksi kemanusiaan yang mesti naik kelas.  Maka kemudian seharusnya tak ada lagi perundungan bagi pasien maupun keluarga positif corona apalagi penolakan pemakaman.

Kearifan lokal kita menyorongkan bahwa orang hidup itu harus tolong menolong, kita tak bisa hidup sendirian dalam kondisi apapun. Pancasila pun selalu menyuarakan pada kita untuk saling membahu, memandu dan membantu. Kemerdekaan negeri ini juga tak lepas dari modal sosial itu, yakni gotong royong.

Para Pahlawan kita akan menangis menyaksikan masyarakat yang terpapar corona acap di-bully oleh saudaranya sendiri. Jangan sampai pasien dan keluarganya ini mengungsi di tanah sendiri. Itu tak boleh terjadi.

Pada fragmen lain, adanya penolakan pemakaman korban covid-19, jelas-jelas tindakan itu tak relevan dengan konten-konten kerukunan, persatuan dan tanpa diskriminasi. Jangan malah belanja ke mal memakai pakaian hazmat atau APD lengkap. Di rumah saja jauh lebih baik dan terjaga. Corona menguji sense of crisis kita.

Memerdekakan

Selama kita menghirup udara di negeri yang bernama Indonesia, kita tak boleh mencabik kerukunan, kedamaian dan persatuan. Apalagi mereka yang sudah meninggal, banyak diributkan, dimusuhi dan ditolak. Pola-pola yang kurus dari nilai tepaslira, toleransi mesti dihentikan. Jangan pernah mengaku milenial jika mindset-nya masih kolonial.

Mesti dipahami, pasien maupun korban corona juga telah, sedang dan akan terus berjuang melawan corona. Sekurangnya membebaskan diri dan keluarganya dari agresi corona. Siapapun kita memastikan tak ada yang mau terjangkit corona, tapi sekali lagi cara-cara buruk di atas justru semakin menguatkan predikat mereka lebih tepat sebagai covidiot.

Covidiot sebelumnya lebih banyak mengarah pada mereka yang bebal atas protokoler kesehatan dan keamanan dalam mencegh penyebaran virus corona, tapi covidiot satu ini telah mati gaya dan mati rasa.

Karena, di samping bebal, mereka ini juga menjadi raja tega. Tidak saja tega larane ora tega patine (tega sakitnya tapi tak tega meninggalnya), tapi malah tega larane lan patine (tega sakit dan meninggalnya). Kita bukan bangsa yang bebal, bukan bangsa yang malang.

Sudah saatnya kita memerdekakan diri, keluarga dan menjaga bangsa dari koloni corona. Ada saatnya berkata-kata, ada saatnya kita berbuat nyata. Bukan jamannya hanya menuntut dan menyalahkan pemerintah. Menjadi part of solution lebih baik ketimbang part of problem. Mari guyub rukun, saiyeg saeka praya meringkus keliaran corona. Pandemi corona, sekurangnya menjadi momentum kita memperkuat toleransi dan merawat kebhinekaan. Kita bukan Don Kisot, menyerang kincir angin yang dikira raksasa.

Marjono
Alumnus Pascasarjana Universitas Semarang (USM), 2006, Kasubbag Materi Naskah Pimpinan Biro Umum Setda Provinsi Jawa Tengah, 2015-Sekarang, dan Penulis lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.