Ilmu yang Meragukan Dirinya Sendiri

- Advertisement -

Ada anggapan yang cukup umum tentang ilmu pengetahuan: karena sudah “teruji secara ilmiah”, maka kebenarannya dianggap final dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Anggapan ini keliru. Ilmu yang berkembang dengan baik justru bukan ilmu yang yakin penuh terhadap dirinya sendiri, melainkan ilmu yang terus-menerus mempertanyakan dan menguji dirinya. Terdengar kontradiktif, tetapi di situlah sebenarnya letak kekuatan sains.

Keraguan sering dibaca sebagai tanda kelemahan. Ketika seorang ilmuwan menyatakan “kami belum sepenuhnya yakin”, tanggapan yang muncul biasanya menganggap teori tersebut rapuh. Padahal, Karl Popper—filsuf ilmu kelahiran Austria yang berkarya di Inggris—justru berpendapat sebaliknya. Menurutnya, suatu teori baru bisa disebut ilmiah kalau ia terbuka untuk disanggah, alias bisa difalsifikasi. Kredibilitas sebuah teori tidak ditentukan oleh kemustahilannya untuk salah, tetapi oleh kesediaannya diuji berulang kali untuk mencari kemungkinan kesalahan itu.

Logika ini masuk akal kalau dibawa ke konteks yang lebih sederhana. Seseorang yang mengaku ahli tetapi menolak dikoreksi dan selalu merasa paling benar biasanya justru menimbulkan kecurigaan, bukan kepercayaan. Sains yang sehat bekerja dengan cara serupa: ia bersedia mengakui kemungkinan keliru, lalu menguji ulang keyakinannya sendiri.

Pergeseran dalam Sejarah Sains

Sejarah keilmuan menyimpan banyak contoh teori yang semula diyakini sebagai kebenaran mutlak, kemudian direvisi atau ditinggalkan sepenuhnya. Keyakinan bahwa bumi merupakan pusat alam semesta, misalnya, bukan lahir dari pemikiran sembarangan. Keyakinan itu didukung oleh pengamatan dan perhitungan yang cukup rumit pada masanya. Namun, begitu muncul bukti baru dan teknik observasi yang lebih presisi, pandangan tersebut digantikan oleh pemahaman bahwa bumi mengelilingi matahari.

Thomas Kuhn menyebut pola perubahan semacam ini sebagai “pergeseran paradigma”. Menurutnya, kemajuan sains tidak berlangsung linear seperti anak tangga yang terus meninggi. Ilmu pengetahuan berkembang melalui fase-fase stabil, ketika komunitas ilmuwan bekerja dalam kerangka berpikir yang sama. Fase ini sesekali terganggu oleh masa krisis, yaitu ketika kerangka lama tidak lagi mampu menjelaskan data-data baru yang bermunculan. Dari krisis itulah muncul perspektif baru yang menggantikan perspektif sebelumnya. Pola ini berulang di berbagai bidang—fisika, kimia, biologi, termasuk ilmu pertanian dan lingkungan yang penulis pelajari saat ini.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Fenomena ini tidak hanya berlaku pada persoalan astronomi atau fisika. Dunia kesehatan dan gizi menawarkan contoh yang lebih dekat. Telur pernah dianggap penyebab utama tingginya kolesterol, sehingga banyak dihindari. Riset yang lebih mendalam kemudian menunjukkan bahwa hubungan antara telur dan kadar kolesterol darah tidak sesederhana anggapan sebelumnya, sehingga rekomendasi konsumsinya pun berubah. Perubahan ini bukan tanda bahwa sains tidak konsisten. Sebaliknya, perubahan tersebut menegaskan bahwa sains bekerja sesuai prinsipnya: kesimpulan lama direvisi begitu ditemukan bukti baru yang lebih kuat, bukan dipertahankan demi menjaga citra.

Contoh yang lebih relevan dengan bidang penulis, agroteknologi, terlihat pada penggunaan pupuk kimia. Beberapa dekade lalu, pupuk sintetis dipandang sebagai solusi utama untuk meningkatkan hasil panen tanpa banyak mempertimbangkan dampak jangka panjangnya terhadap kesuburan tanah. Setelah muncul kajian mengenai penurunan kualitas tanah dan pentingnya keseimbangan unsur hara, orientasi pertanian mulai bergeser ke arah yang lebih seimbang, misalnya melalui kombinasi pupuk organik dan anorganik. Ilmu pertanian, seperti bidang keilmuan lainnya, terus memperbarui dirinya seiring bertambahnya pemahaman manusia terhadap alam.

Dua Kekeliruan dalam Memaknai Keraguan Ilmiah

Sikap ragu yang konstruktif ini kerap disalahpahami dalam dua arah yang berlawanan. Di satu sisi, ada kecenderungan mempercayai sains secara berlebihan, seolah setiap temuan riset bersifat benar untuk selamanya dan tidak boleh digugat. Di sisi lain, ada pula yang memanfaatkan sifat sains yang terus berubah sebagai alasan untuk menolaknya secara keseluruhan, dengan argumen bahwa sesuatu yang benar-benar ilmiah seharusnya tidak perlu berubah.

Kedua pandangan ini sama-sama kurang tepat. Perubahan dalam sains bukan indikasi kegagalan, melainkan tanda bahwa sistem tersebut berfungsi sebagaimana mestinya. Paul Feyerabend mengambil posisi yang lebih tegas dengan menyatakan bahwa tidak ada satu metode tunggal yang mampu menjamin kebenaran ilmiah, sehingga sains dituntut tetap terbuka terhadap berbagai pendekatan. Pandangan Feyerabend ini menuai banyak kritik dan tetap kontroversial hingga sekarang. Meski begitu, gagasannya cukup berguna untuk mengingatkan bahwa kepastian mutlak dalam sains perlu dicermati secara kritis, bukan diterima begitu saja.

Refleksi Pribadi

Sebagai mahasiswa yang mendalami bidang pertanian, penulis merasakan langsung bagaimana ilmu yang dipelajari terus mengalami perubahan dan penyempurnaan. Materi perkuliahan yang ditempuh saat ini, seperti agroklimatologi dan teknik budi daya tanaman, bukan kumpulan fakta yang kaku dan tetap. Setiap tahun selalu muncul penelitian baru, temuan segar, bahkan koreksi terhadap pemahaman yang sebelumnya dianggap sudah mapan. Pada awalnya, kondisi ini menimbulkan kebingungan tersendiri karena penulis berharap ilmu dapat memberikan kepastian yang tegas. Namun, semakin lama penulis semakin menyadari bahwa sikap terbuka untuk terus mengkritisi diri sendirilah yang mendorong ilmu pertanian tetap relevan menghadapi tantangan aktual, seperti perubahan iklim dan keterbatasan lahan subur.

- Advertisement -

Penutup

Ilmu yang meragukan dirinya sendiri bukan ilmu yang lemah, melainkan ilmu yang berintegritas. Sains yang sehat tidak pernah mengklaim dirinya sebagai kebenaran final. Ia hanya menawarkan pemahaman terbaik yang dapat dicapai berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, sambil tetap terbuka terhadap penyempurnaan di kemudian hari. Keraguan yang dijalankan secara metodis, disertai pengujian dan bukti nyata, menjadi penggerak utama kemajuan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, ilmu yang berhenti meragukan dirinya sendiri berisiko berubah menjadi dogma. Bagi seorang pembelajar, sikap paling bijak bukanlah mengejar kepastian mutlak dalam sains, melainkan belajar untuk berdamai dengan ketidakpastian yang produktif tersebut.

Facebook Comment
- Advertisement -