“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda.” Kalimat itu kerap terdengar seperti penghiburan—seolah-olah ketika segala sesuatu belum dimiliki, setidaknya idealisme masih bisa dibanggakan. Pernyataan itu mungkin tidak sepenuhnya keliru. Namun pertanyaannya: kemewahan itu milik siapa? Dan dalam kondisi sosial seperti apa ia bisa benar-benar disebut mewah?
Bagi sebagian pemuda yang kebutuhan dasarnya telah relatif terpenuhi, idealisme mungkin memang dapat dirawat sebagai sikap moral, bahkan sebagai gaya hidup. Akan tetapi, bagi mereka yang lahir dan tumbuh dalam struktur sosial yang serba terbatas, idealisme kerap terasa seperti kemewahan yang mahal harganya. Ia indah dalam diskusi, memikat dalam forum, tetapi sering kali tidak hadir ketika dapur harus tetap mengepul. Dalam konteks tertentu, idealisme tidak kehilangan nilai moralnya—yang menjadi persoalan adalah daya tahannya ketika berhadapan dengan tuntutan material.
Pada masa sekolah dan kuliah, idealisme terasa begitu dekat. Ia seperti sahabat yang setia: gagasan tentang keadilan, perubahan sosial, kemanusiaan, dan kebebasan mengalir ringan dalam percakapan. Kata-kata terasa penuh daya. Diskusi tentang filsafat Yunani atau alegori gua Plato seolah cukup untuk menjelaskan dunia.
Namun, ketika fase kehidupan bergeser—ketika tanggung jawab ekonomi mulai nyata—romantisme itu diuji. Kompor tidak dinyalakan oleh gagasan, melainkan oleh gas. Beras tidak dibeli dengan retorika. Pada titik itulah idealisme tidak lagi sekadar gagasan, melainkan menjadi pertanyaan: bagaimana ia dapat bertahan di tengah kebutuhan yang konkret?
Di dunia yang semakin kompetitif, produktivitas menjadi ukuran utama nilai seseorang. Seseorang dianggap matang ketika ia menghasilkan—terutama dalam arti ekonomi. Aktivitas yang memperkaya batin, seperti membaca, menonton film, atau berdiskusi, sering kali dipandang tidak produktif jika tidak segera dikonversi menjadi pendapatan. Hidup perlahan direduksi menjadi fungsi ekonomi. Manusia dinilai dari seberapa besar kontribusinya terhadap pasar, bukan terhadap pemaknaan dirinya.
Namun, apakah idealisme dan realitas memang harus selalu ditempatkan dalam posisi yang saling meniadakan? Apakah beradaptasi berarti menyerah sepenuhnya, dan mempertahankan idealisme berarti menyiapkan kubur sendiri? Barangkali persoalannya bukan pada memilih salah satu, melainkan pada bagaimana keduanya dinegosiasikan. Idealisme yang menolak realitas tanpa strategi memang berisiko menjadi utopia kosong. Tetapi realitas tanpa idealisme berpotensi melahirkan kehidupan yang mekanis dan hampa arah.
Tekanan untuk terus produktif—yang hari ini sering disebut sebagai budaya “toxic productivity”—menciptakan kecemasan kolektif. Waktu senggang terasa bersalah. Membaca terasa mewah. Berpikir terasa tidak menghasilkan. Seolah-olah manusia berhenti menjadi makhluk berpikir dan hanya diakui sebagai makhluk pencari nafkah. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan tentang hakikat hidup menjadi semakin mendesak: apakah tujuan hidup semata-mata untuk bertahan secara ekonomi, atau ada dimensi lain yang tak kalah penting untuk dijaga?
Ketika Tan Malaka menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mempertajam akal dan melembutkan hati, gagasan itu mungkin terdengar kontras dengan realitas hari ini yang lebih sering bertanya, “Sudah kerja di mana?” dan “Berapa gajinya?”.
Namun, alih-alih menyimpulkan bahwa gagasan tersebut tidak lagi relevan, mungkin yang terjadi adalah pergeseran orientasi sosial: pendidikan semakin dipersempit menjadi instrumen mobilitas ekonomi. Dalam situasi seperti itu, idealisme pendidikan terasa kalah oleh desakan pragmatisme.
Tulisan ini lahir dari kegelisahan atas jarak antara cita dan kebutuhan, antara gagasan dan kenyataan. Idealisme mungkin bukan sekadar kemewahan, melainkan risiko—ia menuntut keberanian untuk memelihara nilai di tengah tekanan kompromi. Tetapi ia juga tidak dapat hidup tanpa pijakan material yang memungkinkan manusia bertahan. Di sinilah dialektika itu terjadi: realitas menguji idealisme, dan idealisme memberi arah bagi realitas.
Maka pertanyaan tentang apakah idealisme masih pantas disebut sebagai kemewahan terakhir pemuda mungkin tidak memiliki jawaban tunggal. Bagi sebagian orang, ia bisa menjadi hak istimewa.
Bagi yang lain, ia menjadi beban yang harus terus dinegosiasikan. Namun selama manusia masih bertanya tentang makna, tentang keadilan, dan tentang tujuan hidupnya sendiri, idealisme tampaknya belum sepenuhnya kehilangan tempatnya. Ia mungkin tidak lagi berdiri sebagai kemewahan yang nyaman, tetapi sebagai bara kecil yang tetap perlu dijaga agar kehidupan tidak sepenuhnya ditelan oleh logika pasar.
