Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Historiografi Indonesia-sentris yang Rasis | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Historiografi Indonesia-sentris yang Rasis

Motif Dagang Senjata Korea Utara

Uji coba nuklir keenam yang dilakukan Korea Utara telah meningkatkan kekhawatiran dan ketegangan akan kemungkinan pecahnya perang di Semenanjung Korea. Globaltimes mengestimasi, untuk menembakkan...

Prabowo Berkhianat? Retak Sudah!

Saya menduga kuat bahwa 99,99 persen Prabowo Subianto (Gerindra) telah memutuskan untuk memilih AHY (Demokrat) sebagai cawapresnya. Kenapa Prabowo memilih AHY? Ada sejumlah alasan...

Akulturasi Terlarang dari Kelompok Radikal Taliban

“Islam itu agama teroris! Islam itu tidak mendukung kebebasan kaum wanita!” “Buktinya?” “Kau lihat, tuh, kelompok Taliban di Afghanistan. Dari mana ajaran mereka kalau bukan dari...

Menerka Dampak Perlambatan Ekonomi AS-Tiongkok pada Indonesia

Dirilis 8 Januari lalu, World Bank lewat laporan Global Economic Prospects dengan judul “Darkening Skies” menyampaikan penguatan prediksi akan terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi global pada angka...
Rangga Naviul Wafi
Inisiator Lintas Generasi Bookstore dan pengurus Yayasan Sirkadian

Dalam sebuah diskusi yang diadakan oleh salah satu universitas ternama di Indonesia, Prof. Ariel Heryanto memberikan suatu pernyataan yang sangat menarik perhatian, setidaknya bagi saya, yakni mengenai historiografi Indonesia yang rasis.

Saya pun langsung dibuat berpikir keras mengingat-ingat apa saja materi pelajaran sejarah sewaktu di sekolah dan akhirnya saya menyadari bahwa apa yang diajarkan di sekolah menjebak kita pada logika oposisi biner, antara “Bangsa Indonesia” melawan “bangsa asing” atau antara kubu komunis dan anti komunis.

Lantas, bagaimana dampaknya terhadap proses pencarian nilai-nilai nasionalisme ketika kita terjebak pada narasi-narasi anti asing atau anti komunisme?

Pasca kemerdekaan politik pada tahun 1945 mendorong para sejarawan Indonesia menuliskan kembali sejarah Indonesia dengan formulasi yang mengantitesakan dominasi kolonialisme Belanda, dan merupakan reaksi atas tradisi historiografi kolonial (Bambang Purwanto, 2000).

Akan tetapi historiografi indonesia-sentris yang awalnya bertujuan sebagai proses pencarian nilai-nilai nasionalisme, dalam perkembangannya cenderung menimbulkan pemahaman yang seakan-akan hanya ada “pribumi”, “Bangsa Indonesia”, atau “rakyat yang dijajah” melawan “bangsa asing”.

Keterjebakan historiografi indonesiasentris dalam determinisme kolonial dijelaskan oleh Bambang Purwanto dalam artikel yang berjudul “Historisisme Baru dan Kesadaran Dekonstruktif: Kajian Kritis terhadap Historiografi Indonesiasentris” dengan memaparkan salah satu kasus pergolakan di masa kolonial yakni perang padri yang dalam historiografi Indonesia pascakolonial dipahami sebagai konflik keagamaan antara kelompok adat yang didukung oleh kolonial Belanda dan kelompok ulama.

Dikotomi yang simplistik dalam historiografi ini menyebabkan faktor-faktor lain yang juga menyebabkan konflik seperti perebutan daerah yang makmur, pertumbuhan ekonomi yang pesat dari hasil produksi pertanian luput dari penjelasan historis.

Dalam historiografi indonesia-sentris juga jarang menjelaskan bahwa pada masa kolonial dan masa revolusi nasional, Bangsa Indonesia atau bumi putera saat itu terdiri dari berbagai golongan yang terlibat mendukung kemerdekaan ataupun yang berusaha mempertahankan status quo negara kolonial Belanda.

Bumi putera yang dalam narasi dominan seringkali hanya dijelaskan sebagai golongan paling nasionalis yang melawan kekuasaan kolonial Belanda pun sebenarnya banyak yang tergabung dalam KNIL, polisi, atau pejabat pemerintahan yang bekerja untuk penguasa kolonial Belanda.

Seperti yang dijelaskan oleh sejarawan Henk Schulte Nordholt dalam “Modernity and cultural citizenship in the Netherlands Indies: An illustrated hypothesis” bahwa tidak semua bumiputera mendukung gerakan yang bertujuan untuk memerdekaan Indonesia (Henk S. Nordholt: 435-457).

Para bumi putera yang nyaman dengan hak istimewa yang diberikan oleh Belanda tidak menginginkan status mereka digugat oleh gerakan-gerakan yang saat itu dianggap sebagai pemberontakan.

Bahkan kalau kita kembali pada masa sistem tanam paksa diterapkan, bukan hanya Belanda yang terlibat dan mendapatkan keuntungan dari sistem tersebut. Pribumi yang menjadi penguasa lokal pun ikut menikmati keuntungan dari sistem yang eksploitatif ini.

Pola pikir yang cenderung  mensimplifikasi dan menggeneralisasi fakta sejarah yang sebenarnya sangat kompleks akibat historiografi Indonesia yang masih bermasalah tentunya mengkerdilkan peran-peran bangsa lain yang turut membantu perjuangan bangsa Indonesia. Padahal bangsa “asing” juga memiliki peranan penting dalam proses kemerdekaan dan mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Salah satunya peran bangsa “asing” terekam dalam film Indonesia Calling yang disutradarai oleh Joris Ivens yang menyoroti bagaimana bangsa-bangsa lain seperti Australia, China, dan India yang membantu melakukan pemogokan dengan tujuan menghentikan supply persenjataan dan tentara sekutu yang hendak diberangkatkan ke Indonesia untuk menumpas gerakan kemerdekaan.

Solidaritas dari para buruh yang bekerja di pelabuhan Australia ini bukan hanya sebatas pada melakukan pemogokan tetapi juga menginisiasi penggalangan dana untuk memproduksi film Indonesia Calling.

Namun, sayangnya peristiwa yang sangat berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia luput dari historiografi dominan. Salah satu faktornya adalah peristiwa ini melibatkan gerakan buruh yang oleh rezim orde baru diidentikkan dengan gerakan komunisme atau Partai Komunis Indonesia (PKI).

Segala yang berkaitan dengan PKI dan gerakan kiri lainnya harus diberangus sampai ke akar-akarnya. Rezim orde baru juga melegitimasi “kejahatan” PKI melalui penulisan sejarah, yang menurut Hilmar Farid dipenuhi tafsir yang penuh dengan fiksi dan fantasi, dan tidak boleh di ganggu gugat sebagai sejarah yang resmi (Hilmar Farid, 2008).

Historiografi hasil karya rezim orde baru ini kemudian disosialisasikan melalui pendidikan yang merupakan instrumen penting untuk merekonstruksi pemahaman mengenai pancasila dan nasionalisme yang pada masa Sukarno lebih dekat dengan penafsiran golongan kiri. Nilai-nilai nasionalisme yang seharusnya terbentuk secara dinamis pada akhirnya malah terjerumus dalam nasionalisme yang sempit dan tidak menutup kemungkinan menjadi ultranasionalisme.

Implikasi dari historiografi karya orde baru ini begitu nyata, membahayakan, dan memecah belah bangsa Indonesia. Tidak mengherankan ketika berbagai macam kelompok berebut menjadi yang paling nasionalis dengan jargon andalannya yaitu “NKRI Harga Mati” atau saling berlomba mematikan gerakan-gerakan yang dianggap melakukan perlawanan terhadap negara dengan mengasosiasikan gerakan tersebut dengan komunisme.

Padahal, banyak dari gerakan-gerakan tersebut merupakan reaksi atas ketidakadilan dan eksploitasi yang difasilitasi atau dilakukan langsung oleh negara.

Ditengah hiruk pikuk konflik antar kelompok yang berebut menjadi paling nasionalis, bukan tidak mungkin membangun ruang-ruang alternatif yang memberikan pemahaman akan sejarah yang bersifat holistik dan tidak menutup ruang bagi interpretasi yang berbeda selama dapat dipertanggungjawabkan dan berdasarkan informasi yang dapat diuji.

Film Indonesia Calling yang sudah dikemukakan sebelumnya, dapat dijadikan sebagai salah satu referensi dalam mensosialisasikan sejarah bangsa ini yang dibangun melalui semangat internasionalisme yang juga tidak terlepas dari jasa bangsa “asing”. Film ini juga merupakan salah satu dokumen penting bagi penulisan sejarah alternatif atau sebagai bahan merekonstruksi kembali sejarah Indonesia yang akan mendekonstruksi nilai-nilai nasionalisme Indonesia yang terlanjur sempit.

Rangga Naviul Wafi
Inisiator Lintas Generasi Bookstore dan pengurus Yayasan Sirkadian
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.