Jumat, April 23, 2021

Hanya untuk Satu Kata, “Pulang”

Politikus Predator

Film The Predator karya Shane Black mengisahkan bagaimana sang Predator menjadi pemangsa paling mematikan di alam semesta. Makhluk rekaan itu kini menjadi lebih kuat,...

Federalisme dan Pandemi Covid-19 di Australia, Sebuah Refleksi

Sekilas tentang Federasi Australia Federalisme diadopsi di Australia pada tanggal 1 Januari 1901, ketika enam koloni Australia yang berpemerintahan sendiri di New South Wales (NSW),...

Jihad Kebangsaan Kaum Santri

Pembentukan Negara Republik Indonesia yang bersendikan Pancasila sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari kontribusi kaum santri yang telah menempuh pahit getir jihad kebangsaan demi membebaskan...

Berhentilah Menyudutkan Korban Perkosaan, Jenderal!

Pernyataan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian pada BBC Indonesia, Kamis (19/10) terkait penanganan kasus perkosaan sangat mengiris nurani. Polisi seharusnya menunjukkan...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Ramadhan hampir usai, Hari Kemenangan kian dekat. Setelah hampir sebulan penuh ditempa dan dibina, sudah saatnya umat muslim merayakan hari kemenangan. Kemenangan atas perjuangan melawan hawa nafsu dan kenikmatan dunia yang melenakan. Perjuangan demi mendapatkan ampunan serta memperbanyak amal untuk belal menuju dunia setelah datangnya kematian.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, semakin dekatnya Hari Kemanangan ditandai dengan berbagai hal. Siaran berita dipenuhi dengan tagar Mudik Lebaran 2019. Sebuah tradisi yang sudah mendarah daging di tengah masyarakat Indonesia. Tradisi di mana berjuta manusia akan merayakan hari kemenangan di kampung halaman. Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi bahkan memperkirakan jumlah pemudik tahun ini akan mencapai angka 22 Juta orang. Jumlah yang tentu tidak sedikit.

Berjuta orang itu berjejal di Terminal, di Bandara, dan di Stasiun . Berjuta kendaraan juga mengular di sepanjang jalan tol yang kian meroket tarifnya. Hal yang wajar mengingat tidak sedikit pemudik beralih ke mobil pribadi setelah harga tiket Pesawat kian melambung tinggi.

Tidak hanya lonjakan manusia, kebutuhan uang menjelang lebaran juga tidak mau ketinggalan ikut bergeliat. Dilansir dari bisnis.com (27/5/19), Bank Indonesia pun telah memprediksi peningkatan kebutuhan uang selama masa libur Idul fitri sebesar Rp217,1 triliun atau naik sebesar 13,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Prediksi itu terbukti dengan ramainya tempat perbelanjaan, pasar tradisional, toko perhiasan dan juga tempat pegadaian. Kenaikan harga pangan tidak menyurutkan niat menyambut kemenangan dengan berbagai hidangan yang nikmat. Semua disulap untuk menjadi baru: pakaian baru, perhiasan baru, dan kendaraan baru.

Bagi mereka kaum hedonis yang terjangkiti gaya hidup mewah, lebaran adalah untuk menunjukkan eksistensi diri. Memperlihatkan nilai keberhasilan material seseorang lewat penampilan yang glamor. Lebaran menjadi momen tepat untuk saling pamer dan tentu juga mengatakan, “Ini loh saya sekarang. Orang yang sukses, tidak lagi sama seperti yang dulu.”

Hanya untuk satu kata, “Pulang”

Bagi berjuta orang lainnya, yang tidak bisa hidup bermewah-mewahan, tentu beda lagi. Mereka rela berdesak-desakan, berkucur keringat di jalan hanya untuk satu kata, “Pulang.” Sebuah kata yang menembus ruang dan waktu. Tidak hanya sebatas rindu kepada kampung halaman atau sekedar kembali ke tempat di mana bumi pertama kali dipijak. Pulang juga berarti kembali kepada orang tua, kepada ayah dan bunda yang menunggu dengan penuh harap-harap cemas.

Mereka tidak disibukkan untuk memperlihatkan penampilan mewah, tidak pula disibukkan mempersiapkan tumpukan oleh-oleh, bagi mereka, membawa kefitrahan lahir dan batin sudahlah cukup. Asal datang dengan badan yang utuh serta nafas yang masih berembus.

Sesampainya di kampung halaman, memeluk orang tua adalah hal pertama yang akan mereka lakukan. Memohon maaf atas segala kesalahan serta kekhilafan. Mengentaskan kerinduan di tanah perantauan. Begitulah mereka yang menjadikan hari kemenangan hanya untuk satu kata, “Pulang”.

Meminjam istilah budayawan Cak Nun, “Kita baru bisa merayakan atau ber-Hari Raya. Belum mampu untuk masuk pada wilayah ber-Idul Fitri. Karena itu, baru sebatas merayakan, maka yang ada hanya nafsu dan kenikmatan.”

Bagi mereka yang menjadikan lebaran hanya untuk satu kata, “Pulang”, nafsu dan kenikmatan akan terganti dengan tulus keikhlasan. Mereka benar-benar ber-Idul Fitri dan tidak sebatas merayakan Hari Idul Fitri. Maka berbahagialah mereka menjadi orang-orang yang bersyukur dan bertafakur. Satu bulan perjuangan sekaligus peperangan melawan hawa nafsu berhasil dimenangkan dan saatnya mengecap kemenangan itu dengan satu kata, “Pulang.”

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.