Sabtu, Mei 8, 2021

Genderuwo, Perjalanan Sang Rupawan Menjadi Momok

Islam Yes, Partai Islam No!

Beberapa waktu yang lalu, diskursus tentang post-Islamisme kembali menguat setelah pasangan cawapres Prabowo, Sandiaga Uno disebut-sebut oleh pendukungnya (PKS) sebagai santri post-Islamisme. Istilah ini...

Hari Guru Nasional, Antara Etos dan Problematika Pendidikan

Hari Guru Nasional diperingati setiap 25 November. Jika seandainya ditanya tentang profesi apa yang paling membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan ketulusan? Tentu pembaca budiman sepakat,...

Sumitro Djojohadikusumo dan Petaka Modernisasi Indonesia

Keberhasilan Soeharto dalam menumbangkan dominasi kekuasaan Soekarno pada tahun 1967 memiliki konsekuensi logis yang harus diterimanya. Perpindahan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru...

Nietzsche, Tuhan, dan Terorisme

Menarik untuk membicarakan Nietzsche, di saat mencuatnya kasus terorisme di Indonesia. Atas nama sebuah kepercayaan, tindak terorisme mencuat ke permukaan. Sebuah kepercayaan yang mengklaim...
Johannes Nugroho
Penulis lepas dalam bidang politik, sejarah dan budaya.

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo menyindir lawan politiknya yang beliau tuduh sering menyebarkan perasaan takut dalam berkampanye dengan istilah “politik genderuwo”.

Terlepas dari pro kontra istilah yang digunakan kepala negara yang lebih dikenal dengan sebutan Jokowi tersebut, ada catatan kecil antropologis-mitologis yang menarik mengenai sosok genderuwo itu sendiri. Sosok ini ada di folklore atau mitos rakyat di budaya Jawa dan Sunda dan dikenal sebagai salah satu mahluk halus yang cenderung jahat dan usil sifatnya, meski tidak semuanya.

Berkelamin laki-laki dengan tubuh tinggi besar dan berbulu lebat bak kera, genderuwo menjadi sosok menakutkan dalam alam bawah sadar orang-orang Indonesia yang tumbuh di kultur Jawa dan Sunda.

Namun jika ditilik dari berbagai sudut, genderuwo ini kemungkinan besar adalah korban hoaks yang telah terjadi beratus-ratus tahun lamanya.

Secara umum sudah diakui bahwa kata genderuwo berasal dari bahasa Jawa kuno (Kawi) gandharwa yang diambil dari kata Sansekerta gandharva. Dalam mitologi Hindu dan Budha, gandharva adalah sosok setengah dewa rupawan berjenis kelamin laki-laki yang berperan sebagai pemusik, penari maupun pembawa berita bagi para dewata. Sosok perempuan pasangan gandharva adalah hapsara atau apsara.

Penggambaran ini secara pasti berlaku di pulau Jawa sebelum kedatangan agama Islam, karena sosok gandharwa dan apsara yang seringkali berpasangan, maupun sendirian, ditemukan di berbagai relief yang terpahat di candi-candi kita, misalnya di Candi Mendut, Prambanan dan Borobudur.

Gandharwa dan apsara pada saat itu kemungkinan besar dipercayai sebagai mahluk halus setara dengan bidadara dan bidadari dan dalam perannya sebagai pembawa pesan dewata sering melakukan kontak dengan manusia. Kedekatan para gandharwa dan apsara dengan dunia manusia ini menarik karena sosok genderuwo sendiri dipercayai bisa melakukan kontak dengan manusia dan sering menampakkan diri.

Sering hadirnya sosok setengah dewa seperti bidadari dalam dunia manusia adalah salah satu motif cerita yang kerapkali muncul dalam cerita rakyat Nusantara, seperti legenda Jaka Tarub yang terkenal itu. Hal ini menguatkan tesis bahwa rakyat Nusantara di jaman lampau mempercayai kontak dengan mahluk supranatural semacam bidadari atau apsara dan gandharwa.

Pertanyaannya bagaiman sosok gandharwa yang rupawan itu menjadi menakutkan seperti yang sudah terbentuk dewasa ini? Hal ini bisa dijelaskan dengan istilah antropologis yaitu demonisasi, sebuah proses pencitraan yang mengubah sesuatu menjadi sosok negatif yang menakutkan. Hal ini kerap terjadi pada sosok-sosok yang terdapat dalam agama atau sistem kepercayaan yang tergantikan oleh yang baru.

Dalam ilmu mitologi komparatif, misalnya, hal ini terjadi pada sosok dewa alam Yunani dan Romawi Pan yang berbentuk manusia setengah kambing. Setelah masuknya agama Kristen di benua Eropa, sosok Pan yang populer di daerah pedesaan mengalami proses demonisasi menjadi sosok setan di budaya Eropa yang seringkali muncul di karya fiksi Barat saat ini, yaitu mahluk setengah manusia setengah kambing atau manusia bertanduk berekor.

Di mitologi pulau Jawa sendiri, hal ini terjadi juga pada sosok Kanjeng Ratu Kidul.  Antropolog Belanda Roy E. Joordan, setelah meneliti sosok Ratu Kidul, berpendapat bahwa sosok tersebut sudah lama ada di tanah Jawa, bahkan ada sebelum masuknya Hindu ke Nusantara. Pada jaman Hindu-Budha, menurut Roy, sosok Ratu Kidul sering diidentikkan dengan dewi Tara Hijau.

Tapi, setelah masuknya Islam ke tanah Jawa, sosok ini menjelma menjadi semacam ratu bangsa jin seperti yang digambarkan pada Babad Tanah Jawi. Semenjak itu, sifat angker melekat pada Ratu Kidul, padahal sebagai Tara hijau, sosok ini dahulunya dianggap sebagai sosok penyelamat dari marabahaya.

Proses yang sama terjadi pada sosok Kuntilanak, yang berasal dari folklore Melayu. Sosok ini dikenal oleh bangsa-bangsa  serumpun kita baik di Malaysia maupun Filipina dengan berbagai variasi nama seperti Matianak dan Pontianak.

Dalam sebuah dokumenter  disutradarai V. Williams yang ditayangkan National Geographic pada tahun 2002, sosok Kuntilanak dijelaskan berasal dari sosok-sosok magis yang dikenal oleh suku-suku dalam Melayu seperti suku Semelai yang masih tinggal di hutan.

Dalam kepercayaan suku Semelai, Pontianak adalah mahluk halus bersifat penyembuh yang dipanggil dukun Semelai (Puyang) untuk membantu dalam pencarian arwah yang hilang di hutan. Sosok Pontianak, yang juga merupakan asal usul nama kota Pontianak, bergeser dari mahluk halus bersifat baik menjadi momok yang mengerikan seiring dengan masuknya agama-agama baru ( Islam di Malaysia dan Indonesia dan Kristen Katolik di Filipina).

Proses demonisasi yang dialami sosok Ratu Kidul dan Kuntilanak sangat mungkin telah terjadi pula pada genderuwo.

Karena itu, genderuwo sebagai sebuah metafora lebih cocok untuk diaplikasikan pada fenomena hoaks daripada politik menakuti (fear mongering), karena dengan semua disinformasi dan propaganda, sosok rupawan gandharwa bisa akhirnya menjelma menjadi menyeramkan dan jahil.

Dalam pidatonya di World Economic Forum on ASEAN, September lalu, di Hanoi, Vietnam, Jokowi menyebut sosok-sosok Avengers dari Marvel Comics sebagai sebuah analogi. Avengers adalah sekelompok dewa dan sosok setengah dewa yang menjadi pahlawan pembela kemanusiaan.

Dalam hal ini, gandharwa dahulu pun adalah sosok-sosok yang tidak jauh berbeda dengan Avengers: mahluk-mahluk yang bisa diminta tolongi untuk bermediasi dengan kekuatan alam dan para dewata. Sayang sekali jika para Avengers Nusantara ini, akibat hoaks yang berkepanjangan, tetap menajadi momok nasional akibat ketidaktahuan kita akan khasanah budaya sendiri.

Johannes Nugroho
Penulis lepas dalam bidang politik, sejarah dan budaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.