OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Ganjar Pranowo Vs Puan Maharani, dan Video Mie Telor

Bahasa Slang dalam Game

Guru Honorer, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Yesaya Sihombing
Esais, Pemerhati masalah sosial budaya keagamaan

Hari Minggu kemarin diwarnai dengan ramainya pemberitaan tentang tidak diundangnya Pak Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, pada acara pengarahan kader di Jawa Tengah untuk penguatan soliditas PDI-P menuju Pemilu 2024, pada Sabtu (22/5).

Pengarahan kepada seluruh kader eksekutif, legislatif dan struktur PDI-P di daerah Jawa Tengah itu dilakukan oleh Puan Maharani, ketua DPR, cum putri ketua umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, cum calon kuat presiden yang naga-naganya akan dicalonkan partai pemenang pemilu lalu tersebut di pilpres 2024.

Melansir detik.com, dalam susunan rundown acara yang tersebar di kalangan para wartawan, tertulis; ‘tamu tatap muka: 100 orang. (terdiri dari) DPR RI Jateng, DPD Jateng, DPRD Prop Jateng, kepala daerah & wakil kader se Jateng (kecuali gubernur)’.

Apa penyebab Ganjar tidak diundang?

Menurut Bambang Purwanto (DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah), Ganjar dianggap sudah kelewatan dan melangkah terlalu jauh demi hasrat menjadi capres 2024, padahal belum ada restu apa-apa dari sang ketum.

Tentu menarik, melihat bagaimana cara gubernur berambut putih itu dalam merespon kelakuan kekanak-kanakan para kader partai bermoncong putih tersebut.

Ganjar Pranowo bukanlah politisi kemarin sore. Alih-alih terpancing emosi, dengan santai ia seakan tak peduli dengan pemberitaan tentang dirinya di media online. Ia memilih untuk menghabiskan waktunya dengan gowes, bersepeda menjajal jalur khusus road bike di JLNT Kampung Melayu-Tanah Abang, Jakarta.

Lalu, yang lebih menarik lagi, jika kita melihat postingan video makan mi telor di facebook Pak Ganjar pada minggu malam, ia menulis caption :

“Bengi-bengi kok pengen ngemi, kelingan jaman ngekos. Satu kurang, dua kebanyakan :D” demikian bunyi status Ganjar Pranowo.

Pernah nggak sih, kamu nyindir temen atau mantanmu di WA atau IG dengan status yang saking banyaknya sampai kayak titik-titik melingkar, lalu orang yang kamu sindir malah memposting foto tempat main yang dikunjunginya atau foto makanan yang sedang dilahapnya?

Gimana rasanya? Ibarat bertepuk sebelah kaki, bukan? Inilah the power of ignoring.

Selain itu, sebagai orang Jawa Tengah yang tak dapat dipisahkan dari pesan-pesan simbolis penuh makna, tentu saja postingan Pak Ganjar perlu ditafsirkan secara mendalam.

Satu kurang, dua kebanyakan? Hm, maksudnya lagi nyindir orang yang haus kekuasaan nih, kayaknya. Sudah jadi ketua DPR, kok ya masih mau jadi presiden. Seakan Pak Ganjar ingin berkata, urip ki golek opo tho jane?

Dari respon Ganjar, kita bisa belajar tentang bagaimana cara menghadapi orang yang nyinyir dan mengucilkan kita. Ibarat hukum aksi-reaksi, reaksi Ganjar sangat elegan dan cantik, tapi sekaligus juga menohok dengan halus.

Sepertinya, beberapa kalangan PDI-P berharap agar Ganjar merespon dengan lebih emosional. Andai Ganjar merasa terzolimi dan bikin drama klarifikasi, tentu drama dalam PDI-P akan semakin seru untuk dinikmati.  Namun, harapan itu tidak terwujud.

Yah, dengan semakin memanasnya tensi politik menjelang 2024, mungkin kita akan banyak disuguhi beragam akrobat dari para politisi.

Demikian juga di intern PDI-P. Ketiadaan sosok tunggal yang sekaliber dengan presiden Jokowi, sang kader partai, membuat berbagai kemungkinan masih bisa terjadi.

Salah satu calon kuat yang telah menjadi public darling adalah Ganjar Pranowo. Sedari dulu ia sudah membangun brand-nya di media sosial dengan apik. Ia juga cepat tanggap dalam merespon keluhan warganya. Tak heran, ‘pasukan’ medsosnya sangat banyak.

Ganjar beradaptasi dengan baik, seiring perubahan-perubahan yang terjadi pada behavior masyarakat kekinian. Ia tetap relate dengan kondisi sosial budaya masyarakat yang makin melek teknologi.

Maka, wajar saja bila ada pihak-pihak yang merasa terusik dengan tingkah langkahnya. Dan sayangnya, pihak-pihak itu masih saja mengusung gaya lama yang cenderung membosankan dan tidak disukai orang banyak.

Lha gimana mau disukai, wong mikrofon orang yang sedang bicara saja bisa dimatikan, kok.

Yesaya Sihombing
Esais, Pemerhati masalah sosial budaya keagamaan
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.