Senin, Mei 17, 2021

Fenomena Belajar Agama di Internet

Menggugah Spirit Diversity Hari Lahir Pancasila

“Lahirnya Pancasila”, secara jamak kata tersebut terlontar pertama kali lewat mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato Sukarno...

Lingkaran Setan Mahar Politik

Secara hakikatnya partai politik muncul sebagai penanda transformasi sistem politik klasik ke metode berpolitik modern. Dari persprektif pembangunan politik, munculnya partai merupakan salah satu...

Kota, Polusi, dan Resiko Kematian Dini

Studi Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memaparkan 20 kota-kota di dunia paling berpolusi. 20 kota tersebut yaitu Buenos Aires, Sao Paulo, Rio de Jeneiro,...

ISIS Bukan Ajaran Islam

Ketegasan pemerintah terhadap eks ISIS patutlah diapresiasi, dengan kebijakan ini pemerintah ingin mementingkan nyawa 265 juta ketimbang mempertahankan 689 jiwa yang sudah terpapar ajaran...
Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Ada apa dengan cara beragama kita  hari ini, mengapa begitu marak orang-orang yang belajar agama di internet. Padahal, umumnya internet dianggap sumber yang kurang begitu otoritatif dalam hal pembelajaran agama.

Memang, internet menyuguhkan segudang informasi dan pengetahuan yang begitu lengkap, tetapi belajar agama tanpa berguru langsung kepada ahlinya, bukanlah cara yang bijak dan tak bisa disebut belajar secara otodidak.

Agama bukanlah sepaket keilmuan teknis yang selalu bisa dipelajari sendiri. Berbeda dengan otomotif dan pengetahuan umum lainnya, orang bisa belajar secara otodidak dan hanya butuh belajar dan kerja keras untuk menggapai ilmu dan keahlian itu. Belajar agama, selalu butuh seorang figur, guru dan mereka yang umumnya sudah dianggap sangat kredibel dengan keilmuan agamanya.

Internet sebenarnya bukan media yang kurang lengkap perihal penyedia bidang keilmuan agama, apapun bisa diperoleh dari sana, mulai dari kitab suci sampai karya-karya para ahli agama yang sudah sangat lengkap. Tetapi kita tak boleh menganggap internet sebagai satu-satunya media untuk menggali pemahaman agama.

Kita memang butuh internet, sebab setiap kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan selalu tersedia. Tetapi, setelah memperoleh pengetahuan agama yang dicari dan mempelajarinya, maka ia harus mengkonfirmasi kepada orang yang mumpuni perihal agama. Lebih-lebih harus mengkonfirmasi kepada ahli agama yang tepat dan tak bertentangan dengan paham maenstrim.

Seturut dengan kolom Kalis Mardiasih tentang ‘Jihad dan Wajah Muslim di Internet’ di kolom detik (1/6/2018), banyak orang gagal paham dengan term-term agama yang umumnya dipelajari dari internet. Katakanlah term ‘jihad’, istilah ini bukan hanya banyak disalah pahami oleh kelompok non-Muslim, justru banyak dari kelompok Muslim yang salah paham dengan istilah ini. Akibatnya, banyak umat Islam yang keliru memahami agamanya dan mudah terbahwa oleh ajaran-ajaran yang mengarah pada kekerasan.

Boleh jadi, kita tak sepakat jika para pelaku teror itu menggunakan term ‘jihad’ untuk melegitimasi aksi-aksinya. Sebagaimana terkonfirmasi dari Buletin Al-Fatihin, bahkan jika kita menganggap mereka gagal paham tentang makna jihad, kita menyebut istilah jihad saja, mereka sudah sangat bangga dan malah menamakan dirinya sendiri sebagai para Mujahidin.

Pemahaman semacam ini bukan hanya keliru, tetapi juga mengancam eksistensi umat Islam dan membuat non-Muslim bisa jadi salah memahami Islam. Seorang Mujahid, haruslah memiliki kriteria yang cukup lengkap dalam hal agama, ia harus betul-betul paham kitab suci dan umumnya harus memiliki pandangan agama yang searah dengan para ulama atau ahli agama. Dan, ia tak boleh berbeda pendapat secara berlebih-lebihan, apalagi sampai menghujat pemerintah dan kepada meraka yang tak sepaham.

Jelas, pandangan para pelaku teror tentang term-term agama sudah sangat keliru dan sama sekali tidak mengambarkan agama yang mereka yakini. Jika mereka menganggap gerakan mereka adalah ide jihad yang terkomfirmasi oleh kitab suci, maka sudah jelas hal itu keliru sebab Islam, dan agama apapun di bumi ini, tak pernah mengajarkan kekerasan ketika keberagaman dan berbedaan di masyarakat dapat hidup harmonis dan berdampingan.

Lagi-lagi, kesalahan dalam memahami term agama, umumnya dipelajari dari internet. Para kawula muda dan generasi milenial, biasanya adalah kalangan yang paling banyak mengkonsumsi keilmuan agama di internet. Sebab, maraknya media sosial juga sangat mempengaruhi bagimana orang-orang belajar agama. Boleh jadi, ada kelompok tertentu yang secara sengaja menggiring untuk belajar agama di internet.

Bisa disaksikan misalnya, kelompok-kelompok yang anti-maenstim, mereka menggunakan internet sebagai media dakwah. Melalui situs-situs Islam, youtube, dan media sosial, mereka begitu gencar menyebar paham yang umumnya tidak diterima oleh pandangan mayoritas. Sehingga disamping bijak, penggunaan internet juga harus lebih hati-hati dan memilah-milah yang dipelajari darinya.

Kesalahan orang dalam mempelajari agama, seringkali bukan disebabkan orang itu malas dan tidak serius mempelajari agamanya. Tetapi justru kesalahan itu berangkat dari cara-cara yang tidak tepat ketika belajar agama. Seperti belajar melalui internet yang entah sanat keilmuannya dari mana, sering diamini sebagai wawasan agama yang benar. Padahal, seorang pembelajar agama, sekurang-kurangnya, butuh seorang ahli yang benar-benar kredibel dibidangnya.

Kita sah-sah saja belajar agama dari sumber mana pun, termasuk dari internet, dari media sosial atau youtube, yang notabennya kita tak berjumpa secara langsung dengan guru atau penceramahnya. Tetapi sangat perlu untuk ditekankan, kelompok anti-maenstrim, radikal atau ekstremis, seringkali memanfaatkan internet lebih banyak daripada paham maenstrem yang sudah jelas-jelas kredibel. Sehingga sikap hati-hati dan kritis sangat perlu ditekankan.

Mengingat, maraknya paham radikal yang sering terjerumus pada tindakan terorisme, kelompok mereka memiliki jaringan yang luas dan umumnya internet menjadi media yang sangat ampuh dalam membangun koneksi antar anggotanya. Maka sudah sepatutnya kita dan generasi milenial, lebih waspada dan dianjurkan untuk ikut arus utama dalam beragama. Tujuannya jelas, agar siapapun tak mudah terjebak pada paham yang salah dan bertentangan

Saat ini, ada banyak media-media online yang menyediakan informasi dan pengetahuan tentang agama. Karakternya sangat beragam, maka pilihlah media-media yang lebih santun, berwawasan keindonesiaan, mengedukasi dan selalu mengedepankan dakwah yang damai dan sejuk. Bukan media-media yang provokatif, suka menyalahkan kelompok-kelompok yang berbeda, atau malah hobbynya menyebarkan hoax yang sama sekali tak dapat dipertanggungjawabkan.

Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.