Senin, April 19, 2021

Fahri Pernah Sebut Jokowi Sinting Karena Tetapkan Hari Santri

Menyoal Agama dan Pancasila Dari Mata DN Aidit, Bagian #2

Artikel ini adalah artikel bagian ke-dua dari artikel Menyoal Agama dan Pancasila Dari Mata DN Aidit. Baca juga bagian pertama-nya disini. Aidit, Agama dan Pancasila Yang...

Pilkada 2020 dan Potensi Ancaman Hoaks Lokal

  Pilkada serentak tahun 2020 besok menebar ancaman hoaks kelokalan. Dengan 270 daerah menggelar kontestasi politik di September tahun depan. Bukan tidak mungkin ada rekayasa...

Rindu Rubrik Anak

Bis Sekolah yang ku tunggu ku tunggu  Tiada yang datang Ku telah lelah berdiri berdiri Menanti-nanti Sepenggal lirik lagu anak berjudul Bis Sekolah nampaknya sedikit mampu mengilustrasikan rasa...

Seni Budaya dari Religio Magis Menjadi Komersil

Seni merajah tubuh atau tato mengalami evolusi makna dari waktu ke waktu seiring pengaruh ilmu pengetahuan manusia. Di Indonesia, tato berasal dari kebudayaan masyarakat...
aneeza
Baca tulisan aku di fb: Anisatul Fadhilah

Bangga rasanya akhirnya santri diakui dan dibanggakan. Ya, dua tahun yang lalu, pada tanggal 22 Oktober 2015, Jokowi resmi mengeluarkan Keppres nomor 22 tahun 2015 bahwa pada tanggal 22 Oktober ditetapkan Hari Santri Nasional. 

Dengan adanya Keppres tersebut secara langsung memberi pengakuan bahwa ulama dan santri pondok pesantren mempunyai andil besar terhadap negara, sebab karena perjuangan merekalah Indonesia bisa lepas dari penjajahan. 

Saya masih ingat bagaimana keputusan Jokowi menetapkan Hari Santri ini kemudian dianggap Sinting oleh Fahri Hamzah. Saat itu Fahri menulis di Twitter melalui akunnya @Fahrihamzah: 

“Jokowi janji 1 Muharram hari Santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!!!”. 

Aneh memang kebajikan seperti ini dianggap Fahri hal sinting. Tapi saat FPI melakukan aksi demo berjilid-jilid dia sangat memuji-muji dan bahkan ikut dalam barisan terdepan. Disebutnya itu adalah Aksi Bela Islam. Tapi saat Jokowi meresmikan Hari Santri, ia mencomooh dan menyebutnya “Sinting”. 

Nah, bisa kalian nilai sendiri kan, siapa yang sesungguhnya membela Islam dan yang hanya politik pencitraan? 

Dengan ditetapkannya Hari Santri, seluruh Indonesia bisa mengulang sejarah: dulu para santri Mbah Hasyim Asy’arie lah yang memelopori perang melawan sekutu, dan puncaknya tanggal 10 November terjadi letusan perang di Surabaya sampai diperingati ‘Hari Pahlawan’. 

Begitu besarnya jasa santri sehingga memang layak diabadikan. Ingat ya, santri yang dimaksud adalah para santri yang berjuang harta dan nyawa demi keutuhan NKRI, bukan orang-orang berjubah teriak-teriak NKRI, gelar sholat Jumat dijalanan tapi malah anti Pancasila dan ingin mendirikan negara khilafah. Bah, yang ini sih bukan santri!!! 

Saya masih heran ketika masih saja ada orang yang menganggap Jokowi benci ulama atau menistakan ulama dsb, hanya gara-gara kasus Rizieq. Kunjungannya ke pesantren setiap kali ke daerah sama sekali tak terlihat dimata haters nya. 

Bahkan ketika ia menetapkan Hari Santri masih saja ada yang beranggapan itu hanya pencitraan. Rasanya tidak berlebihan kalau saya bilang baru era Jokowi lah keberadaan pesantren sangat diakui dan diapresiasi. 

Saat saya masih jadi santri, terasa sekali sekolah berbasis pendidikan Islam khusunya pesantren dimarjinalkan. Santri seolah dianggap kolot, nggak keren, nggak gaul, dsb. 

Apalagi era tahun 90 an hingga 2000 awal. Sehari-hari para santri wajib pakai jilbab, tapi saat pengambilan foto untuk ijazah wajib dilepas. Jadi foto ijazah saya, baik Mts (setingkat SMP) dan MA (setingkat SMA) semuanya tidak ada yang pakai jilbab. 

Ketika saya tanya alasannya pada guru, jawaban aneh dan janggal sangat mengejutkan. Katanya biar ketahuan cacat atau nggak, punya kuping atau nggak. Belakangan saya baru mengetahui aturan foto ijazah harus lepas jilbab saat itu hanya untuk melemahkan pesantren, bahkan nyaris tidak mengakuinya. 

Aturan tidak boleh berjilbab juga terjadi di kantor-kantor pemerintahan, bank, dan lembaga-lembaga lainnya. 

Ada kejadian lucu ketika kami harus berfoto tanpa jilbab untuk keperluan ijazah. Karena kita tidak terbiasa menggerai rambut depan umum, apalagi saat fotografernya laki-laki dan dilakukan di depan kelas, maka semuanya jadi canggung. 

Alhasil foto ijazah kami jadi aneh: kepala agak tengkleng (miring) ke kiri/kanan, wajah tegang, senyum yang dipaksakan, model rambut yang aneh dan tidak rapi (karena tidak pernah dipotong sesuai model kekinian), dan beragam wajah lain yang aneh. 

Beruntung era-era berikutnya aturan harus lepas jilbab di ijazah sudah ditiadakan. Lembaga pemerintah dan bank juga membebaskan pegawainya mau pakai jilbab atau tidak. 

Dan yang lebih menggembirakan saat ini trend pendidikan Islam sudah mulai menjamur. Banyak sekolah umum meniru konsep pesantren dengan membangun asrama untuk siswa-siswanya. 

Semoga dengan adanya Hari Santri ini tak hanya untuk mengenang jasa para santri tapi juga memajukan lembaga pesantren, sehingga lulusannya tidak lagi dianggap kolot, tapi mampu berkiprah di berbagai bidang untuk menjadikan Indonesia lebih maju dan berperadaban.

aneeza
Baca tulisan aku di fb: Anisatul Fadhilah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.