Sabtu, Mei 8, 2021

Evaluasi 3 tahun Jokowi-JK di hari sumpah pemuda

Mbah Moen: Kyai Bangsa Pengayom Umat

Tidak semua orang pintar itu benar, tidak semua orang benar itu pintar. Banyak orang yang pintar tapi tidak benar, dan banyak orang benar meskipun...

Potret Gerakan Kota Koperasi: Dari Roma hingga Purwokerto

Adalah sekumpulan anak muda yang tergabung dalam Eutropian, lembaga swadaya masyarakat yang melakukan advokasi dan riset untuk mendukung proses pencapaian masyarakat urban yang inklusif...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Politik Panas, Santaikan dengan Humor

Indonesia adalah negara yang serba ada. Kekayaan ada, kemiskinan pun jangan ditanya. Banyak sekali jumlahnya. Selain itu Indonesia juga mudah panas dengan isu yang...
Paisal Anwari
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Suryakanacana Himpunan Mahasiswa Islam

 Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam Sejarah pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia serta merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, tepat pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda bertujuan untuk mengobarkan semangat persatuan baik di tubuh pemuda serta rakyat Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari cengkraman serta dorongan baik dari luar maupun dari dalam negara. Semangat persatuan itulah yang menjadi dasar untuk Sila Ketiga dalam Pancasila menurut Paisal Anwari, Ketua bidang Pembinaan Aparatur Organisasi (PAO) HMI Cabang Cianjur.

“Sila ketiga; Persatuan Indonesia, ditunjukkan dengan semangat persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah. Sebelum era kebangkitan nasional, Negara Indonesia terdiri dari kerajaan-kerajaan yang memiliki kekuasaan masing-masing dan kedaulatan yang terpisah. Oleh karena itu, pada zaman kerajaan dulu, Indonesia mudah dimasuki dan diduduki oleh kaum imperialis yang mencari daerah jajahan. Setelah sekian lama berada dibawah kekuasaan penjajah, semangat persatuan dan kesatuan serta semangat sebangsa dan setanah air, mulai tumbuh di hati bangsa Indonesia. Karena adanya rasa senasib dan sepenanggungan dan kesamaan tujuan untuk melawan penjajah, akhirnya rasa persatuan dan kesatuan itu muncul dan tumbuh dalam diri bangsa Indonesia yang ditandai dengan lahirnya Budi Utomo dan Sumpah pemuda.” Ungkap Paisal 

Namun disaayangkan, tepat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-89 tanggal 28 Oktober 2017 ini, kondisi rakyat Indonesia masih saja belum menikmati kemerdekaan untuk berdaulat dan mandiri menentukan nasibnya sendiri.

Ardiansyah, Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) HMI Cabang Cianjur, mengungkapkan Kemerdekaan Indonesia yang menjadi jembatan emas menuju kesejahteraan rakyat hingga saat ini masih belum tercapai, bahkan Pemerintah Indonesia Jokowi-JK yang genap berusia 3 tahun pada tanggal 20 Oktober 2017 belum bisa menunjukan sepenuhnya visi-misi yang tertuang didalam Nawacita yang menjadi sebuah harapan untuk dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat Indonesia.

“Revolusi mental yang sasarannya adalah reformasi birokrasi baru terjadi dilapisan atas dan belum sampai kelevel bawah, masih banyak birokrat dan politik uang yang sangat masif. Pancasila sangat baik akan tetapi adanya pecah kondisi antara Pancasila dan prilaku politik tidak berjalan semestinya. Pembangunan infrastruktur gencar dilakukan walaupun dengan berutang, tapi itu perlu dipertanyakan, untuk rakyat atau untuk pemodal?”. Ada pembangunan bandara, pembangkit listrik dan jalan tol mengubah tanah petani, dan ini adalah suatu pengabaian pada masyarakat kecil.

HMI Cabang Cianjur menuturkan Beberapa bukti kinerja aparat penegak hukum belum optimal selama tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK dan mengharapkan semua hal tersebut menjadi suatu evaluasi bagi Pemerintahan Jokowi-JK yang genap berusia 3 tahun di Hari Sumpah Pemuda.

“Pemerintah di era saat ini buta terhadap kepentingan sosial, terutama rakyat kecil, ketimpangan sosialpun terasa sangat tinggi, apalagi pembangunan yang dilakukan Pemerintah ini lebih condong ke Asing dan masyarakat menengah ke atas bukan kaum kecil, misalnya pembangunan kereta cepat, itu tidak penting, tapi malah dibuat, bahkan harganyapun tidak murah dan itu menimbulkan proyek-proyek lain yang menjepit masyarakat kecil. Selain itu ada pula pada keterbukaan hukum. Banyak pejabat-pejabat dari partai politik yang kebal akan hukum, bahkan setelah ditetapkan sebagai tersangkapun masih bisa melenggang bebas dan lepas dari jeratan hukum yaitu ketua DPR, Setya Novanto.” Tutup Ardiansyah.(O

Paisal Anwari
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Suryakanacana Himpunan Mahasiswa Islam
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.