Sabtu, Mei 15, 2021

Elektabilitas Partai dan Figur Kader

Jokowi, TGB, dan Kepemimpinan Pemuda

Joko Widodo berusia 53 tahun ketika terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia. Sementara Tuan Guru Haji Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang) berusia 36 tahun saat...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Ditagih Mengembalikan BMN, Roy Suryo Memalukan?

Beredarnya surat tagihan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di jagat sosial media yang ditujukan kepada mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo agar...

Kedaulatan Rakyat atau Kedaulatan Tuhan

“Pancasila yang hanya dimuliakan dengan kata, tetapi dikhianati dalam laku, hanyalah akan memperpanjang derita bangsa ini, sementara tujuan kemerdekaan berupa tegaknya sebuah masyarakat adil dan makmur akan...
Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial

Kalau kita dengarkan mereka yang ngobrol di warung kopi, kepercayaan masyarakat kepada partai sebenarnya sangat kecil. Mungkin kasarnya, masyarakat sudah tidak percaya terhadap Partai Politik.

Ketidak percayaan masyarakat kepada parpol dipicu oleh kader-kader partai itu sendiri.

Seketika kader-kadernya di percaya masyarakat untuk mewakilinya di Parlemen atau menjadi pejabat publik, alih-alih menjembatani untuk menyalurkan aspirasinya, tetapi mereka malahan sibuk mencari kekayaan pribadi.

Dampaknya, tidak sedikit pejabat publik dari kader-kader Partai terkena kasus korupsi dan tindak pidana lainnya, baik tindak pidana khusus maupun tindak pidan umum.

Saat kepercayaan masyarakat kepada Partai merosot, Partai politik juga tidak memiliki figur-figur kuat yang dapat mengembalikan citra partai. Pertama, karena para elit partai gagal melakukan kaderisasi terhadap generasi yang lebih muda.

Kedua, ketika ada kader yang berprestasi meningkatkan elektabilitas dan kepercayaan publik terhadap partai. anehnya, mereka itu di anggap berbahaya oleh para petingginya.

Kalau kita lihat sejarah pergerakan Partai Politik di negeri ini, sebelum kemerdekaan sejarah mencatat ada Partai Nasional Indonesia (PNI). Dalam waktu singkat, PNI bisa menjadi Partai besar dan digandrungi masyarakat.

Ketika kita berbicara PNI, maka kita tidak akan bisa lepas dari sosok besar yang juga ketua Partai tersebut, yakni Ir. Soekarno.

Karena Soekarno memiliki tempat khusus di hati rakyat, maka dengan mudah bisa mencari simpati masyarakat.

Begitu pula dengan PDI Perjuangan. Kepercayaan masyarakat terhadap PDIP begitu besar, dari berbagai riset dan survei, PDIP menjadi urutan pertama.

Kepercayaan masyarakat tersebut jelas di Pengaruhi oleh kinerja Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Dimasa periode pertama mengalami kepuasan dengan kinerjanya. otomatis, kepercayaan public pun meningkat terhadap PDIP.

Sosok seperti Jokowi inilah yang tidak dimiliki oleh Partai-partai lain. Apalagi, untuk membantu jalannya pemerintahan dan memenangkan simpati pada masyarakat.

Bisa di lihat bagaimana karir politik Pakde Jokowi saat menjadi Walikota, Gubernur DKI Jakarta hingga menjadi Presiden. PDIP konsisten tetap setia menemani Jokowi. mungkin PDIP tau betul, partai harus memiliki figur dan symbol yang menjadi icon.

Lain PNI lain pula PDIP. Saat Partai lain mengalami peningkatan, sementara Partai Golkar mengalami kemerosotan kepercayaan karena kader-kadernya terkena kasus besar seperti Korupsi maupun narkoba.

Selain itu, Golkar juga tidak memiliki sosok seperti Jokowi, tapi Golkar memiliki sosok Dedi Mulyadi yang di sebut-sebut ada kesamaan seperti Jokowi.

Saat di berbagai wilayah Partai Golkar mengalami kemerosotan kepercayaan, di Jawa Barat justru berbanding terbalik.

Golkar Jawa Barat mengalami trend positif yang mengalami peningkatan mengalahkan PDIP. Peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap Golkar Jawa Barat, jelas bukanlah hasil dari kerja keras dari orang-orang yang tinggal di Jakarta maupun di Yogyakarta, melainkan hasil dari kerja keras kader-kader akar rumput partai Golkar Jawa Barat.

Saat para elit berbicara Golkar harus solid, maka di Jawa Barat, Pohon beringin berdiri kokoh dan solid hingga akar-akarnya hingga sulit untuk di tebang dan dibelah.

Dedi Mulyadi menjadi symbol baru dalam memimpin Golkar Jawa Barat. Golkar yang di anggap partai tua, tidak berlaku lagi di Jawa Barat, Karena kedekatan dan kepemimpian Dedi Mulyadi menyentuh semua lapisan serta semua jaman.

Seharusnya, elit Golkar mengakui dengan Kontribusi Dedi Mulyadi bagaimana dia memperkokoh partai sampai keakar-akarnya.

Masa depan dan citra partai jelas berada di pundak Dedi yang merupakan generasi muda saat generasi tua sudah melambat dalam memimpin partai.

Sayangnya, Golkar tidak melihat itu. Golkar tidak melihat dinamika dan kebutuhan pasar yang berkembang. Golkar tidak belajar dari PNI dan PDIP bagaimana caranya mendesign Partai Modern.

Meninggalkan Dedi Mulyadi sama saja memecah Partai. Karena, Dedi bukan lagi Ketua Partai Jawa Barat, melainkan adalah symbol masyarakat Jawa Barat.

Aming Soedrajat
Pegiat Media Sosial
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.