Kasus viral seorang anak berusia 5 tahun yang menunjukkan perilaku tidak sopan di media sosial TikTok bukan sekadar momen yang mengundang komentar, melainkan cermin nyata dari gagalnya pendidikan karakter dalam keluarga. Fenomena ini memperlihatkan betapa kritisnya peran orangtua dalam membentuk kepribadian dan moral anak sejak usia dini.
Pendidikan karakter bukanlah sekadar mengajarkan sopan santun secara verbal, melainkan proses berkelanjutan yang melibatkan keteladanan, konsistensi, dan komunikasi yang efektif. Orangtua tidak cukup sekadar memarahi atau membatasi perilaku negatif, tetapi harus aktif membimbing dan mengarahkan anak memahami nilai-nilai kesopanan, empati, dan respek terhadap orang lain.
Dalam konteks kasus Ara, yang viral karena perilaku tidak sopannya, kita perlu melihat lebih dalam. Apakah lingkungan keluarganya mendukung pembentukan karakter positif? Apakah anak-anak dibiasakan berkomunikasi dengan santun? Ataukah mereka justru melihat contoh perilaku kasar dari lingkungan terdekatnya? Media sosial seperti TikTok memperburuk situasi dengan memberikan panggung seolah-olah perilaku tidak sopan adalah sesuatu yang dapat ditertawakan atau bahkan diapresiasi. Orangtua memiliki tanggung jawab besar untuk membatasi dan mendampingi anak dalam menggunakan teknologi, serta menjelaskan batasan-batasan perilaku yang pantas.
Terdapat beberapa faktor kunci yang berkontribusi terhadap perkembangan perilaku anak. Pertama, teladan langsung dari orangtua menjadi faktor paling menentukan. Anak pada dasarnya adalah peniru ulung yang akan meniru ucapan, sikap, dan perilaku orangtuanya. Jika orangtua sering berbicara kasar, membentak, atau bersikap tidak santun, anak akan menganggap hal tersebut sebagai norma yang wajar dalam berkomunikasi.Konsistensi dalam memberikan batasan juga menjadi aspek penting dalam mendidik anak.
Mendidik anak bukan berarti memberikan hukuman, melainkan menanamkan pengertian akan batas-batas perilaku yang dapat diterima. Orangtua perlu konsisten dalam menerapkan aturan dan memberikan penjelasan mengapa suatu perilaku tidak pantas dilakukan.
Mendidik anak membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pendekatan yang tepat. Hukuman fisik atau omelan keras tidak akan efektif dalam membentuk karakter positif. Sebaliknya, komunikasi terbuka, memberikan teladan yang baik, dan memberikan penjelasan mengapa suatu perilaku tidak pantas jauh lebih bermakna.Masyarakat pun turut bertanggung jawab.
Kita tidak bisa sekadar menjadi penonton atau pembuat komentar pedas, tetapi harus aktif mendukung lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter anak-anak. Sekolah, lingkungan sosial, dan komunitas memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan karakter. Kasus Ara hendaknya menjadi momen refleksi, bukan sekadar hiburan viral. Ini adalah panggilan bagi setiap orangtua untuk lebih serius memperhatikan pendidikan karakter anak-anaknya.
Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademis, melainkan juga oleh kualitas moral dan kepribadian generasi muda. Mari kita jadikan setiap momen sebagai kesempatan untuk mendidik, membimbing, dan menginspirasi anak-anak menuju perilaku yang lebih bermartabat, beretika, dan bermoral.