Di Mana Letaknya Keberkahan

- Advertisement -

Kita tentu tidak asing dengan ungkapan “banyak anak banyak rezeki”. Kalimat ini sering muncul ketika seseorang membicarakan pernikahan atau rencana memiliki anak. Ada pula ungkapan “rezeki sudah diatur Tuhan” dan “harta itu yang penting halal dan berkah, tidak perlu banyak-banyak”. Nasihat semacam ini biasanya mengingatkan kita agar tidak terlalu mengejar materi dan tidak menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya tujuan hidup.

Dalam dunia pendidikan, ungkapan serupa juga mudah ditemukan: “Jangan terlalu mengejar nilai”, “yang penting ilmunya berkah”, atau “yang penting dapat barokah dari guru”. Ini menunjukkan bahwa keberkahan tidak hanya dikaitkan dengan harta dan rezeki, tetapi juga dengan ilmu, guru, pekerjaan, keluarga, tempat, bahkan perjalanan hidup seseorang.

Ungkapan tersebut dapat menenangkan, terutama ketika kita mengalami kegagalan. Seseorang yang belum mendapat pekerjaan mungkin merasa lebih kuat setelah diingatkan bahwa rezeki sudah diatur Tuhan. Orang dengan penghasilan terbatas juga dapat merasa cukup selama penghasilannya halal dan membawa kebaikan. Dalam keadaan tertentu, keyakinan tentang keberkahan membantu manusia menerima kenyataan dan menemukan makna di tengah kesulitan.

Namun, ungkapan yang sama juga dapat menimbulkan perdebatan. Sebagian orang memahaminya sebagai pengingat agar tidak materialistis, sedangkan yang lain khawatir bahwa ungkapan tersebut membuat seseorang terlalu mudah menerima keadaan tanpa berusaha memperbaikinya. Apakah menerima keadaan merupakan bentuk ketenangan dan keteguhan, atau justru dapat berubah menjadi kepasrahan yang menghentikan evaluasi dan pencarian jalan keluar?

Kita juga mengenal kebiasaan mencari berkah dari tokoh agama, guru, ilmu, tempat, bahkan makam tertentu. Seseorang belajar dari guru bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga berharap mendapat keberkahan dari ilmu yang dipelajari. Kedekatan dengan orang yang dianggap saleh pun terkadang diyakini membawa kebaikan. Di balik praktik tersebut, ada pertanyaan yang layak direnungkan: di mana sebenarnya letak keberkahan? Apakah keberkahan selalu ditentukan oleh banyaknya rezeki, sedikitnya harta, banyaknya anak, atau kedekatan dengan sosok tertentu? Atau, yang perlu diperiksa adalah bagaimana kita memahami dan menggunakan konsep keberkahan dalam kehidupan sehari-hari?

Tulisan ini tidak bertujuan membuktikan bahwa keberkahan ada ataupun tidak ada. Saya ingin memisahkan dua pertanyaan. Pertama, apakah klaim konkret yang dikaitkan dengan keberkahan dapat diperiksa melalui pengalaman dan bukti? Kedua, bagaimana suatu hal memperoleh status sebagai sesuatu yang dianggap berkah, dan bagaimana pemahaman itu dipercaya serta diwariskan? Untuk membahasnya, pemikiran Karl Popper tentang falsifikasi dapat menjadi alat bantu untuk menjelaskan masalah ini.

Menguji Klaim tentang Keberkahan

Sebelum membicarakan keberkahan, kita perlu membedakan keyakinan spiritual dari klaim tentang akibat yang dapat diamati. Bagi sebagian orang, keberkahan berarti ketenangan hati, rasa cukup, atau keyakinan bahwa sesuatu membawa kebaikan. Namun, dalam percakapan sehari-hari, keberkahan juga kadang dikaitkan dengan klaim yang lebih konkret, seperti “banyak anak pasti membawa banyak rezeki” atau “ilmu dari guru tertentu pasti lebih bermanfaat karena berkahnya”.

Kedua jenis pernyataan itu tidak bisa dinilai dengan cara yang sama. Keyakinan spiritual memiliki tempat dalam kehidupan beragama. Sementara itu, klaim bahwa suatu keadaan pasti menghasilkan dampak tertentu dapat diperiksa melalui kenyataan. Jika ungkapan “banyak anak banyak rezeki” merupakan ungkapan iman tentang rezeki yang diberikan Tuhan, kita perlu memahami konteks keyakinannya. Akan tetapi, jika ungkapan tersebut digunakan untuk menyatakan bahwa semakin banyak anak pasti membuat kondisi ekonomi keluarga semakin baik, pernyataan itu dapat diuji dengan mempertimbangkan kondisi keluarga, penghasilan, kebutuhan, dan bukti empiris lainnya.

Di sini, pemikiran Karl Popper tentang falsifikasi membantu kita bersikap kritis. Bagi Popper, klaim empiris perlu terbuka terhadap pengujian dan kemungkinan dibantah. Kita tidak seharusnya menerima pernyataan tentang kenyataan hanya karena terdengar meyakinkan atau terus diulang. Sebuah klaim perlu memberi ruang bagi bukti yang mungkin mendukung maupun menunjukkan kelemahannya.

Namun, gagasan Popper tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa keberkahan sebagai realitas metafisik terbukti salah. Falsifikasi lebih tepat digunakan untuk memeriksa klaim konkret yang dikaitkan dengannya, bukan untuk mengukur seluruh pengalaman spiritual manusia. Dengan kata lain, pertanyaan kritis bukanlah apakah keyakinan seseorang harus ditolak, melainkan apakah klaim yang disampaikan sebagai fakta memang didukung oleh alasan dan bukti yang memadai.

- Advertisement -

Persoalan serupa muncul dalam ungkapan “gaji kecil tidak apa-apa, yang penting berkah” atau “jangan mengejar nilai, yang penting ilmunya berkah”. Ungkapan tersebut tidak selalu keliru. Ia dapat mengingatkan kita bahwa uang, nilai, dan pencapaian bukan satu-satunya ukuran kehidupan. Masalah muncul ketika ungkapan itu digunakan untuk menghentikan pertanyaan. Apakah seseorang harus terus menerima upah yang tidak layak hanya karena pekerjaannya disebut berkah? Apakah mahasiswa tidak perlu memperbaiki cara belajar karena yang terpenting adalah keberkahan ilmu?

Kita dapat meyakini keberkahan sekaligus berusaha memperbaiki keadaan. Keyakinan tidak harus membuat seseorang berhenti meningkatkan kualitas belajar, memperjuangkan upah yang layak, atau mencari solusi atas kesulitan ekonomi. Rasa syukur dan usaha memperbaiki kehidupan tidak harus dipertentangkan.

Menjaga Keyakinan dan Sikap Kritis

Pada akhirnya, keberkahan merupakan konsep yang dapat memberi makna bagi kehidupan. Namun, keyakinan yang penting bagi manusia tetap dapat menjadi bahan perenungan. Kita dapat menghormati suatu kepercayaan tanpa harus berhenti bertanya tentang cara kepercayaan itu dipahami dan diterapkan.

Barangkali, pertanyaan yang perlu direnungkan bukan hanya apakah sesuatu itu berkah, melainkan apa yang kita lakukan setelah menganggapnya berkah. Apakah keyakinan tersebut membuat kita lebih bersyukur sekaligus tetap berusaha? Apakah penghormatan kepada guru membuat kita semakin mencintai ilmu, atau justru membuat kita takut mempertanyakan sesuatu yang belum dipahami? Apakah penerimaan terhadap keadaan membantu kita berdamai dengan kehidupan, atau membuat kita mengabaikan keadaan yang sebenarnya dapat diperbaiki?

Mungkin, di situlah pertanyaan tentang keberkahan menemukan makna yang lebih dalam. Bukan semata-mata pada siapa yang dianggap membawa berkah, tempat mana yang dipercaya memiliki berkah, atau seberapa banyak sesuatu yang kita miliki, melainkan juga pada bagaimana keyakinan tersebut membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan memperlakukan sesama. Ketika kembali mendengar ungkapan “yang penting berkah”, ada satu pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri: apakah kita sedang menemukan makna dalam kehidupan, atau sedang menggunakan makna itu untuk berhenti mempertanyakan kehidupan?

Daftar Pustaka

Popper, K. R. (2002). The Logic of Scientific Discovery. Routledge

Facebook Comment
- Advertisement -