Film Demon Slayer: Infinity Castle Chapter I resmi mengakhiri penayangan di layer lebar pada 09 April 2026 setelah hampir setahun wara wiri di bioskop lokal maupun global. Film ini telah meraih sukses besar di pasar box office, mengantarkan franchise menghasilkan lebih dari 5 miliar dollar sejak pertama kali series ini dirilis. Sampai opini ini ditulis, film yang menjadi pembuka dari trilogi “Infinity Castle arc” ini telah meraih pendapatan kotor yang diperkirakan lebih dari $800 juta, atau sekitar 13,5 triliiun jika dirupiahkan.
Omzet yang bahkan bisa membiayai program Makan Bergizi Gratis untuk 13 hari. Fantastis bukan? Bukan. Sebagai pembanding betapa suksesnya proyek ini, Demon Slayer berhasil memunggungi beberapa franchise besar di tahun 2025 seperti Superman, Mission Imposible, Final Destination, dan bahkan melibas semua proyek Mavel Cinematic Universe (MCU) yang dirilis tahun ini. Bukan yang terbaik tentunya untuk kategori film animasi, tapi bagi industri anime Jepang, ini adalah yang pertama kali.
Yuma Takahashi sang produser, adalah pembaca setia manga Demon Slayer yang dirilis mingguan di majalah Shonen Jump. Berkat beberapa kerja sama di masa lalu, ia kemudian mem-proposed studio Ufotable untuk memproduksi manga ini menjadi anime. Ini pertama kalinya bagi Ufomeja (a.k.a. Ufotable) membawa produk dari komik Shonen Jump kedalam animasi TV. Sebelumnya, mereka kebanyakan berkutat dengan proyek-proyek adaptasi game-game terkenal Jepang seperti God Eater, Tales, Touken Ranbu, dan visual novel dari Fate Series.
Mulai mengudara pada April 2019, Demon Slayer secara perlahan menjadi hit baru di industri anime Jepang. Dibuka dengan episode 1 “Kekejaman” yang begitu kejam ketika menyaksikan keluarga Tanjiro dibantai habis oleh Kibutsuji Muzan. Plot kemudian berkembang dengan hadirnya karakter-karakter baru yang menarik, hingga mencapai klimaksnya pada episode 19 “Hinokami”, dimana narasi cerita dan kualitas produksi berada pada puncak tertingginya. Sampai saat ini, sudah ada enam arc yang diproduksi. Dua dalam format movies, dan empat dalam animasi TV. Influence dari anime ini telah mengubah wajah industri kreatif Jepang selama 5 tahun terakhir.
Juru Selamat
Kesuksesan anime turut juga memengaruhi penjulan fisik manganya. Per Juli 2025, manga Demon Slayer telah terjual lebih dari 220 juta kopi di seluruh dunia. Uniknya, hanya butuh sembilan tahun bagi Demon Slayer (sejak pertama kali dirilis di tahun 2016) untuk bertengger di puncak manga-manga dengan penjualan terlaris sepanjang masa (hanya barada dibawah One Piece, Dragon Ball, dan Naruto). Luar biasanya juga, rekor ini dicapai hanya dengan 23 volume buku (butuh 14 tahun dan 61 volume bagi One Piece untuk menyentuh angka yang sama). Capaian ini bahkan oleh beberapa chief editor majalah terkemuka di Jepang dianggap memperpanjang umur industri paper manga sampai 10 tahun kedepan. Yusuke Murata, illustrator utama dari manga One Punch Man mengomentari kontribusi Demon Slayer ini sebagai “sesuatu yang tidak ternilai”.
Indonesia?
Diplomasi budaya melalui anime menjadi salah satu strategi jangka panjang Jepang untuk menggenjot perekonomian negara. クールジャパン Kūru Japan, “Jepang yang Keren” menjadi soft power untuk menyaingi pop-culture negara tetangga Korea Selatan yang populer dengan Hallyu-nya. Promosi ini dilakukan melalui industri kreatif seperti anime, manga, dan game untuk mempromosikan citra nasional. Dalam Bahasa Jepang promosi ini dikenal dengan “Oshikatsu”, dimana orang-orang bukan saja datang ke bioskop untuk menonton anime, tetapi juga membeli merchandise, musik, serta berbagai hal terkait itu. Nilai tambah ekonomi yang sangat besar kan untuk sebuah diplomasi budaya? Anime dan manga dengan cerita yang kuat telah membangun ikatan emosional dan mengikat penggemar ke dalam suatu komunitas yang luas dan abadi.
Jepang memulainya dengan industri paper manga yang kemudian makin berkembang setelah adanya adaptasi manga ke dalam animasi TV. Kolaborasi yang dibangun sejak 1960-an ini telah mendorong waralaba Jepang ke panggung global. Banyak series anime Jepang seperti Dragon Ball, One Piece, Detective Conan, dan tentunya Demon Slayer, telah melalang buana di televisi global selama bertahun-tahun, dan telah ditonton oleh jutaan anak di seluruh dunia. Bahkan belakangan ini, pasar anime telah mencapai target audiens yang lebih luas. Berkembangnya plot/cerita dan kualitas produksi telah menghilangkan anggapan bahwa anime hanya merupakan tontonan anak-anak. Anime yang telah menyentuh segmentasi kelompok umur yang lebih luas, menjadikan industri hiburan Jepang semakin kompetitif di pasar global.
Bisakah Indonesia mereplikasi strategi yang sama? Bisa saja, asalkan mau konsisten untuk membangun ekosistem industri animasi Indonesia. Harus ada blue print yang jelas tentang bagaimana industri hiburan ini dikembangkan. Mau mulai dari mana, bagaimana pemasarannya, strategi untuk menjaga pasar, dan apa target yang akan dicapai dalam jangka panjang. Masih ingat dengan Jumbo? Film animasi lokal produksi Visinema yang baru dirilis tahun lalu ini, tidak disangka-sangka mencapai kesuksesan besar dengan meraih lebih dari 10 juta penonton dan menjadi film animasi terlaris di Asia Tenggara. Hal ini menandakan bahwa pasar untuk industri animasi kita cukup besar, yang apabila dikapitalisasi secara baik, bisa menciptakan ekosistem industri yang lebih sustainable dan punya nilai tambah besar.
Langsung saja ke penutup, masih ada dua film Demon Slayer lagi yang harus dinanti, semoga kesuksesan ini bisa jadi pendorong bagi industri animasi lokal untuk bisa mengembangkan sayapnya agar dapat menyentuh penggemar global yang lebih luas. Intinya kesuksesan Demon Slayer tidak “out of the blue”, bukanlah sesuatu yang jatuh secara tiba-tiba dari langit. Ini adalah buah perjalanan panjang dari konsistensi, menjaga agar setiap komponen dari produksi tetap berada pada kualitas tertinggi.
