Selasa, Juni 15, 2021

Dehumanisasi Pendidikan Indonesia

Memahami Perkembangan Ilmu Ekonomi-Politik

Memahami Perkembangan Ilmu Ekonomi-PolitikOleh Muhammad Dudi Hari Saputra, MA. (Tenaga Ahli Staf Khusus Kementerian Perindustrian Republik Indonesia)Konsep ekonomi-politik sebagai ilmu hubungan internasional mulai berkembang...

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Mandek; Kejahatan Seksual semakin Merajalela

Kekerasan terhadap perempuan memang sudah terjadi sejak zaman nabi Muhammad SAW bahkan sebelum beliau dilahirkan. Kala itu perempuan hanya dijadikan ajang pelampiasan nafsu belaka; melayani laki-laki...

Penimbunan Masker, Ideologi Kompetisi Hingga Krisis Empati

“Musuh terbesar kita sekarang bukanlah virus (Corona) itu sendiri. Tetapi ketakutan, rumor, kabar bohong, dan prasangka. Sementara modal terbesar kita adalah fakta, akal, dan...

Sampai Kapan Lenyap dari Perhatian Publik?

Problematika tentang hak hidup, perebutan ruang, dan isu lingkungan terus bertahan dan berlipat ganda. Jika kita telisik lebih dalam lagi, problem hak hidup, perebutan...
Fakhri Furqoni
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi FIS UNJ

Perlu kita refleksikan kembali bahwa tujuan awal pendidikan di Indonesia digambarkan oleh Bapak Pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara, bahwa “Pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia”.

Setidaknya, ada pergeseran sangat jauh yang kita temui di Pendidikan di Indonesia, bahwa tujuan awal Pendidikan di negeri tercinta kita sudah di reduksi dengan kurikulum – kurikulum yang memaksa kita untuk hanya menjadi budak “kapitalisme” yang dibutuhkan pasar kedepannya.

Atau dengan kasarnya harus kita sama–sama sadari kurikulum atau institusi pendidikan mengerecutkan pendidikan hanya sebuah mesin yang melahirkan ekspetasi ekonomi industri. Secara gamblang kita sering mengatakan bahwa kita sekolah dan kuliah untuk mendapatkan bekal mencari “uang” dalam membangun masa depan.

Kita dapat mengambil beberapa contoh yang merupakan kritik terhadap pendidikan kapitalis salah satunya ahli Ekonomi Samuel Bowles & Herbert Gintis dari Amerika Serikat ia berdua mengkritik melalui bukunya yaitu “Schooling in Capitalist America : Educational Reform and the Contradictions of Economic Life” (1976), dimana ia mengkritisi sistem pendidikan berjalan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan kapitalisme.

Dengan fokus yang dipersempit menjadi tujuan ekonomi semata terjadilah matinya pola – pola kritis dalam diri individu serta memenjarakan kebebasan berpikir yang luas. Seperti juga dituangkan oleh ahli pendidikan kritis Paulo Freire (1973) bahwa pendidikan hanyalah “budaya diam”, bahwa pendidikan melahirkan pola pikir yang dikekang oleh struktur – struktur yang ada dan siswa hanya menuruti apa–apa yang menjadi labirin kurikulum sekarang.

Di Indonesia sendiri reduksi–reduksi yang mengerucutkan pendidikan hanyalah untuk industri sudah terjadi sejak lama, seperti yang dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy dalam pidato Hari Pendidikan Nasional 2018. Ia menyinggung soal Revolusi Industri 4.0, bahwa Sumber Daya Manusia di Indonesia disiapkan untuk menghadapi Revolusi Industri tersebut.

Tanpa mengkritisi Revolusi Industri 4.0 untuk siapa dan siapakah yang diuntungkan, secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa Sumber Daya Manusia di Indonesia hanya untuk sebatas kepenting industrial saja tanpa melihat esensi–esensi lainnya.

Juga yang disampaikan oleh Muhammad Natsir, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada Hari Pendidikan Nasional 2017, ia menjunjung tema “Meningkatkan relevansi pendidikan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi” Natsir menekankan bahwa esensi pendidikan tinggi di Indonesia untuk melahirkan lulusan dan penelitian yang mampu bersaing dalam industri dunia serta bermanfaat bagi kemajuan industri Indonesia. Pemahaman–pemahaman seperti ini sudah mengakar dalam sistem Pendidikan yang bobrok dengan dalih retorika pembangunan nasional.

Seperti inilah rangkaian – rangkaian dehumanisasi pendidikan di Indonesia yang hanya mengacu pada alasan “kapitalis” semata, padahal tujuan pendidikan jauh daripada itu seharusnya. Bahwa Pendidikan menjadikan “manusia” menjadi “manusia” bukanlah “manusia” menjadi “budak”.

Pendidik hanya melihat hasil dari pelajaran bukan melihat proses yang mencapai hasil tersebut. Akibatnya, siswa hanya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil yang sempurna dimata pendidiknya sehingga menghilangkan tujuan awal dia belajar pelajaran tersebut.

Nalar kritis siswa menjadi terpojokan dan tidak bisa berkembang kemana–mana begitupun kontruksi–kontruksi sosial yang dibangun didalamnya menjadi hancur tak bernyawa sehingga tidak bisa melihat kontradiksi – kontradiksi sosial masalah yang ada di dalam masyarakat serta menyelesaikan. Kapitalisme dan Industrialisasi menjadi tokoh antagonis yang menciptakan sistem bobrok seperti ini serta mengkerdilkan esensial Manusia yang hidup hanya untuk mengikuti alur kaderisasi budak ekonomi.

Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, sebuah sistem Pendidikan yang berkedok kapitalisme sudah menjadi masalah kultural di Indonesia, walaupun terdengar utopis tetapi kita harus mampu mengkritik pendidikan – pendidikan kapitalisme yang terjadi sekarang ini melalui kontra narasi – narasi dari pendidikan kapitalis yang kita bangun. Sehingga kita bisa membuka mata dunia terutama Indonesia bahwa pendidikan saat ini melahirkan generasi yang ‘diam’ serta ‘bungkam’. Pendidikan yang perlahan memenjarakan dan jauh dari kebebasan.

Fakhri Furqoni
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi FIS UNJ
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

McDonalds dan “The BTS Meal”

Belum lama ini, perusahaan ternama di dunia yaitu McDonalds (Mcd) mengeluarkan menu terbarunya, yakni “The BTS Meal” yang terdiri dari Mc Chicken Nugget, French...

Kenapa Kuliah Gratis?

Buku dan pena adalah senjata terbaik melawan kemiskinan ~ Malala Yousafzai Memberi bekal dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan adalah cara terbaik menolong orang untuk keluar...

Buya Syafii Maarif, Harapan Terus Ada

Siapa yang tidak tahu Buya Ahmad Syafii Maarif ini. Tokoh Muhammadiyah dan tokoh nasional penting yang masih tersisa pada zaman ini. Mestinya, orang seperti...

Menakar Komunikasi Persuasi Pemerintah dalam Menghadapi Pandemi

Pada awal tahun 2020, pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa virus baru yaitu coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) dan penyakitnya disebut coronavirus disease 2019 (Covid-19) masuk...

BTS Meals dan Cerita Kuatnya Soft Power

BTS Meal merupakan sebuah menu paket makanan hasil kolaborasi antara salah satu franchise makanan cepat saji besar di dunia yakni McDonald's atau biasa dikenal...

ARTIKEL TERPOPULER